Informasi tentang siksa kubur, gelap dan kesendirian dan dahsyatnya siksa kubur kerap menakutiku ketika kecil dulu (dan sampai sekarang). Apalagi juga televisi kita dan majalah Hidayah, gemar benar mengvisualkan hal-hal ini. Meskipun tidak suka, dan cenderung saya punya pandangan nggak begitu. Namun juga tidak punya cukup pengetahuan untuk menolak.
Kadang terbersit pertanyaan, apakah benar disiksa di alam kubur?, sedangkan proses peradilan belum dilakukan?.
“Sesungguhnya seorang mukmin jika akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat (akan mati), turun padanya malaikat yang putih-putih wajahnya bagaikan matahari, membawa kafan dari syurga, maka duduk di depannya sejauh pandangan mata mengelilinginya, kemudian datang malaikulmaut dan duduk didekat kepalanya dan memanggil: “Wahai roh yang tenang baik, keluarlah menuju pengampunan Allah dan ridhaNya.”
Berikut ini beberapa Al Qur’an (terj. depag Ind.), yang menurut saya menjelaskan apa yang terjadi dalam alam kubur :
80 :21. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
80:22. kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
70:43. (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia),
60:13. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam berputus asa.
36:52. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?.” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).
30 :22. dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.
30:55. Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak berdiam (dalam kubur melainkan sesaat (saja).” Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran)
22:7. dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.
Berikut ini saya copy pastekan (link asli tidak ketemu, http://virtualfriends.net/article/)
sekedar untuk membandingkan dengan ayat-ayat di atas, apakah penjelasan tentang kedahsyatan siksa kubur itu sesuai dengan ayat di atas atau tidak?
KEDAHSYATAN SIKSAAN DIALAM KUBUR
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Albaraa’ bin Aazib r.a. berkata: “Kami bersama Nabi Muhammad s.a.w keluar menghantar jenazah seorang sahabat Anshar, maka ketika sampai kekubur dan belum dimasukkan dalam lahad, Nabi Muhammad s.a.w duduk dan kami duduk disekitarnya diam menundukkan kepala bagaikan ada burung diatas kepala kami, sedang Nabi Muhammad s.a.w mengorek-ngorek dengan dahan yang ada ditangannya, kemudian ia mengangkat kepala sambil bersabda: “Berlindunglah kamu kepada Allah dari siksaan kubur.”. Nabi Muhammad s.a.w mengulangi sebanyak 3 kali.” Lalu Nabi Muhammad s.a.w bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin jika akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat (akan mati), turun padanya malaikat yang putih-putih wajahnya bagaikan matahari, membawa kafan dari syurga, maka duduk didepannya sejauh pandangan mata mengelilinginya, kemudian datang malaikulmaut dan duduk didekat kepalanya dan memanggil: “Wahai roh yang tenang baik, keluarlah menuju pengampunan Allah dan ridhaNya.”
Nabi Muhammad s.a.w bersabda lagi: “Maka keluarlah rohnya mengalir bagaikan titisan dari mulut kendi tempat air, maka langsung diterima dan langsung dimasukkan dalam kafan dan dibawa keluar semerbak harum bagaikan kasturi yang terharum di atas bumi, lalu dibawa naik, maka tidak melalui rombongan malaikat melainkan ditanya: “Roh siapakah yang harum ini?” Dijawab: “Roh fulan bin fulan sehingga sampai ke langit, dan di sana dibukakan pintu langit dan disambut oleh penduduknya dan pada tiap-tiap langit dihantar oleh Malaikat Muqarrbun, dibawa naik kelangit yang atas hingga sampai kelangit ke tujuh, maka Allah berfirman: “Catatlah suratnya di illiyyin. Kemudian dikembalikan ia ke bumi, sebab daripadanya Kami jadikan, dan di dalamnya Aku kembalikan dan daripadanya pula akan Aku keluarkan pada saatnya.” Maka kembalilah roh kejasad dalam kubur, kemudian datang kepadanya dua Malaikat untuk bertanya: “Siapa Tuhanmu?” Maka dijawab: Allah Tuhanku. Lalu ditanya: “Apakah agamamu?” Maka dijawab: “Agamaku Islam” Ditanya lagi: “Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang diutuskan di tengah-tengah kamu?” Dijawab: “Dia utusan Allah”. Lalu ditanya: “Bagaimanakah kamu mengetahui itu?” Maka dijawab: “Saya membaca kitab Allah lalu percaya dan membenarkannya” Maka terdengar suara: “Benar hambaku, maka berikan padanya hamparan dari syurga serta pakaian syurga dan bukakan untuknya pintu yang menuju kesyurga, supaya ia mendapat bau syurga dan hawa syurga, lalu luaskan kuburnya sepanjang pandangan mata.” Kemudian datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya dan harum baunya sambil berkata: “Terimalah khabar gembira, ini saat yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Lalu bertanya: “Siapakah kau?” Jawabnya: “Saya amalmu yang baik.” Lalu ia berkata: Ya Tuhan, segerakan hari kiamat supaya segera saya bertemu dengan keluargaku dan kawan-kawanku.”
Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Adapun hamba yang kafir, jika akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat, maka turun kepadanya Malaikat dari langit yang hitam mukanya dengan pakaian hitam, lalu duduk dimukanya sepanjang pandangan mata, kemudian datang Malaikulmaut dan duduk disamping kepalanya lalu berkata: “Hai roh yang jahat, keluarlah menuju murka Allah.” Maka tersebar di semua anggota badannya, maka dicabut rohnya bagaikan mencabut besi dari bulu yang basah, maka terputus semua urat dan ototnya, lalu diterima akan dimasukkan dalam kain hitam, dan dibawa dengan bau yang sangat busuk bagaikan bangkai, dan dibawa naik, maka tidak melalui malaikat melainkan ditanya: “Roh siapakah yang jahat dan busuk itu?” Dijawab: “Roh fulan bin fulan.” dengan sebutan yang amat jelek sehingga sampai dilangit dunia, maka minta dibuka, tetapi tidak dibuka untuknya. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w membaca ayat: “Laa tufattahu lahum abwabus samaa’i, wala yad khuluunal jannata hatta yalijal jamalu fisamil khiyaath.” (Yang Bermaksud) “Tidak dibukakan bagi mereka itu pintu-pintu langit dan tidak dapat masuk syurga sehingga unta dapat masuk dalam lubang jarum.”
Kemudian diperintahkan: “Tulislah orang itu dalam sijjin.” Kemudian dilemparkan rohnya itu bagitu sahaja sebagaimana ayat “Waman yusyrik billahi fakaan nama khorro minassama’i fatakh thofuhuth thairu au tahwi bihirrihu fimakaanin sahiiq.” (Yang bermaksud) “Dan siapa mempersekutukan Allah, maka bagaikan jatuh dari langit lalu disambar helang atau dilemparkan oleh angin kedalam jurang yang curam.”
Kemudian dikembalikan roh itu kedalam jasad didlam kubur, lalu didatangi oleh dua Malaikat yang mendudukkannya lalu bertanya: “”Siapa Tuhanmu?” Maka dijawab: “Saya tidak tahu”. Lalu ditanya: “Apakah agamamu?” Maka dijawab: “Saya tidak tahu” Ditanya lagi: “Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang diutuskan ditengah-tengah kamu?” Dijawab: “Saya tidak tahu”. Lalu ditanya: “Bagaimanakah kamu mengetahui itu?” Maka dijawab: “Saya tidak tahu” Maka terdengar suara seruan dari langit: “Dusta hambaku, hamparkan untuknya dari neraka dan bukakan baginya pintu neraka, maka terasa olehnya panas hawa neraka, dan disempitkan kuburnya sehingga terhimpit dan rosak tulang-tulang rusuknya, kemudian datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya dan busuk baunya sambil berkata: “Sambutlah hari yang sangat jelek bagimu, inilah saat yang telah diperingatkan oleh Allah kepadamu.” Lalu ia bertanya: “Siapakah kau?” Jawabnya: “Aku amalmu yang jelek.” Lalu ia berkata: “Ya tuhan, jangan percepatkan kiamat, ya Tuhan jangan percepatkan kiamat.”
Abul-Laits dengan sanadnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Seorang mukmin jika sakaratulmaut didatangi oleh Malaikat dengan membawa sutera yang berisi masik (kasturi) dan tangkai-tangkai bunga, lalu dicabut rohnya bagaikan mengambil rambut didalam adunan sambil dipanggil: “Ya ayyatuhannafsul muth ma’innatur ji’i ila robbiki rodhiyatan mardhiyah.” (Yang bermaksud) “Hai roh yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan perasaan rela dan diridhoi. Kembalilah dengan rahmat dan keridhoan Allah.” Maka jika telah keluar rohnya langsung ditaruh diatas misik dan bunga-bunga itu lalu dilipat dengan sutera dan dibawa keilliyyin. Adapun orang kafir jika sakaratulmaut didatangi oelh Malaikat yang membawa kain bulu yang didalamnya ada api, maka dicabut rohnya dengan kekerasan sambil dikatakan kepadanya: “Hai roh yang jahat keluarlah menuju murka Tuhammu ketempat yang rendah hina dan siksaNya, maka bila telah keluar rohnya itu, diletakkan diatas api dan bersuara seperti sesuatu yang mendidih kemudian dilipat dan dibawa kesijjin.”
Alfaqih Abu Ja’far meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar r.a. berkata: “Seorang mukmin jika diletakkan dikubur maka diperluaskan kuburnya itu hingga 70 hasta dan ditaburkan padanya bunga-bunga dan dihamparkan sutera, dan bila ia hafal sedikit dari al-quran sukup untuk penerangannya jika tidak maka Allah s.w.t. memberikan kepadanya nur cahaya penerangan yang menyerupai penerangan matahari, dan didalam kubur bagaikan pengantin baru, jika tidur maka tidak ada yang berani membangunkan kecuali kekasihnya sendiri, maka ia bangun dari tidur itu bagaikan masih kurang masa tidurnya dan belum puas. Adapun orang kafir maka akan dipersempit kuburnya sehingga menghancurkan tulang rusuknya dan masuk kedalam perutnya lalu dikirimkan kepadanya ular segemuk leher unta, maka makan dagingnya sehingga habis dan sisa tulang semata-mata, lalu dikirim kepadanya Malaikat yang akan menyiksa iaitu yang buta tuli dan bisu dengan membawa puntung dari besi yang langsung dipukulkannya, sedang Malaikat itu tidak mendengar suara jeritannya dan tidak melihat keadaannya supaya tidak dikasihaninya, selain itu lalu dihidangkan siksa neraka itu tiap pagi dan petang.”
Abu-Laits berkata: “Siapa yang ingin selamat dari siksaan kubur maka harus menlazimi empat dan meninggalkan empat iaitu:
- Menjaga sembahyang lima waktu
- Banyak bersedekah
- Banyak membaca al-quran
- Memperbanyak bertasbih (membaca: Subhanallah walhamdulillah wal’aa ilaha illallah wallahu akbar, walahaula wala quwata illa billah)
Semua yang empat ini dapat menerangi kubur dan meluaskannya. Adapun empat yang harus ditinggalkan ialah:
- Dusta
- Kianat
- Adu-adu
- Menjaga kencing, sebab Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda: “Bersih-bersihlah kamu daripada kencing, sebab umumnya siksa kubur itu kerana kencing. (Yakni hendaklah dicuci kemaluan sebersih-bersihnya.)
Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Innallahha ta’ala kariha lakum arba’a: Al’abatsu fishsholaati, wallagh wu filqira’ati, warrafatsu fisshiyami, wadhdhahiku indal maqaabiri. (Yang bermaksud) Sesungguhnya Allah tidak suka padamu empat, main-main dalam sembahyang dan lahgu (tidak hirau), dalam bacaan quran dan berkata keji waktu puasa dan tertawa didalam kubur.”
Muhammad bin Assammaak ketika melihat kubur berkata: “Kamu jangan tertipu kerana tenangnya dan diamnya kubur-kubur ini, maka alangkah banyaknya orang yang sudah bingung didalamnya, dan jangan tertipu kerana ratanya kubur ini, maka alangkah jauh berbeza antara yang satu pada yang lain didalamnya. Maka seharusnya orang yang berakal memperbanyak ingat pada kubur sebelum masuk kedalamnya.”
Sufyan Atstsauri berkata: “Siapa yang sering (banyak) memperingati kubur, maka akan mendapatkannya kebun dari kebun-kebun syurga, dan siapa yang melupakannya maka akan mendapatkannya jurang dari jurang-jurang api neraka.”
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata dalam khutbahnya: “Hai hamba Allah, berhati-hatilah kamu dari maut yang tidak dapat dihindari, jika kamu berada ditempat, ia datang mengambil kamu, dan bila kamu lari pasti akan terpegang juga, maut terikat selalu diubun-ubunmu, maka carilah jalan selamat, carilah jalan selamat dan segera-segera, sebab dibelakangmu ada yang mengejar kamu yaitu kubur, ingatlah bahawa kubur itu adakalanya kebun dari kebun-kebun syurga atau jurang dari jurang-jurang neraka dan kubur itu tiap-tiap hari berkata-kata: Akulah rumah yang gelap, akulah tempat sendirian, akulah rumah ulat-ulat.”
Ingatlah sesudah itu ada hari (saat) yang lebih ngeri, hari dimana anak kecil segera beruban dan orang tua bagaikan orang mabuk, bahkan ibu yang meneteki lupa terhadap bayinya dan wanita yang bunting menggugurkan kandungannya dan kau akan melihat orang-orang bagaikan orang mabuk tetapi tidak mabuk khamar, hanya siksa Allah s.w.t. yang sangat ngeri dan dahsyat.
Ingatlah bahawa sesudah itu ada api neraka yang sangat panas dan suram dalam, perhiasannya besi dan sirnya darah bercampur nanah, tidak ada rahmat Allah s.w.t. disana. Maka kaum muslimin yang menangis. lalu ia berkata: “Dan disamping itu ada syurga yang luasnya selebar langit dan bumi, tersedia untuk orang-orang yang takwa. Semoga Allah s.w.t. melindungi kami dari siksa yang pedih dan menempatkan kami dalam darunna’iem (Syurga yang serba kenikmatan).
Usaid bin Abdirrahman berkata: “Saya telah mendapat keterangan bahawa seorang mukmin jika mati dan diangkat, ia berkata: “Segerakan aku.”, dan bila telah dimasukkan dalam lahad (kubur), bumi berkata kepadanya: “Aku kasih padamu ketika diatas punggungku, dan kini lebih sayang kepadamu.” Dan bila orang kafir mati lalu diangkat mayatnya, ia berkata: “Kembalikan aku.” dan bila diletakkan didalam lahadnya, bumi berkata: “Aku sangat benci kepadamu ketika kau diatas punggungku, dan kini aku lebih benci lagi kepadamu.”
Usman bin Affan r.a. ketika berhenti diatas kubur, ia menangis, maka ditegur: “Engkau jika menyebut syurga dan neraka tidak menangis, tetapi kau menangis kerana kubur?” Jawabnya: “Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda: “Alqabru awwalu manazilil akhirah, fa in naja minhu fama ba’dahu aisaru minhu, wa in lam yanju minhu fama ba’dahu asyaddu minhu.” (Yang bermaksud) “Kubur itu pertama tempat yang menuju akhirat, maka bila selamat dalam kubur, maka yang di belakangnya lebih ringan, dan jika tidak selamat dalam kubur maka yang dibelakangnya lebih berat daripadanya.“
Kamis, 11 Februari 2010
ALAM KUBUR
Artikel tentang Gambaran Alam Kubur ini diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan kita.
MANUSIA di dunia ini ibarat musafir yang sedang dalam perjalanan lalu berehat di bawah sepohon pokok untuk melepaskan lelah dan berehat seketika sebelum meneruskan ke destinasi yang hendak dituju.
Perjalanan itu pula masih jauh dan terpaksa melalui pelbagai liku serta cabaran. Inilah gambaran matlamat sebenar hidup insan yang hendak dicapai. Pentas dunia hanya tempat untuk bercucuk tanam dengan amalan salih sebagai bekalan di akhirat nanti.
Sebelum manusia berpindah ke alam akhirat mereka akan menempuh satu alam dinamakan alam barzakh dan di sana mereka akan menjawab soalan ditujukan malaikat kepada mereka. Di sinilah penentu kejayaan di alam akhirat nanti sama ada manusia itu akan masuk ke syurga atau neraka.
Persoalan kubur termasuk dalam pokok keimanan terhadap alam ghaib seperti mana kita wajib percaya akan adanya syurga, neraka, malaikat dan hari kiamat. Dalam al-Quran dan hadis Rasulullah SAW yang sahih banyak diterangkan perkara di atas yang menuntut setiap orang meyakini adanya alam selepas kehidupan duniawi.
Ia dikenali dengan perkara ‘sam’iyat’ iaitu perkara yang hanya diketahui melalui perkhabaran, tidak dapat dilihat oleh mata dan tidak terfikir akal. Beriman kepada alam ghaib adalah ciri orang beriman.
Allah berfirman yang bermaksud: “Kitab al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (mengenai datangnya dari Allah dan tentang sempurnanya), ia pula menjadi petunjuk bagi orang yang beriman kepada perkara ghaib dan mendirikan solat serta membelanjakan sebahagian daripada rezeki yang kami berikan kepada mereka.”
Walaupun ada sesetengah agama mempercayai adanya kebangkitan selepas kematian di alam roh tetapi mereka menyeleweng daripada konsep dipegang Islam. Sebahagian lagi terus kufur dan menolak kerana mereka berdasarkan logik serta akal fikiran semata-mata, menganggap bahawa hidup hanya di atas dunia ini saja.
Golongan itu dijelaskan Allah dalam firman yang bermaksud:
“Dan tidakkah manusia fikirkan bahawa Kami jadikan dia dari setitik mani, tetapi tiba-tiba ia (jadi) pembantah yang nyata.” – (Surah Yasin, ayat 77)
Kesimpulan yang boleh dibuat manusia di dunia ini diklasifikasikan dalam tiga golongan iaitu mereka yang beriman dengan adanya alam ghaib melalui as-samiyat, percaya ada alam ghaib berdasarkan kepercayaan dan kufur dengan alam ghaib.
Kubur adalah perhentian pertama setelah seorang hamba itu meninggal dunia dan kemudian tempatkan di alam arwah sehingga hari kiamat. Di sinilah penentuan kebahagiaan kecelakaan yang abadi.
Hadis Abi Said mengatakan, Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Kubur itu adalah salah satu lubang neraka, atau salah satu taman syurga.”
Adapun arwah orang yang beriman akan sentiasa dalam rahmat dan peliharaan Allah tidak kira di mana mereka berada. Bagaimanakah seseorang itu akan menghadapi persoalan kubur?
Adapun roh orang yang beriman dijelaskan Allah dalam firman yang bermaksud:
“Setelah menerangkan akibat orang yang tidak menghiraukan akhirat, Tuhan menyatakan bahawa orang beriman dan beramal salih akan disambut dengan kata-kata: Wahai orang yang mempunyai jiwa yang sentiasa tenang tetap dengan kepercayaan dan bawaan baiknya, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan), lagi diredai (di sisi Tuhanmu). Serta masuklah dalam kumpulan hamba-Ku yang berbahagia, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” – (Surah al-Fajar, ayat 27-30)
Kemudian apabila seseorang hamba Allah meninggal dunia, selepas dikebumikan dan ditinggalkan kuburnya lalu datanglah dua malaikat iaitu Mungkar dan Nakir yang ditugaskan untuk menyoalnya.
Jika ia beriman dan beramal salih, maka diberikan taufik oleh Allah menjawab persoalan dengan mudah. Kemudian dibuka baginya pintu syurga dan diperlihatkan syurga ke atasnya dan berbahagialah dia sehingga hari kiamat.
Namun jika orang itu kafir atau munafik, mereka akan menjawab tidak tahu. Lalu akan menerima seksaan kubur yang dahsyat. Suara teriak mereka dapat didengar oleh makhluk lain kecuali manusia dan jin.
Menurut Syeikh Abdullah Al-Fattani dalam bukunya Kasful Qhummah, roh Nabi, syuhada, muttaqin, salihin akan diangkat oleh malaikat ke langit selepas selesai tanya jawab dengan malaikat Mungkar dan Nakir.
Kemudian di angkat ke langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ketujuh hingga ke Sidratul Muntaha dan di bawa ke Arasy Tuhan. Di sinilah mereka akan ditempatkan dan hidup dengan senang serta bahagia sehingga tiba hari kiamat.
Persoalan kubur tidak terkecuali bagi setiap orang yang meninggal dunia sama ada mereka mati di bumi, laut atau angkasa. Mengenai gambaran azab dan seksa kubur itu dalam pelbagai cara seperti dijelaskan ulama.
Bagaimanapun kita tidak banyak mengetahui rahsia alam roh melainkan apa yang diceritakan al-Quran dan hadis kerana ia adalah urusan Allah. Apabila seseorang berpindah ke alam baqa, bermakna terputuslah segala hubungan dan amalannya di dunia ini melainkan sedekah jariah, ilmu bermanfaat, anak soleh dan juga doa daripada kaum kerabatnya di dunia ini.
Riwayat daripada Ad-Dailami ada menyebut yang bermaksud: “Orang yang mati dalam kuburnya adalah seperti orang sedang tenggelam yang meminta pertolongan. Ia menunggu sampai kepadanya (rahmat) sesuatu doa daripada anaknya, atau saudaranya ataupun sahabat handainya. Apabila (rahmat) doa itu sampai kepadanya, maka tidaklah terkira sukacitanya dan dirasainya ‘rahmat doa itu’ lebih berharga daripada dunia dan segala isinya. Sebenarnya hadiah orang yang hidup kepada orang mati ialah doa dan istighfar.”
Alam sesudah mati ini memberi peringatan bahawa tidak selamanya kita akan kekal di muka bumi ini. Lambat laun kita juga mengikut jejak langkah mereka yang dulu menempuh alam barzakh. Semoga ia memberi keinsafan kepada kita untuk menyediakan bekalan terbaik untuk bekalan akhirat.
Oleh Masmawi Abdullah
Sumber :
http://nurjeehan.hadithuna.com/2008/11/alam-kubur-perhentian-sebelum-kehidupan-abadi-di-akhirat/
MANUSIA di dunia ini ibarat musafir yang sedang dalam perjalanan lalu berehat di bawah sepohon pokok untuk melepaskan lelah dan berehat seketika sebelum meneruskan ke destinasi yang hendak dituju.
Perjalanan itu pula masih jauh dan terpaksa melalui pelbagai liku serta cabaran. Inilah gambaran matlamat sebenar hidup insan yang hendak dicapai. Pentas dunia hanya tempat untuk bercucuk tanam dengan amalan salih sebagai bekalan di akhirat nanti.
Sebelum manusia berpindah ke alam akhirat mereka akan menempuh satu alam dinamakan alam barzakh dan di sana mereka akan menjawab soalan ditujukan malaikat kepada mereka. Di sinilah penentu kejayaan di alam akhirat nanti sama ada manusia itu akan masuk ke syurga atau neraka.
Persoalan kubur termasuk dalam pokok keimanan terhadap alam ghaib seperti mana kita wajib percaya akan adanya syurga, neraka, malaikat dan hari kiamat. Dalam al-Quran dan hadis Rasulullah SAW yang sahih banyak diterangkan perkara di atas yang menuntut setiap orang meyakini adanya alam selepas kehidupan duniawi.
Ia dikenali dengan perkara ‘sam’iyat’ iaitu perkara yang hanya diketahui melalui perkhabaran, tidak dapat dilihat oleh mata dan tidak terfikir akal. Beriman kepada alam ghaib adalah ciri orang beriman.
Allah berfirman yang bermaksud: “Kitab al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (mengenai datangnya dari Allah dan tentang sempurnanya), ia pula menjadi petunjuk bagi orang yang beriman kepada perkara ghaib dan mendirikan solat serta membelanjakan sebahagian daripada rezeki yang kami berikan kepada mereka.”
Walaupun ada sesetengah agama mempercayai adanya kebangkitan selepas kematian di alam roh tetapi mereka menyeleweng daripada konsep dipegang Islam. Sebahagian lagi terus kufur dan menolak kerana mereka berdasarkan logik serta akal fikiran semata-mata, menganggap bahawa hidup hanya di atas dunia ini saja.
Golongan itu dijelaskan Allah dalam firman yang bermaksud:
“Dan tidakkah manusia fikirkan bahawa Kami jadikan dia dari setitik mani, tetapi tiba-tiba ia (jadi) pembantah yang nyata.” – (Surah Yasin, ayat 77)
Kesimpulan yang boleh dibuat manusia di dunia ini diklasifikasikan dalam tiga golongan iaitu mereka yang beriman dengan adanya alam ghaib melalui as-samiyat, percaya ada alam ghaib berdasarkan kepercayaan dan kufur dengan alam ghaib.
Kubur adalah perhentian pertama setelah seorang hamba itu meninggal dunia dan kemudian tempatkan di alam arwah sehingga hari kiamat. Di sinilah penentuan kebahagiaan kecelakaan yang abadi.
Hadis Abi Said mengatakan, Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Kubur itu adalah salah satu lubang neraka, atau salah satu taman syurga.”
Adapun arwah orang yang beriman akan sentiasa dalam rahmat dan peliharaan Allah tidak kira di mana mereka berada. Bagaimanakah seseorang itu akan menghadapi persoalan kubur?
Adapun roh orang yang beriman dijelaskan Allah dalam firman yang bermaksud:
“Setelah menerangkan akibat orang yang tidak menghiraukan akhirat, Tuhan menyatakan bahawa orang beriman dan beramal salih akan disambut dengan kata-kata: Wahai orang yang mempunyai jiwa yang sentiasa tenang tetap dengan kepercayaan dan bawaan baiknya, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan), lagi diredai (di sisi Tuhanmu). Serta masuklah dalam kumpulan hamba-Ku yang berbahagia, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” – (Surah al-Fajar, ayat 27-30)
Kemudian apabila seseorang hamba Allah meninggal dunia, selepas dikebumikan dan ditinggalkan kuburnya lalu datanglah dua malaikat iaitu Mungkar dan Nakir yang ditugaskan untuk menyoalnya.
Jika ia beriman dan beramal salih, maka diberikan taufik oleh Allah menjawab persoalan dengan mudah. Kemudian dibuka baginya pintu syurga dan diperlihatkan syurga ke atasnya dan berbahagialah dia sehingga hari kiamat.
Namun jika orang itu kafir atau munafik, mereka akan menjawab tidak tahu. Lalu akan menerima seksaan kubur yang dahsyat. Suara teriak mereka dapat didengar oleh makhluk lain kecuali manusia dan jin.
Menurut Syeikh Abdullah Al-Fattani dalam bukunya Kasful Qhummah, roh Nabi, syuhada, muttaqin, salihin akan diangkat oleh malaikat ke langit selepas selesai tanya jawab dengan malaikat Mungkar dan Nakir.
Kemudian di angkat ke langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ketujuh hingga ke Sidratul Muntaha dan di bawa ke Arasy Tuhan. Di sinilah mereka akan ditempatkan dan hidup dengan senang serta bahagia sehingga tiba hari kiamat.
Persoalan kubur tidak terkecuali bagi setiap orang yang meninggal dunia sama ada mereka mati di bumi, laut atau angkasa. Mengenai gambaran azab dan seksa kubur itu dalam pelbagai cara seperti dijelaskan ulama.
Bagaimanapun kita tidak banyak mengetahui rahsia alam roh melainkan apa yang diceritakan al-Quran dan hadis kerana ia adalah urusan Allah. Apabila seseorang berpindah ke alam baqa, bermakna terputuslah segala hubungan dan amalannya di dunia ini melainkan sedekah jariah, ilmu bermanfaat, anak soleh dan juga doa daripada kaum kerabatnya di dunia ini.
Riwayat daripada Ad-Dailami ada menyebut yang bermaksud: “Orang yang mati dalam kuburnya adalah seperti orang sedang tenggelam yang meminta pertolongan. Ia menunggu sampai kepadanya (rahmat) sesuatu doa daripada anaknya, atau saudaranya ataupun sahabat handainya. Apabila (rahmat) doa itu sampai kepadanya, maka tidaklah terkira sukacitanya dan dirasainya ‘rahmat doa itu’ lebih berharga daripada dunia dan segala isinya. Sebenarnya hadiah orang yang hidup kepada orang mati ialah doa dan istighfar.”
Alam sesudah mati ini memberi peringatan bahawa tidak selamanya kita akan kekal di muka bumi ini. Lambat laun kita juga mengikut jejak langkah mereka yang dulu menempuh alam barzakh. Semoga ia memberi keinsafan kepada kita untuk menyediakan bekalan terbaik untuk bekalan akhirat.
Oleh Masmawi Abdullah
Sumber :
http://nurjeehan.hadithuna.com/2008/11/alam-kubur-perhentian-sebelum-kehidupan-abadi-di-akhirat/
Minggu, 07 Februari 2010
MENGUPAS KAROMAH AYAT KURSY (BAG. 2)
Nah, sebelum membahas lebih jauh, Penulis akan bedarkan terlebih dahulu dasar-dasar yang ada pada karomah Ayat Kursy, sehingga dengan pemahaman yang cukup jelas ini anda tidak akan ragu untuk mengamalkannya.
Dalam pandangan ahli kebathinan, Ayat Kursy disebut-sebut pula dengan istilah Ummul Ilmi atau induknya ilmu. Sedangkan menurut Ahli Hikmah menyebut Ayat Kursy sebagai Ummul Mahabbah atau inudknya pengasihan. Sedangkan yang terakhir menurut ahli mistik kejawen, mereka menyebut Ayat Kursy dengan istilah Segoro Ilmu atau lautnya ilmu.Memang, dengan banyaknya manfaat yang terkandung dalam ayat Al kursy, maka tidak heran bila sejak zaman dahulu kala hingga sekarang ini para ahli kebathinan berlomba ingin mendapatkan intisari kekuatannya. Namun bagaimanapun juga, Ilmu Ayatul kursy tidak mudah kita peroleh dangan hanya mengamalkan atau sekedar membacanya. Ilmu Ayatul Kursy ini punya sanad muttasil atau garis silsilah turun temurun yang tetap dijaga, sehingga dengan kemuttasilannya, Ilmu Ayatul Kursy menjadi salah satu ilmu paling mustajabah di muka bumi.
Berikut Penulis akan beberkan sanad atau silsilah turun temurun amalan Ayat Kursy yang sampai sekarang masih dilestarikan sehingga akan ada manfaat dan karomahnya.
Pertama kali amalan ini tercetus dari baginda Rasulullah SAW, lalu Beliau mengijazahkannya pada Nabiyullah KHidir AS. Khidir mengijazahkannya kepada tiga orang Quthbul Mutlak, yakni Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, Syeikh Abil Qosim Al Bagdadi, dan Syeikh Abu Hasan Assyadzili.
Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani mengijazahkan secara ruhaniyyah kepada Syeikh Syarief Hidayatulloh dan Mbah Kuwu Cakra Buana. Syeikh Syarif Hidayatulloh akhirnya mengijazahkan kepada putranya, Pangeran Cirebon.
Nah, dari sini silsilah amalan ini sempat putus dan baru ada setelah selang 154 tahun, yaitu dari Syeikh Abdul Baqir yang menerimanya lewat hawatif yang diberikan langsung oleh Sunan Gunung Jati Cirebon. Akhirnya, dari sinilah amalan ini turun temurun diijzahkan hingga sampai sekarang.
Penulis lanjutan lagi silsilah amalan Ayatul Kursy lewat Syeikh Abdul Baqir, dengan runutan sebagai berikut:
Syeikh Abdul Baqir-Syeihk Majegung Sekti-Syeikh Abdul Lathif-Kan’an bin Nawawi-Muhammad Suyuti- Ahmad Al Idrus-Kyai Bukhori-Kyai Martapada- kyai Jani Kusuma diningrat- Abah Thosin- Abah Inu- Abah Hud- Abah Ilyas-Kyai Burhan- Kyai Nawawi dan yang terakhir adalah Idris Nawawi (Penulis).
Namun, sebagai ta’dzim watahriman atau menghormati para ahlillah, Anda yang ingin melestarikan amalan ini tidak perlu semua pengijazah diatas dibaca, cukup memulai tawassul seperti berikut ini:
- Ila hadrotin nabiyyil musthofa rosulillahi SAW, Al Fatihah 1x.
- Tsumma ila hadroti ashabihi minal ambiya’i wal mursalin wa a khussu khossotan, ila hadrotin nabiyalloh ilal Abbasil Hidir Baliya bin Malkan As, waila hadroti syeikh Muhyiddin Abdul Qodir Al Jaelani Qoddasallohu sirrohuma wa ‘a’ada alaiya mimbarokatihima wakaromatihima wa ulumihima wamiddana bimada dadihima syaiun lillahi lahuma walahum Al Fatihah 3x.
- Tsumma ila hadroti syeikh Syarif Hidayatulloh, wambah Kuwu Cakra Buana, wakhodamus syarifah min ahli masjid agung Kesepuan Cirebon, Qoddasallohu sirrohuma wa ‘a’ada ‘alaiya mimbarokatihima wakaromatihima wa ulumihima wamiddana bimada dadihima syaiun lillahi lahum Al Fatihah 1x.
- Tsumma ila hadroti Abil Qosim Al Bagdadi, waila hadroti Abul Hasan Assyadili, wa Abul Abbas Al Jahri Baliya Bin malkan, waila hadroti syeikh Abdul Qodir Al Jaelani waila hadroti syeikh Syarif Hidayatulloh wambah Kuwu Cakara Buana, wa kyai Bukhori, syaiun lillahi lahum Al Fatihah 7x.
Setelah ini, baca ayat ursy dan sesudahnya berdoa seperti yang Penulis tulis sebelumnya.
Untuk pengamalan ayatul Kursy, paling baik dipuasai selama 41 hari dengan buka dan sahur bilaruhin (tidak makan yang bernyawa). Namun bila tidak kuat dalam melaksanakan puasa yang cukup lama ini, Anda bisa mengurangi puasanya dengan hitungan sebagai berikut: 41/ 31/ 21/ 17/ 11/ 9/ 7 hari. Terserah berapa hari yang Anda mampu dan inginkan. Disini tentunya kekuatan dari karomah yang ada akan bervariasi tergantung lamanya Anda berpuasa.
Tapi yang paling penting dan perlu diingat, berapapun lamanya Anda berpuasa, buka dan sahur harus dengan cara bilaruhin atau tidak makan yang bernyawa. Dan untuk bilangan ayatul Kursy yang harus Anda baca di setiap malam paling sempurna 333x. Tapi bila tidak kuat boleh dengan bilangan yang lebih rendah, yakni: 331x/ 221x/ 121x/ 77x.
Sedangkan doa yang harus dibaca, Anda boleh memilih banyak tidaknya tergantung dari keihlasan hati, yaitu boleh dibaca sebanyak 41x/ 31x/ 21x/ 11x.
Nah, sebagai kesempurnaan dalam melaksanakan ritual Ilmu Ayatul Kursy, amalanya ini harus selalu dibaca secara istikomah setiap pukul 23.00 atau lebih, sampai dengan selesainya puasa.
Bila anda sudah melakukan tirakat yang Penulis sebutkan tadi, Anda bisa buktikan langsung manfaatnya, terutama dalam hal pengasihan. Karena Penulis sendiri sejak tahun 1995 sudah digembleng oleh sang guru, yaitu diharuskan puasa Ilmu Ayatul Kursy selama 41 hari dan diulang sebanyak 3x = 123 hari. Namun sekali lagi Penulis katakan, bahwa kuat tidaknya ilmu ini tergantung dari lama tidaknya Anda berpuasa dan mengamalkannya.
Nah, bagi yang mengikuti puasa 41 hari serta mengamalkan paling banyak, coba buktikan sendiri. Hasilnya pasti luar biasa. Tanpa sadar kita akan bisa berhubungan langsung dengan para goib, bisa mengobati penyakit secara spontan, bisa meracik sarana pengasihan secara permanen, bisa mengisi gaman dan pusaka kapanpun kita mau, bisa mengambil pusaka tanpa harus gerak, dan yang paling mencengangkan dalam manfaat ilmu ini kita akan terus disukai lawan jenis di manapun kita berada.
Kini, semua tergantung para pengamal. Bila Anda sekalian mau mengikuti kesempurnaan dari tirakat yang sudah kami bedarkan di atas, maka Insya Allah hasilnya akan sangat bermanfaat.
Ilmu ini sangat langka dengan sanad atau silsilah lengkap yang keakuratannya masih sangat terjaga, baik dalam hal karomah maupun manfaat lainnya.
Sebagaimana kisah keberhasilan dari salah seorang tokoh pengijazah yang pernah dituliskan dalam biodatanya, yaitu sebuah sanjungan dari kidung Jawa yang dituliskan memakai huruf Arab. Tokoh dimaksud adalah Kyai Burhan, Godong, Demak Jateng (Alm). Dia banyak mengupas tentang kedahsyatan Ayatul Kursy, di antara salah satu tulisannya berbunyi demikian:
“ Ngerti ora ngerti kang pasti gerak ngelakoni, wujud ora ketoro yen ora ngumbeni ilmu, agung pisan ilmu ibu rugi kang akeh cangkem mlumah badan ora gerak. Sejatine ilmu agung kang dadi kedelok, sejatine ilmu wujud kang akeh nyoto keagungan, ora rugi ngumbe ilmu iki kang dadi akhir derajat mulyo ing dunya lan gon mati, ilmu kang kesifatan sempurnane alam, urip saking dadi lan mati saking males, godong ijo kang memantes ,kayu kuat kang dadi jogo, akar atos kang dadi pinguat, ora nana kang dadi sempurna kecuali neng jerone Ayatul Kursy, Ars kang dadi lambang paling duwur, saking keagungan kang maha agung.”
Kurang lebih artinya:
“Mengerti maupun tidak mengerti yang pasti kita harus bisa melaksanakan puasa dan tirakat ilmu Ayatul Kursy, karena bagaimanapun juga ilmu ini tidak akan bisa kita dirasakan apabila hanya berdiam diri, ilmu ini sangat agung sebagaimana ilmu bangsa uluhiyah/ raja, sesungguhnya sangat rugi bagi kita yang hanya mengumbar mulut tapi tidak mau melaksanakan arti tirakat, sejatinya ilmu agung pasti akan tampak segala karomah yang bisa kita perlihatkan secara nyata, sejatinya ilmu yang sangat mustajabah dengan segala keagungan yang bisa diwujudkan, sungguh tidak rugi memiliki ilmu ini dengan tirakat dan penebusan dari badan kita sendiri, sebab ilmu ini akan membawa derajat kita selamat dunya dan akherat, ilmu yang mempunyai sifat sempurna dari semua ilmu yang ada di alam buana, ilmu ini akan terus hidup kecuali bagi orang malas yang tidak mau melaksanakan penebusan puasa dan tirakat, ilmu yang menjadi kesempurnaan, ilmu yang menjadi tameng dari segala marabahaya, ilmu yang menjadi perisai paling kokoh dalam sanubari dan ruhaniyyah kita, karena sesungguhnya tidak ada yang sempurna kecuali karomah ayatul kursy, Ars yang menjadi nama dari ilmu ini dan Ars pula derajat tertinggi dari semua derajat, sesungguhnya ilmu ini sangat agung dari semua yang dianggap agung”
Dalam sejarah hidupnya, Kyai Burhan ini sangat terkenal sekali di kalangan sufi dan ahli taraket Jawa akan derajat kewaliyannya. Semasa hidupnya sang Kyai tidak pernah meninggalkan amalan Ayatul Kursy ini hingga akhir usia. Karena itulah almarhum diberi karomah oleh Allah SWT, lewat wasilah ilmu Ayatul Kursy hingga menjadi seorang yang memiliki kelebihan tinggi, diantaranya: Bisa menciptakan uang secara kontan, bisa merubah daun dan benda lainnya jadi emas, dan yang paling masyhur bisa mendatangkan batu merah delima dalam satu hari sebanyak 110 biji.
Disisi lain, sang Kyai juga terkenal dengan ketepatannya dalam berhitung, seperti saat dia menghitung jatuhnya dedaunan di seluruh wilayah Demak dalam kurun satu hari, waktu itu dengan 2004 personil yang dikerahkan untuk memungut daun yang jatuh sekaligus menghitungnya. Ternyata apa yang diucapkan oleh Kyai Burhan ini sangatlah tepat….
Kini terserah para Pembaca mau tidaknya menjalankan Ilmu Ayatul Kursy yang didalamnya sarat akan manfaat dan faedah. Bagi Anda yang bersungguh sungguh tentunya akan membawa suatu keberuntungan hidup yang lebih baik dikemudian hari. Semoga!
Dalam pandangan ahli kebathinan, Ayat Kursy disebut-sebut pula dengan istilah Ummul Ilmi atau induknya ilmu. Sedangkan menurut Ahli Hikmah menyebut Ayat Kursy sebagai Ummul Mahabbah atau inudknya pengasihan. Sedangkan yang terakhir menurut ahli mistik kejawen, mereka menyebut Ayat Kursy dengan istilah Segoro Ilmu atau lautnya ilmu.Memang, dengan banyaknya manfaat yang terkandung dalam ayat Al kursy, maka tidak heran bila sejak zaman dahulu kala hingga sekarang ini para ahli kebathinan berlomba ingin mendapatkan intisari kekuatannya. Namun bagaimanapun juga, Ilmu Ayatul kursy tidak mudah kita peroleh dangan hanya mengamalkan atau sekedar membacanya. Ilmu Ayatul Kursy ini punya sanad muttasil atau garis silsilah turun temurun yang tetap dijaga, sehingga dengan kemuttasilannya, Ilmu Ayatul Kursy menjadi salah satu ilmu paling mustajabah di muka bumi.
Berikut Penulis akan beberkan sanad atau silsilah turun temurun amalan Ayat Kursy yang sampai sekarang masih dilestarikan sehingga akan ada manfaat dan karomahnya.
Pertama kali amalan ini tercetus dari baginda Rasulullah SAW, lalu Beliau mengijazahkannya pada Nabiyullah KHidir AS. Khidir mengijazahkannya kepada tiga orang Quthbul Mutlak, yakni Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, Syeikh Abil Qosim Al Bagdadi, dan Syeikh Abu Hasan Assyadzili.
Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani mengijazahkan secara ruhaniyyah kepada Syeikh Syarief Hidayatulloh dan Mbah Kuwu Cakra Buana. Syeikh Syarif Hidayatulloh akhirnya mengijazahkan kepada putranya, Pangeran Cirebon.
Nah, dari sini silsilah amalan ini sempat putus dan baru ada setelah selang 154 tahun, yaitu dari Syeikh Abdul Baqir yang menerimanya lewat hawatif yang diberikan langsung oleh Sunan Gunung Jati Cirebon. Akhirnya, dari sinilah amalan ini turun temurun diijzahkan hingga sampai sekarang.
Penulis lanjutan lagi silsilah amalan Ayatul Kursy lewat Syeikh Abdul Baqir, dengan runutan sebagai berikut:
Syeikh Abdul Baqir-Syeihk Majegung Sekti-Syeikh Abdul Lathif-Kan’an bin Nawawi-Muhammad Suyuti- Ahmad Al Idrus-Kyai Bukhori-Kyai Martapada- kyai Jani Kusuma diningrat- Abah Thosin- Abah Inu- Abah Hud- Abah Ilyas-Kyai Burhan- Kyai Nawawi dan yang terakhir adalah Idris Nawawi (Penulis).
Namun, sebagai ta’dzim watahriman atau menghormati para ahlillah, Anda yang ingin melestarikan amalan ini tidak perlu semua pengijazah diatas dibaca, cukup memulai tawassul seperti berikut ini:
- Ila hadrotin nabiyyil musthofa rosulillahi SAW, Al Fatihah 1x.
- Tsumma ila hadroti ashabihi minal ambiya’i wal mursalin wa a khussu khossotan, ila hadrotin nabiyalloh ilal Abbasil Hidir Baliya bin Malkan As, waila hadroti syeikh Muhyiddin Abdul Qodir Al Jaelani Qoddasallohu sirrohuma wa ‘a’ada alaiya mimbarokatihima wakaromatihima wa ulumihima wamiddana bimada dadihima syaiun lillahi lahuma walahum Al Fatihah 3x.
- Tsumma ila hadroti syeikh Syarif Hidayatulloh, wambah Kuwu Cakra Buana, wakhodamus syarifah min ahli masjid agung Kesepuan Cirebon, Qoddasallohu sirrohuma wa ‘a’ada ‘alaiya mimbarokatihima wakaromatihima wa ulumihima wamiddana bimada dadihima syaiun lillahi lahum Al Fatihah 1x.
- Tsumma ila hadroti Abil Qosim Al Bagdadi, waila hadroti Abul Hasan Assyadili, wa Abul Abbas Al Jahri Baliya Bin malkan, waila hadroti syeikh Abdul Qodir Al Jaelani waila hadroti syeikh Syarif Hidayatulloh wambah Kuwu Cakara Buana, wa kyai Bukhori, syaiun lillahi lahum Al Fatihah 7x.
Setelah ini, baca ayat ursy dan sesudahnya berdoa seperti yang Penulis tulis sebelumnya.
Untuk pengamalan ayatul Kursy, paling baik dipuasai selama 41 hari dengan buka dan sahur bilaruhin (tidak makan yang bernyawa). Namun bila tidak kuat dalam melaksanakan puasa yang cukup lama ini, Anda bisa mengurangi puasanya dengan hitungan sebagai berikut: 41/ 31/ 21/ 17/ 11/ 9/ 7 hari. Terserah berapa hari yang Anda mampu dan inginkan. Disini tentunya kekuatan dari karomah yang ada akan bervariasi tergantung lamanya Anda berpuasa.
Tapi yang paling penting dan perlu diingat, berapapun lamanya Anda berpuasa, buka dan sahur harus dengan cara bilaruhin atau tidak makan yang bernyawa. Dan untuk bilangan ayatul Kursy yang harus Anda baca di setiap malam paling sempurna 333x. Tapi bila tidak kuat boleh dengan bilangan yang lebih rendah, yakni: 331x/ 221x/ 121x/ 77x.
Sedangkan doa yang harus dibaca, Anda boleh memilih banyak tidaknya tergantung dari keihlasan hati, yaitu boleh dibaca sebanyak 41x/ 31x/ 21x/ 11x.
Nah, sebagai kesempurnaan dalam melaksanakan ritual Ilmu Ayatul Kursy, amalanya ini harus selalu dibaca secara istikomah setiap pukul 23.00 atau lebih, sampai dengan selesainya puasa.
Bila anda sudah melakukan tirakat yang Penulis sebutkan tadi, Anda bisa buktikan langsung manfaatnya, terutama dalam hal pengasihan. Karena Penulis sendiri sejak tahun 1995 sudah digembleng oleh sang guru, yaitu diharuskan puasa Ilmu Ayatul Kursy selama 41 hari dan diulang sebanyak 3x = 123 hari. Namun sekali lagi Penulis katakan, bahwa kuat tidaknya ilmu ini tergantung dari lama tidaknya Anda berpuasa dan mengamalkannya.
Nah, bagi yang mengikuti puasa 41 hari serta mengamalkan paling banyak, coba buktikan sendiri. Hasilnya pasti luar biasa. Tanpa sadar kita akan bisa berhubungan langsung dengan para goib, bisa mengobati penyakit secara spontan, bisa meracik sarana pengasihan secara permanen, bisa mengisi gaman dan pusaka kapanpun kita mau, bisa mengambil pusaka tanpa harus gerak, dan yang paling mencengangkan dalam manfaat ilmu ini kita akan terus disukai lawan jenis di manapun kita berada.
Kini, semua tergantung para pengamal. Bila Anda sekalian mau mengikuti kesempurnaan dari tirakat yang sudah kami bedarkan di atas, maka Insya Allah hasilnya akan sangat bermanfaat.
Ilmu ini sangat langka dengan sanad atau silsilah lengkap yang keakuratannya masih sangat terjaga, baik dalam hal karomah maupun manfaat lainnya.
Sebagaimana kisah keberhasilan dari salah seorang tokoh pengijazah yang pernah dituliskan dalam biodatanya, yaitu sebuah sanjungan dari kidung Jawa yang dituliskan memakai huruf Arab. Tokoh dimaksud adalah Kyai Burhan, Godong, Demak Jateng (Alm). Dia banyak mengupas tentang kedahsyatan Ayatul Kursy, di antara salah satu tulisannya berbunyi demikian:
“ Ngerti ora ngerti kang pasti gerak ngelakoni, wujud ora ketoro yen ora ngumbeni ilmu, agung pisan ilmu ibu rugi kang akeh cangkem mlumah badan ora gerak. Sejatine ilmu agung kang dadi kedelok, sejatine ilmu wujud kang akeh nyoto keagungan, ora rugi ngumbe ilmu iki kang dadi akhir derajat mulyo ing dunya lan gon mati, ilmu kang kesifatan sempurnane alam, urip saking dadi lan mati saking males, godong ijo kang memantes ,kayu kuat kang dadi jogo, akar atos kang dadi pinguat, ora nana kang dadi sempurna kecuali neng jerone Ayatul Kursy, Ars kang dadi lambang paling duwur, saking keagungan kang maha agung.”
Kurang lebih artinya:
“Mengerti maupun tidak mengerti yang pasti kita harus bisa melaksanakan puasa dan tirakat ilmu Ayatul Kursy, karena bagaimanapun juga ilmu ini tidak akan bisa kita dirasakan apabila hanya berdiam diri, ilmu ini sangat agung sebagaimana ilmu bangsa uluhiyah/ raja, sesungguhnya sangat rugi bagi kita yang hanya mengumbar mulut tapi tidak mau melaksanakan arti tirakat, sejatinya ilmu agung pasti akan tampak segala karomah yang bisa kita perlihatkan secara nyata, sejatinya ilmu yang sangat mustajabah dengan segala keagungan yang bisa diwujudkan, sungguh tidak rugi memiliki ilmu ini dengan tirakat dan penebusan dari badan kita sendiri, sebab ilmu ini akan membawa derajat kita selamat dunya dan akherat, ilmu yang mempunyai sifat sempurna dari semua ilmu yang ada di alam buana, ilmu ini akan terus hidup kecuali bagi orang malas yang tidak mau melaksanakan penebusan puasa dan tirakat, ilmu yang menjadi kesempurnaan, ilmu yang menjadi tameng dari segala marabahaya, ilmu yang menjadi perisai paling kokoh dalam sanubari dan ruhaniyyah kita, karena sesungguhnya tidak ada yang sempurna kecuali karomah ayatul kursy, Ars yang menjadi nama dari ilmu ini dan Ars pula derajat tertinggi dari semua derajat, sesungguhnya ilmu ini sangat agung dari semua yang dianggap agung”
Dalam sejarah hidupnya, Kyai Burhan ini sangat terkenal sekali di kalangan sufi dan ahli taraket Jawa akan derajat kewaliyannya. Semasa hidupnya sang Kyai tidak pernah meninggalkan amalan Ayatul Kursy ini hingga akhir usia. Karena itulah almarhum diberi karomah oleh Allah SWT, lewat wasilah ilmu Ayatul Kursy hingga menjadi seorang yang memiliki kelebihan tinggi, diantaranya: Bisa menciptakan uang secara kontan, bisa merubah daun dan benda lainnya jadi emas, dan yang paling masyhur bisa mendatangkan batu merah delima dalam satu hari sebanyak 110 biji.
Disisi lain, sang Kyai juga terkenal dengan ketepatannya dalam berhitung, seperti saat dia menghitung jatuhnya dedaunan di seluruh wilayah Demak dalam kurun satu hari, waktu itu dengan 2004 personil yang dikerahkan untuk memungut daun yang jatuh sekaligus menghitungnya. Ternyata apa yang diucapkan oleh Kyai Burhan ini sangatlah tepat….
Kini terserah para Pembaca mau tidaknya menjalankan Ilmu Ayatul Kursy yang didalamnya sarat akan manfaat dan faedah. Bagi Anda yang bersungguh sungguh tentunya akan membawa suatu keberuntungan hidup yang lebih baik dikemudian hari. Semoga!
MENGUPAS KAROMAH AYAT KURSY (1)
Ayat Kursy memiliki banyak keistimewaan. Dan sajian berikut ini mengupas tentang 10 karomahnya. Seperti apa rahasianya…?
Menurut kalangan ulama salaf, ayat Kursy merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam pencapaian derajat. Wilayah, karomah serta mu’jizatnya ansabul ilmi dengan suatu penafsiran, tidak ada ilmu lain yang menyamai akan rahmat serta salamnya. Karena ayatul Kursy tercipta sebagai suatu puncaknya alam, yaitu Arsy (langit ketujuh) dan sebagai ilmu teragung. Yang mana, Allah SWT menurunkannya pada seorang hamba yang agung pula, yaitu utusan akhiru zaman, Rasulullah Muhammad SAW.
Dari zaman ke zaman, ayatul Kursyi selalu dibaca oleh seluruh umat, misalnya dalam suatu tadarus Al-Qur’an, dzikir bersama, serta dalam upaya pendekatan diri kepada sang Khaliq. Dalam sebuah arti ritual, asma ayatul Kursy mempunyai suatu kunci sebagai pembukanya. Demikian menurut para masyaikh, mursyid serta para ahlul ghoib.Sebagai kunci ayatul Kursyi, adalah sanadnya, atau silsilah, tawassul serta hadoroh, karena dari Nabiyullah Muhammad SAW, ayatul Kursyi turun temurun dipegang oleh para khosois pilihannya. Hingga suatu karomah ilmu tersebut, tak pernah pupus sampai akhir zaman.
Runtutan ilmu ayatul Kursyi adalah sebagai berikut :
1. Tawasul,
2. Ayat Kursy,
3. Do’a,
Allohumma inni as’aluka bihakikal adzim,
Wabihakki nuri wajhikal karim,
Wabihakki hadzihil ayatis syarifah,
Wabihaibati hadzihil ayatis syarifah,
Wabi Manzilati hadzihil ayatis syarifah,
Wabifadli hadzihil ayatis syarifah
(antul himani ilman ladunian nafi’an waddunya wal akhiroh),
Inaka ala kulli syai’in qodir, wabil ijabati jadir. Wasolloha wasalam ala khoiri khol kihi muhammadin wa’ala alihi wasoh bihi wasallam walahamdulillahi robil ‘alamin.
Dalam suatu amaliyah, ilmu ayatul Kursyi terbagi menjadi 5, yaitu: 7 hari, 17 hari, 21 hari, 31 hari, dan 41 hari. Semua itu tergantung dari niatan dan keikhlasan dari seorang ritualis itu sendiri di dalam memilih arti tirakat di atas. Dan sebagai suatu kuncinya, maka, siapkanlah terlebih dahulu Buhur Ambar.
Karena buhur tersebut aroma wanginya sangat disukai oleh Naibiyullah Muhammad SAW, tak pelak, secara turun temurun buhur tersebut selalu dipakai para khosois ahli batin sebagai salah satu syarat dan sunnatur rosul.
Adapun Ayatul Kursy sendiri memiliki 10 macam keistimewaan, yakni:
1. Sarana pengasihan diri
Jika menginginkan suatu “raja asihan” ratu pelet jagat buana, baiknya lakukan dengan puasa BILA RUHIN (tanpa makan yang bernyawa) selama 7 hari atau 17 hari lamanya. Dan untuk menjadi “raja asihan” maka lakukanlah tata cara sebagai berikut;
- Sebelum melaksanakan ritual di atas, sebaiknya sholat hajat terlebih dahulu dua rakaat. Dan sesudahnya bakar buhur ambar sebagai suatu syarat sunnatur rosul.
- Baca tawasul terlebih dahulu. Baru kemudian baca ayatul Kursy sebanyak 41x diteruskan dengan doanya sebanyak 21x
- Setelah selesai ritual, bakar buhur ambar kembali, dan asapi kedua telapak tangan diatasnya sekitar 1 menit kemudian sapukan kedua telapak tangan tersebut ke wajah. Tentunya, cara ini sebagai suatu sarana magis pembuka aura ketampanan maupun kecantikan.
- Paling baik ritual dilakukan pada pukul 23.00.
2 . Ilmu pelet jarak jauh
Panah asmara bisa dibuktikan secara langsung hasilnya dengan ketentuan sebagai berikut:
Carilah daun nangka tunggal, tegasnya, daun yang hanya satu helai di dalam satu tangkai. Biasanya, daun jenis ini banyak terdapat pada tangkai buah nangka yang sudah tua atau akan matang serta berwarna agak menguning. Carilah daun itu sebanyak mungkin hingga sebuah ritual maha dahsyat pun siap dilaksanakan;
- Tulis nama lengkap orang yang akan dituju berikut nama orang tuanya di atas daun nangka tersebut.
- Bakarlah buhur ambar, dan asapilah daun nangka tersebut sambil dibolak-balik sekitar 1 menit.
- Bacalah tawassul terlebih dahulu, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 121 x, lalu ditutup dengan doa sebanyak 41x.
Untuk pembuktian terkena atau tidaknya sasaran yang dituju, maka, celupkan daun nangka yang sudah dirituali ke minyak tanah, solar, atau bensin. Kemudian bakar! Jika daun terbakar habis, maka, ilmu pelet itu belum mengenai sasarannya. Tapi, bila hanya terbakar separuh, itu pertanda ilmu pelet telah mengenai sasarannya.
3 . Untuk media penyembuhan
Ambillah satu botol air mineral dengan tata cara sebagai berikut :
- Bakar buhur ambar
- Peganglah botol air mineral dengan kedua tangan.
- Bacalah sanad atau tawassul terlebih dahulu. Lalu mohonkan suatu kesembuhan pada sang Kholiq secara tulus dan ikhlas.
- Bacalah ayatul Kursy berulang-ulang, sambil pikiran terfokus pada air mineral tersebut sampai adanya suatu perubahan. Dengan kata lain, kita akan merasakan suatu hawa dingin pada air mineral yang kita pegang. Seolah air tersebut diberi es di dalamnya. Bila sudah begitu, maka, teruskan dengan membaca do’a sebanyak 3x.
4 . Memperlancar rizqi
Coba ikuti kiat berikut ini:
- Setiap usai sholat fardhu dawamkanlah ayatul Kursy.
- Tawassul (seikhlasnya) ayatul Kursy 11x dan doanya 7x, lakukan cara tersebut setiap hari. Insya Allah, suatu kerezekian maha dahsyat akan mengiringi hidup Anda.
5 . Zimat pagar ghoib
Pagarlah rumah atau tempat usaha Anda dengan sarana magis ayatul Kursy. Dengan cara sebagai berikut :
- Tulislah dalam sehelai kertas, dari tawassul ayatul Kursy hingga sampai kedoanya dengan tinta ja’faron super, dan tempelkan di atas pintu rumah. Niscaya akan aman dari marabahaya bersifat hitam.
6 . Azimat kerezekian
Sebagai penarik rizki 4 penjuru mata angina. Lakukan cara seperti No. 5 di atas. Dan masukkan azimat tersebut pada laci uang di toko/warung Anda. Insya Allah, suatu keberuntungan akan selalu menyertai.
7 . Sarana kecerdasan akal
- Ambil kemenyan Arab putih sebesar kuku anak-anak, masukkan kemenyan tersebut pada air susu panas.
- Bakar buhur ambar, lalu bacalah tawassul sebagai suatu kunci, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy 3x, serta doanya 3x.
8 . Sarana penarik mimpi
Bagi muda-mudi yang sedang dilanda asmara, tentunya amatl ingin bila sang pujaan hati selalu memimpikan kita. Dan semua itu bisa terlaksana dengan suatu kiat sebagai berikut :
- Ambil satu daun sirih (langsung dipetik dari pohonnya), kemudian tulis nama yang akan dituju berikut nama kita sendiri di atas daun sirih tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapi daun sirih magis tersebut.
- Baca tawassul, lalu ayatul Kursy sebanyak 17x ditutup dengan doa sebanyak 7x. Setelah selesai letakkan daun sirih magis itu di bawah bantal untuk ditiduri. Niscaya, dalam hitungan jam, sang pujaan hati pun akan memimpikan kita.
9 . Selamat dari suatu masalah
- Ambil garam kasar yang masih murni, masukkan dalam segelas air putih. Kemudian tulis nama-nama orang yang bermasalah dengan kita, dan masukkan ke dalam air garam tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapilah air garam di atasnya sekitar menit.
- Baca tawassul seikhlasnya, lalu diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 21x, kemudian doa 11x.
- Buang air garam tersebut di depan pintu rumah kita. Niscaya orang yang punya masalah akan enggan atau malas menagihnya.
10. Sebagai sarana pengisian benda bertuah
Untuk spirituallis ilmu ayatul Kursy yang menginginkan suatu pengisian kedigjayaan ataupun lainnya, ada baiknya mengikuti cara sebagai berikut :
- Puasa bila ruhin (tanpa makan yang bernyawa) selama 17 hari.
- Setiap jam 23.00, sholat hajat 2 rakaat, sesudahnya bakar buhur ambar sebagai sarana dan sunnaturrosul.
- Baca tawassul seikhlasnya. Lalu baca ayatul Kursy sebanyak 121x, dan doanya sebanyak 41x, lakukan cara seperti di atas selama 17 malam berturut-turut.
- Sebagai sarana pengisian atau yang ingin diisi, ambil batu akik, kulit kijang, macan, gaman, dan lain sebagainya.
- Bakar buhur ambar dan asapi benda yang akan kita isi di atasnya + 5 menit, lalu masukkan benda tersebut pada segelas air putih.
- Baca ritual seperti diatas dengan hitungan ayatul Kursy sebanyak 21x dan doanya 11x, bila sampai di (….) hilangkan kalimat di dalamnya, diganti dengan tujuan pengisian.
Untuk membuktikan masuk atau tidaknya suatu pengisian, maka, lakukan cara sebagai berikut :
- Ambil benda yang sudah diisi. Lalu carilah kamar kosong dan tutup pintu kamar tersebut.
- Untuk penerangan, cukup nyalakan sebatang lilin dan letakkan di lantai.
- Mulailah duduk bersila + 1 meter dari nyala lilin.
- Fokuskan mata kita ke api lilin + 30 menit. Pada saat ini, mata jangan sekali-kali terpejam. Bila waktu sudah dianggap cukup, ambil benda yang barusan diisi dan tatap seperti halnya waktu menatap api lilin tadi. Bila benda tersebut memendarkan cahaya berkunang-kunang dan mempunyai warna hijau, kuning, putih, hitam maupun merah, semua itu sudah menandakan isian yang tadi dilakukan sudah masuk ke dalamnya. Dan itulah yang disebut dengan isian PAMOR MAGIS.
Demikianlah 10 keutamaan ayat Kursy menurut yang pernah penulis pelajari dari beberapa orang guru. Karena alasan teknis, memang ada beberapa bagian yang terpaksa penulis tidak beberkan dalam sajian ini. Semoga bermanfaat.
Menurut kalangan ulama salaf, ayat Kursy merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam pencapaian derajat. Wilayah, karomah serta mu’jizatnya ansabul ilmi dengan suatu penafsiran, tidak ada ilmu lain yang menyamai akan rahmat serta salamnya. Karena ayatul Kursy tercipta sebagai suatu puncaknya alam, yaitu Arsy (langit ketujuh) dan sebagai ilmu teragung. Yang mana, Allah SWT menurunkannya pada seorang hamba yang agung pula, yaitu utusan akhiru zaman, Rasulullah Muhammad SAW.
Dari zaman ke zaman, ayatul Kursyi selalu dibaca oleh seluruh umat, misalnya dalam suatu tadarus Al-Qur’an, dzikir bersama, serta dalam upaya pendekatan diri kepada sang Khaliq. Dalam sebuah arti ritual, asma ayatul Kursy mempunyai suatu kunci sebagai pembukanya. Demikian menurut para masyaikh, mursyid serta para ahlul ghoib.Sebagai kunci ayatul Kursyi, adalah sanadnya, atau silsilah, tawassul serta hadoroh, karena dari Nabiyullah Muhammad SAW, ayatul Kursyi turun temurun dipegang oleh para khosois pilihannya. Hingga suatu karomah ilmu tersebut, tak pernah pupus sampai akhir zaman.
Runtutan ilmu ayatul Kursyi adalah sebagai berikut :
1. Tawasul,
2. Ayat Kursy,
3. Do’a,
Allohumma inni as’aluka bihakikal adzim,
Wabihakki nuri wajhikal karim,
Wabihakki hadzihil ayatis syarifah,
Wabihaibati hadzihil ayatis syarifah,
Wabi Manzilati hadzihil ayatis syarifah,
Wabifadli hadzihil ayatis syarifah
(antul himani ilman ladunian nafi’an waddunya wal akhiroh),
Inaka ala kulli syai’in qodir, wabil ijabati jadir. Wasolloha wasalam ala khoiri khol kihi muhammadin wa’ala alihi wasoh bihi wasallam walahamdulillahi robil ‘alamin.
Dalam suatu amaliyah, ilmu ayatul Kursyi terbagi menjadi 5, yaitu: 7 hari, 17 hari, 21 hari, 31 hari, dan 41 hari. Semua itu tergantung dari niatan dan keikhlasan dari seorang ritualis itu sendiri di dalam memilih arti tirakat di atas. Dan sebagai suatu kuncinya, maka, siapkanlah terlebih dahulu Buhur Ambar.
Karena buhur tersebut aroma wanginya sangat disukai oleh Naibiyullah Muhammad SAW, tak pelak, secara turun temurun buhur tersebut selalu dipakai para khosois ahli batin sebagai salah satu syarat dan sunnatur rosul.
Adapun Ayatul Kursy sendiri memiliki 10 macam keistimewaan, yakni:
1. Sarana pengasihan diri
Jika menginginkan suatu “raja asihan” ratu pelet jagat buana, baiknya lakukan dengan puasa BILA RUHIN (tanpa makan yang bernyawa) selama 7 hari atau 17 hari lamanya. Dan untuk menjadi “raja asihan” maka lakukanlah tata cara sebagai berikut;
- Sebelum melaksanakan ritual di atas, sebaiknya sholat hajat terlebih dahulu dua rakaat. Dan sesudahnya bakar buhur ambar sebagai suatu syarat sunnatur rosul.
- Baca tawasul terlebih dahulu. Baru kemudian baca ayatul Kursy sebanyak 41x diteruskan dengan doanya sebanyak 21x
- Setelah selesai ritual, bakar buhur ambar kembali, dan asapi kedua telapak tangan diatasnya sekitar 1 menit kemudian sapukan kedua telapak tangan tersebut ke wajah. Tentunya, cara ini sebagai suatu sarana magis pembuka aura ketampanan maupun kecantikan.
- Paling baik ritual dilakukan pada pukul 23.00.
2 . Ilmu pelet jarak jauh
Panah asmara bisa dibuktikan secara langsung hasilnya dengan ketentuan sebagai berikut:
Carilah daun nangka tunggal, tegasnya, daun yang hanya satu helai di dalam satu tangkai. Biasanya, daun jenis ini banyak terdapat pada tangkai buah nangka yang sudah tua atau akan matang serta berwarna agak menguning. Carilah daun itu sebanyak mungkin hingga sebuah ritual maha dahsyat pun siap dilaksanakan;
- Tulis nama lengkap orang yang akan dituju berikut nama orang tuanya di atas daun nangka tersebut.
- Bakarlah buhur ambar, dan asapilah daun nangka tersebut sambil dibolak-balik sekitar 1 menit.
- Bacalah tawassul terlebih dahulu, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 121 x, lalu ditutup dengan doa sebanyak 41x.
Untuk pembuktian terkena atau tidaknya sasaran yang dituju, maka, celupkan daun nangka yang sudah dirituali ke minyak tanah, solar, atau bensin. Kemudian bakar! Jika daun terbakar habis, maka, ilmu pelet itu belum mengenai sasarannya. Tapi, bila hanya terbakar separuh, itu pertanda ilmu pelet telah mengenai sasarannya.
3 . Untuk media penyembuhan
Ambillah satu botol air mineral dengan tata cara sebagai berikut :
- Bakar buhur ambar
- Peganglah botol air mineral dengan kedua tangan.
- Bacalah sanad atau tawassul terlebih dahulu. Lalu mohonkan suatu kesembuhan pada sang Kholiq secara tulus dan ikhlas.
- Bacalah ayatul Kursy berulang-ulang, sambil pikiran terfokus pada air mineral tersebut sampai adanya suatu perubahan. Dengan kata lain, kita akan merasakan suatu hawa dingin pada air mineral yang kita pegang. Seolah air tersebut diberi es di dalamnya. Bila sudah begitu, maka, teruskan dengan membaca do’a sebanyak 3x.
4 . Memperlancar rizqi
Coba ikuti kiat berikut ini:
- Setiap usai sholat fardhu dawamkanlah ayatul Kursy.
- Tawassul (seikhlasnya) ayatul Kursy 11x dan doanya 7x, lakukan cara tersebut setiap hari. Insya Allah, suatu kerezekian maha dahsyat akan mengiringi hidup Anda.
5 . Zimat pagar ghoib
Pagarlah rumah atau tempat usaha Anda dengan sarana magis ayatul Kursy. Dengan cara sebagai berikut :
- Tulislah dalam sehelai kertas, dari tawassul ayatul Kursy hingga sampai kedoanya dengan tinta ja’faron super, dan tempelkan di atas pintu rumah. Niscaya akan aman dari marabahaya bersifat hitam.
6 . Azimat kerezekian
Sebagai penarik rizki 4 penjuru mata angina. Lakukan cara seperti No. 5 di atas. Dan masukkan azimat tersebut pada laci uang di toko/warung Anda. Insya Allah, suatu keberuntungan akan selalu menyertai.
7 . Sarana kecerdasan akal
- Ambil kemenyan Arab putih sebesar kuku anak-anak, masukkan kemenyan tersebut pada air susu panas.
- Bakar buhur ambar, lalu bacalah tawassul sebagai suatu kunci, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy 3x, serta doanya 3x.
8 . Sarana penarik mimpi
Bagi muda-mudi yang sedang dilanda asmara, tentunya amatl ingin bila sang pujaan hati selalu memimpikan kita. Dan semua itu bisa terlaksana dengan suatu kiat sebagai berikut :
- Ambil satu daun sirih (langsung dipetik dari pohonnya), kemudian tulis nama yang akan dituju berikut nama kita sendiri di atas daun sirih tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapi daun sirih magis tersebut.
- Baca tawassul, lalu ayatul Kursy sebanyak 17x ditutup dengan doa sebanyak 7x. Setelah selesai letakkan daun sirih magis itu di bawah bantal untuk ditiduri. Niscaya, dalam hitungan jam, sang pujaan hati pun akan memimpikan kita.
9 . Selamat dari suatu masalah
- Ambil garam kasar yang masih murni, masukkan dalam segelas air putih. Kemudian tulis nama-nama orang yang bermasalah dengan kita, dan masukkan ke dalam air garam tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapilah air garam di atasnya sekitar menit.
- Baca tawassul seikhlasnya, lalu diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 21x, kemudian doa 11x.
- Buang air garam tersebut di depan pintu rumah kita. Niscaya orang yang punya masalah akan enggan atau malas menagihnya.
10. Sebagai sarana pengisian benda bertuah
Untuk spirituallis ilmu ayatul Kursy yang menginginkan suatu pengisian kedigjayaan ataupun lainnya, ada baiknya mengikuti cara sebagai berikut :
- Puasa bila ruhin (tanpa makan yang bernyawa) selama 17 hari.
- Setiap jam 23.00, sholat hajat 2 rakaat, sesudahnya bakar buhur ambar sebagai sarana dan sunnaturrosul.
- Baca tawassul seikhlasnya. Lalu baca ayatul Kursy sebanyak 121x, dan doanya sebanyak 41x, lakukan cara seperti di atas selama 17 malam berturut-turut.
- Sebagai sarana pengisian atau yang ingin diisi, ambil batu akik, kulit kijang, macan, gaman, dan lain sebagainya.
- Bakar buhur ambar dan asapi benda yang akan kita isi di atasnya + 5 menit, lalu masukkan benda tersebut pada segelas air putih.
- Baca ritual seperti diatas dengan hitungan ayatul Kursy sebanyak 21x dan doanya 11x, bila sampai di (….) hilangkan kalimat di dalamnya, diganti dengan tujuan pengisian.
Untuk membuktikan masuk atau tidaknya suatu pengisian, maka, lakukan cara sebagai berikut :
- Ambil benda yang sudah diisi. Lalu carilah kamar kosong dan tutup pintu kamar tersebut.
- Untuk penerangan, cukup nyalakan sebatang lilin dan letakkan di lantai.
- Mulailah duduk bersila + 1 meter dari nyala lilin.
- Fokuskan mata kita ke api lilin + 30 menit. Pada saat ini, mata jangan sekali-kali terpejam. Bila waktu sudah dianggap cukup, ambil benda yang barusan diisi dan tatap seperti halnya waktu menatap api lilin tadi. Bila benda tersebut memendarkan cahaya berkunang-kunang dan mempunyai warna hijau, kuning, putih, hitam maupun merah, semua itu sudah menandakan isian yang tadi dilakukan sudah masuk ke dalamnya. Dan itulah yang disebut dengan isian PAMOR MAGIS.
Demikianlah 10 keutamaan ayat Kursy menurut yang pernah penulis pelajari dari beberapa orang guru. Karena alasan teknis, memang ada beberapa bagian yang terpaksa penulis tidak beberkan dalam sajian ini. Semoga bermanfaat.
TAHAPAN MENEMBUS DIMENSI ALAM JIN
Banyak orang yang ingin menembus alam jin, atau mengundang mereka. Ternyata, untuk mewujudkan impian ini bukanlah pekerjaan mudah. Ada tahapan-tahapan yang harus kita kuasai, sebelum kita memulai ritual memembus alam jin. Seperti apakah itu…?
Budaya hidup yang Hedonis yang menitikberatkan pada kepuasaan materi, pada akhirnya turut menggiring manusia untuk selalu mengedepankan rasionalitas dalam ukuran akal semata. Pemahaman ilmu batin atau keparanormalan menjadi terabaikan, sebab bidang ilmu ini dianggap tidaklah memenuhi ukuran aspek materialistik. Akibatnya, adat leluhur kian terkikis, bahkan cenderung dilupakan. Norma-norma ajaran nenek moyang, misalnya saja ajaran para Wali, sudah mulai pudar dan dianggap usang.
Seiring dengan terjadinya kecenderungan itu para ahli khoarik, pertapa dan ahli batin lainnya mulai sulit dicari. Hal ini memang seiring dengan perkembangan zaman yang lebih terfokus pada hal yang bersifat teknologi, iptek, ata sayen. Sementara aspek-aspek keilmuan di luar itu hanya dianggap takhyul, atau bahkan dongeng isapan jempol.Kendati demikian, sebentuk keyakinan masih tetap saja muncul di hati para pencari ilmu bersifat batiniah. Mereka masih punya rasa percaya diri untuk mencari suatu kemaslahatan tentang ilmu Allah SWT, dalam mengarungi kebesaranNya lewat kehidupan makhluk tak kasat mata.
Hanya saja dalam merilis ilmu supranatural di zaman sekarang memang tak semudah seperti yang kita bayangkan. Walau dalam kenyataannya banyak jasa paranormal yang memberikan layanan khusus seputar ilmu supranatural, namun semuanya lebih terfokus kearah produk jadi atau instan, bukan mengarah ke jalur olah batin yang pada intinyab mengajarkan bagaimana kita bisa dekat dengan mereka, para makhluk yang ada dalam di mensi lain.
Lewat pemahaman ahli Al-Hikmah, sesungguhnya di zaman melinium akhir seperti sekarang ini, amatlah sulit mencapai puncak keberhasilan dalam mengolah batin secara akurat. Mengapa? Sebab di samping kita hidup di era yang penuh akan godaan duniawi yang stiap saat selalu kita lihat dan begitu memikat, di sisi lainnya faktor penghayatan terhadap ilmu juga semakin kurang menunjang. Contoh kasus paling rumit sepeti susahnya mencari guru spiritual. Ditambah lagi sulit mencari tempat-tempat yang sepi dan tenang untuk berkhalwat, sebab kini hampir semua tempat sudah mulai ramai, sehingga ketenangan batin kita mudah terganggu karenanya.
Dalam hal keyakinan, semangat dan penghayatan dalam hal ilmu supranatural di masa kini semakin dangkal, bahkan cenderung dianggap remah. Padahal, inilah salah satu faktor penentu dalam menapaki ilmu bersifat kebatinan, yang pada akhirnya seringkali gagal di tengah jalan.
Sebagai suatu pemahaman, kunci dasar untuk bisa menguasai bermacam sifat supranatural terdiri dari tiga bagian, yaitu: semangat dan keyakinan, guru pembimbing, dan pengontrolan hati.
SEMANGAT DAN KEYAKINAN
Untuk memulai menjadi seorang suprantural, kita dituntut agar terus bersemangat secara alamiah tanpa ada perasaan terbebani maupun keterpaksaan. Makna semangat dan keyakinan ini terbagi menjadi dua hal, yakni yang keluar dari pikiran atau kemudian menjelma menjadi semangat, dan yang keluar dari sifat hati yang kemudian berwujud menjadi keyakinan.
Semangat yang berada dalam pikiran biasanya hanya ada di permukaan atau dzohir saja, dan seterusnya akan menjadi suatu kegagalan, jika hal ini tidak dilandasi dengan adanya keyakinan yang kuat dalam hati sanubari kita. Sebagai contoh, kita disuruh menjalankan puasa dan wiridan selama 7 hari berturut-turut. Jika kita hanya punya semangat tapi tidak punya keyakinan, maka kita akan ragu dan selanjutnya kegagalanlah yang kita hadapi. walnya kita memang bersemangat, namun setelah menjalani dua malam berturut-turut dan kelelahan serta kejenuhan mulai terasa, maka seketika pikiran kita menjadi kacau, rasa capek, malas, takut, lapar dan lain sebagainya akan mudah mempengaruhi organ tubuh kita sehingga niat membatalkan puasa ini akan mudah sekali kita jumpai.
Sedangkan “semangat yang keluar dari sifat hati” atau keyakinan, biasanya akan terus dijaga oleh seorang supranaturalis sejati. Sebab, rasa tanggungjawab untuk sampai mengakhiri masa ritual lebih diutamakan, sehingga hawa pikiran negative bisa ditutup dengan serapat-rapatnya.
GURU PEMBIMBING
Dalam memahami ilmu supranatural, guru pembimbing sangat berperan dalam menentukan suatu keberhasilan ilmu bagi anak didiknya. Disamping sang guru bisa mengarahkan tentang sebuah arti keyakinan, sang guru juga bisa memberi kesemangatan secara akurat sehingga sang murid akan mudah mengikuti jejak atau ajaran-ajarannya.
PENGONTROLAN HATI
Bila seorang supranatural sudah bisa memahami tentang makna semangat, keyakinan dan penghayatan ilmu yang diberikan lewat bimbangan guru spiritualisnya, maka sang supranaturalis tadi tinggal mengolah keyakinannya sendiri dengan terus mengontrol kepekaan hati sehingga apa yang diinginkannya akan mudah tercapai.
Nah, sebagai penghayatan yang lebih luas tentang seputar ilmu supranatural, berikut ini Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin. Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan. Maksudnya tiada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya…:
Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba’u Usulul Hikmah Bimuallif, karangan Imam Ali Albuny, diterangkan sebagai berikut:
Bahwa setiap manusia yang menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.
Di samping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini yang dimaksud adalah Jin Muslim-Pen) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melaikan kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu yang akan kita terima.
Mengenai arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama sudah menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti pendapat dari Imam Bujeremi, dalam kitabnya “IQNA”. Imam Bujeremi menuliskan beberapa tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, dimulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama’, Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan Arsy.
Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang sudah cukup ilmu dan pengetahuan untuk menembusnya.
Mari kita kembali ke tahapan menembus dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab “Manba”u Usulul Hikmah”, dijabarkan bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah menguasai dua alam sebagai tingkatan alam dibawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul Jumud.
Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi dan lautan. Ahmar juga disebut dengan istilah “Bangsa Lelembut” yang masih keturunan dari bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syiet, yang diturunkan lewat zaman sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar ini adalah: Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.
Abdul Jumud: Sebuah alam yang dihuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi, batu dan pepohonan. Abdul Jumud disini disebut juga dengan istilah “Dedemit”. Mereka juga masih keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: Kuntilanak, Memedi, Perkayang dan lain sejenisnya.
Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya.
Sedangkan untuk melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak mengganggu prosesi ritual yang kita jalankan.
Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu rituanya adalah dengan menaburkan terus kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus menerus. Hanya saja dalam pengenalan menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita temui.
Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual, dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak dari sifat mereka.
Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin disini terbagi menjadi dua golongan, yaitu Abyad dan Aswad (Jin Putih/Muslim dan Jin Hitam/Kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni: tanah, air, bangunan, dan awang-awang (angkasa).
Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji ritual yang disajikan untuk mereka.
Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa Jin Hitam atau Jin Kafir-lah yang akan berperan untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diming-imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa diterima akal.
Intinya, pikiran kita akan terus dicecoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan. Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar, suka melamun dan tidak menerima akan nasehat apapun dari orang lain.
Bukan hanya itu saja, golongan jin hitam atau Jin Kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan, serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama (Islam)
Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, seringkali didatangi makhluk-makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka janganlah digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa mereka berasal golongan bangsa jin hitam atau Jin Kafir.
Kitab Manba’u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya, “Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas.”
Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant dimuka bumi ini, kecuali kita sendiri mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasainya.
Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat,ajian, atau amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin-Pen) yang akan kita temui kelak.
Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dan dari mana sumbernya. Bisa juga lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf, Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Tholthobausin, dari bangsa gaibnya bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar ini sudah jelas masuk dalam katagori huruf Alif.
Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menunjukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma’ Ahmar dan dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim…dan seterusnya.
Budaya hidup yang Hedonis yang menitikberatkan pada kepuasaan materi, pada akhirnya turut menggiring manusia untuk selalu mengedepankan rasionalitas dalam ukuran akal semata. Pemahaman ilmu batin atau keparanormalan menjadi terabaikan, sebab bidang ilmu ini dianggap tidaklah memenuhi ukuran aspek materialistik. Akibatnya, adat leluhur kian terkikis, bahkan cenderung dilupakan. Norma-norma ajaran nenek moyang, misalnya saja ajaran para Wali, sudah mulai pudar dan dianggap usang.
Seiring dengan terjadinya kecenderungan itu para ahli khoarik, pertapa dan ahli batin lainnya mulai sulit dicari. Hal ini memang seiring dengan perkembangan zaman yang lebih terfokus pada hal yang bersifat teknologi, iptek, ata sayen. Sementara aspek-aspek keilmuan di luar itu hanya dianggap takhyul, atau bahkan dongeng isapan jempol.Kendati demikian, sebentuk keyakinan masih tetap saja muncul di hati para pencari ilmu bersifat batiniah. Mereka masih punya rasa percaya diri untuk mencari suatu kemaslahatan tentang ilmu Allah SWT, dalam mengarungi kebesaranNya lewat kehidupan makhluk tak kasat mata.
Hanya saja dalam merilis ilmu supranatural di zaman sekarang memang tak semudah seperti yang kita bayangkan. Walau dalam kenyataannya banyak jasa paranormal yang memberikan layanan khusus seputar ilmu supranatural, namun semuanya lebih terfokus kearah produk jadi atau instan, bukan mengarah ke jalur olah batin yang pada intinyab mengajarkan bagaimana kita bisa dekat dengan mereka, para makhluk yang ada dalam di mensi lain.
Lewat pemahaman ahli Al-Hikmah, sesungguhnya di zaman melinium akhir seperti sekarang ini, amatlah sulit mencapai puncak keberhasilan dalam mengolah batin secara akurat. Mengapa? Sebab di samping kita hidup di era yang penuh akan godaan duniawi yang stiap saat selalu kita lihat dan begitu memikat, di sisi lainnya faktor penghayatan terhadap ilmu juga semakin kurang menunjang. Contoh kasus paling rumit sepeti susahnya mencari guru spiritual. Ditambah lagi sulit mencari tempat-tempat yang sepi dan tenang untuk berkhalwat, sebab kini hampir semua tempat sudah mulai ramai, sehingga ketenangan batin kita mudah terganggu karenanya.
Dalam hal keyakinan, semangat dan penghayatan dalam hal ilmu supranatural di masa kini semakin dangkal, bahkan cenderung dianggap remah. Padahal, inilah salah satu faktor penentu dalam menapaki ilmu bersifat kebatinan, yang pada akhirnya seringkali gagal di tengah jalan.
Sebagai suatu pemahaman, kunci dasar untuk bisa menguasai bermacam sifat supranatural terdiri dari tiga bagian, yaitu: semangat dan keyakinan, guru pembimbing, dan pengontrolan hati.
SEMANGAT DAN KEYAKINAN
Untuk memulai menjadi seorang suprantural, kita dituntut agar terus bersemangat secara alamiah tanpa ada perasaan terbebani maupun keterpaksaan. Makna semangat dan keyakinan ini terbagi menjadi dua hal, yakni yang keluar dari pikiran atau kemudian menjelma menjadi semangat, dan yang keluar dari sifat hati yang kemudian berwujud menjadi keyakinan.
Semangat yang berada dalam pikiran biasanya hanya ada di permukaan atau dzohir saja, dan seterusnya akan menjadi suatu kegagalan, jika hal ini tidak dilandasi dengan adanya keyakinan yang kuat dalam hati sanubari kita. Sebagai contoh, kita disuruh menjalankan puasa dan wiridan selama 7 hari berturut-turut. Jika kita hanya punya semangat tapi tidak punya keyakinan, maka kita akan ragu dan selanjutnya kegagalanlah yang kita hadapi. walnya kita memang bersemangat, namun setelah menjalani dua malam berturut-turut dan kelelahan serta kejenuhan mulai terasa, maka seketika pikiran kita menjadi kacau, rasa capek, malas, takut, lapar dan lain sebagainya akan mudah mempengaruhi organ tubuh kita sehingga niat membatalkan puasa ini akan mudah sekali kita jumpai.
Sedangkan “semangat yang keluar dari sifat hati” atau keyakinan, biasanya akan terus dijaga oleh seorang supranaturalis sejati. Sebab, rasa tanggungjawab untuk sampai mengakhiri masa ritual lebih diutamakan, sehingga hawa pikiran negative bisa ditutup dengan serapat-rapatnya.
GURU PEMBIMBING
Dalam memahami ilmu supranatural, guru pembimbing sangat berperan dalam menentukan suatu keberhasilan ilmu bagi anak didiknya. Disamping sang guru bisa mengarahkan tentang sebuah arti keyakinan, sang guru juga bisa memberi kesemangatan secara akurat sehingga sang murid akan mudah mengikuti jejak atau ajaran-ajarannya.
PENGONTROLAN HATI
Bila seorang supranatural sudah bisa memahami tentang makna semangat, keyakinan dan penghayatan ilmu yang diberikan lewat bimbangan guru spiritualisnya, maka sang supranaturalis tadi tinggal mengolah keyakinannya sendiri dengan terus mengontrol kepekaan hati sehingga apa yang diinginkannya akan mudah tercapai.
Nah, sebagai penghayatan yang lebih luas tentang seputar ilmu supranatural, berikut ini Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin. Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan. Maksudnya tiada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya…:
Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba’u Usulul Hikmah Bimuallif, karangan Imam Ali Albuny, diterangkan sebagai berikut:
Bahwa setiap manusia yang menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.
Di samping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini yang dimaksud adalah Jin Muslim-Pen) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melaikan kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu yang akan kita terima.
Mengenai arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama sudah menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti pendapat dari Imam Bujeremi, dalam kitabnya “IQNA”. Imam Bujeremi menuliskan beberapa tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, dimulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama’, Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan Arsy.
Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang sudah cukup ilmu dan pengetahuan untuk menembusnya.
Mari kita kembali ke tahapan menembus dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab “Manba”u Usulul Hikmah”, dijabarkan bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah menguasai dua alam sebagai tingkatan alam dibawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul Jumud.
Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi dan lautan. Ahmar juga disebut dengan istilah “Bangsa Lelembut” yang masih keturunan dari bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syiet, yang diturunkan lewat zaman sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar ini adalah: Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.
Abdul Jumud: Sebuah alam yang dihuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi, batu dan pepohonan. Abdul Jumud disini disebut juga dengan istilah “Dedemit”. Mereka juga masih keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: Kuntilanak, Memedi, Perkayang dan lain sejenisnya.
Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya.
Sedangkan untuk melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak mengganggu prosesi ritual yang kita jalankan.
Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu rituanya adalah dengan menaburkan terus kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus menerus. Hanya saja dalam pengenalan menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita temui.
Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual, dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak dari sifat mereka.
Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin disini terbagi menjadi dua golongan, yaitu Abyad dan Aswad (Jin Putih/Muslim dan Jin Hitam/Kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni: tanah, air, bangunan, dan awang-awang (angkasa).
Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji ritual yang disajikan untuk mereka.
Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa Jin Hitam atau Jin Kafir-lah yang akan berperan untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diming-imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa diterima akal.
Intinya, pikiran kita akan terus dicecoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan. Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar, suka melamun dan tidak menerima akan nasehat apapun dari orang lain.
Bukan hanya itu saja, golongan jin hitam atau Jin Kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan, serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama (Islam)
Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, seringkali didatangi makhluk-makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka janganlah digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa mereka berasal golongan bangsa jin hitam atau Jin Kafir.
Kitab Manba’u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya, “Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas.”
Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant dimuka bumi ini, kecuali kita sendiri mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasainya.
Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat,ajian, atau amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin-Pen) yang akan kita temui kelak.
Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dan dari mana sumbernya. Bisa juga lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf, Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Tholthobausin, dari bangsa gaibnya bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar ini sudah jelas masuk dalam katagori huruf Alif.
Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menunjukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma’ Ahmar dan dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim…dan seterusnya.
TAHAPAN MENEMBUS DIMENSI ALAM JIN
Banyak orang yang ingin menembus alam jin, atau mengundang mereka. Ternyata, untuk mewujudkan impian ini bukanlah pekerjaan mudah. Ada tahapan-tahapan yang harus kita kuasai, sebelum kita memulai ritual memembus alam jin. Seperti apakah itu…?
Budaya hidup yang Hedonis yang menitikberatkan pada kepuasaan materi, pada akhirnya turut menggiring manusia untuk selalu mengedepankan rasionalitas dalam ukuran akal semata. Pemahaman ilmu batin atau keparanormalan menjadi terabaikan, sebab bidang ilmu ini dianggap tidaklah memenuhi ukuran aspek materialistik. Akibatnya, adat leluhur kian terkikis, bahkan cenderung dilupakan. Norma-norma ajaran nenek moyang, misalnya saja ajaran para Wali, sudah mulai pudar dan dianggap usang.
Seiring dengan terjadinya kecenderungan itu para ahli khoarik, pertapa dan ahli batin lainnya mulai sulit dicari. Hal ini memang seiring dengan perkembangan zaman yang lebih terfokus pada hal yang bersifat teknologi, iptek, ata sayen. Sementara aspek-aspek keilmuan di luar itu hanya dianggap takhyul, atau bahkan dongeng isapan jempol.Kendati demikian, sebentuk keyakinan masih tetap saja muncul di hati para pencari ilmu bersifat batiniah. Mereka masih punya rasa percaya diri untuk mencari suatu kemaslahatan tentang ilmu Allah SWT, dalam mengarungi kebesaranNya lewat kehidupan makhluk tak kasat mata.
Hanya saja dalam merilis ilmu supranatural di zaman sekarang memang tak semudah seperti yang kita bayangkan. Walau dalam kenyataannya banyak jasa paranormal yang memberikan layanan khusus seputar ilmu supranatural, namun semuanya lebih terfokus kearah produk jadi atau instan, bukan mengarah ke jalur olah batin yang pada intinyab mengajarkan bagaimana kita bisa dekat dengan mereka, para makhluk yang ada dalam di mensi lain.
Lewat pemahaman ahli Al-Hikmah, sesungguhnya di zaman melinium akhir seperti sekarang ini, amatlah sulit mencapai puncak keberhasilan dalam mengolah batin secara akurat. Mengapa? Sebab di samping kita hidup di era yang penuh akan godaan duniawi yang stiap saat selalu kita lihat dan begitu memikat, di sisi lainnya faktor penghayatan terhadap ilmu juga semakin kurang menunjang. Contoh kasus paling rumit sepeti susahnya mencari guru spiritual. Ditambah lagi sulit mencari tempat-tempat yang sepi dan tenang untuk berkhalwat, sebab kini hampir semua tempat sudah mulai ramai, sehingga ketenangan batin kita mudah terganggu karenanya.
Dalam hal keyakinan, semangat dan penghayatan dalam hal ilmu supranatural di masa kini semakin dangkal, bahkan cenderung dianggap remah. Padahal, inilah salah satu faktor penentu dalam menapaki ilmu bersifat kebatinan, yang pada akhirnya seringkali gagal di tengah jalan.
Sebagai suatu pemahaman, kunci dasar untuk bisa menguasai bermacam sifat supranatural terdiri dari tiga bagian, yaitu: semangat dan keyakinan, guru pembimbing, dan pengontrolan hati.
SEMANGAT DAN KEYAKINAN
Untuk memulai menjadi seorang suprantural, kita dituntut agar terus bersemangat secara alamiah tanpa ada perasaan terbebani maupun keterpaksaan. Makna semangat dan keyakinan ini terbagi menjadi dua hal, yakni yang keluar dari pikiran atau kemudian menjelma menjadi semangat, dan yang keluar dari sifat hati yang kemudian berwujud menjadi keyakinan.
Semangat yang berada dalam pikiran biasanya hanya ada di permukaan atau dzohir saja, dan seterusnya akan menjadi suatu kegagalan, jika hal ini tidak dilandasi dengan adanya keyakinan yang kuat dalam hati sanubari kita. Sebagai contoh, kita disuruh menjalankan puasa dan wiridan selama 7 hari berturut-turut. Jika kita hanya punya semangat tapi tidak punya keyakinan, maka kita akan ragu dan selanjutnya kegagalanlah yang kita hadapi. walnya kita memang bersemangat, namun setelah menjalani dua malam berturut-turut dan kelelahan serta kejenuhan mulai terasa, maka seketika pikiran kita menjadi kacau, rasa capek, malas, takut, lapar dan lain sebagainya akan mudah mempengaruhi organ tubuh kita sehingga niat membatalkan puasa ini akan mudah sekali kita jumpai.
Sedangkan “semangat yang keluar dari sifat hati” atau keyakinan, biasanya akan terus dijaga oleh seorang supranaturalis sejati. Sebab, rasa tanggungjawab untuk sampai mengakhiri masa ritual lebih diutamakan, sehingga hawa pikiran negative bisa ditutup dengan serapat-rapatnya.
GURU PEMBIMBING
Dalam memahami ilmu supranatural, guru pembimbing sangat berperan dalam menentukan suatu keberhasilan ilmu bagi anak didiknya. Disamping sang guru bisa mengarahkan tentang sebuah arti keyakinan, sang guru juga bisa memberi kesemangatan secara akurat sehingga sang murid akan mudah mengikuti jejak atau ajaran-ajarannya.
PENGONTROLAN HATI
Bila seorang supranatural sudah bisa memahami tentang makna semangat, keyakinan dan penghayatan ilmu yang diberikan lewat bimbangan guru spiritualisnya, maka sang supranaturalis tadi tinggal mengolah keyakinannya sendiri dengan terus mengontrol kepekaan hati sehingga apa yang diinginkannya akan mudah tercapai.
Nah, sebagai penghayatan yang lebih luas tentang seputar ilmu supranatural, berikut ini Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin. Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan. Maksudnya tiada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya…:
Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba’u Usulul Hikmah Bimuallif, karangan Imam Ali Albuny, diterangkan sebagai berikut:
Bahwa setiap manusia yang menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.
Di samping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini yang dimaksud adalah Jin Muslim-Pen) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melaikan kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu yang akan kita terima.
Mengenai arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama sudah menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti pendapat dari Imam Bujeremi, dalam kitabnya “IQNA”. Imam Bujeremi menuliskan beberapa tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, dimulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama’, Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan Arsy.
Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang sudah cukup ilmu dan pengetahuan untuk menembusnya.
Mari kita kembali ke tahapan menembus dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab “Manba”u Usulul Hikmah”, dijabarkan bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah menguasai dua alam sebagai tingkatan alam dibawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul Jumud.
Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi dan lautan. Ahmar juga disebut dengan istilah “Bangsa Lelembut” yang masih keturunan dari bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syiet, yang diturunkan lewat zaman sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar ini adalah: Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.
Abdul Jumud: Sebuah alam yang dihuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi, batu dan pepohonan. Abdul Jumud disini disebut juga dengan istilah “Dedemit”. Mereka juga masih keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: Kuntilanak, Memedi, Perkayang dan lain sejenisnya.
Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya.
Sedangkan untuk melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak mengganggu prosesi ritual yang kita jalankan.
Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu rituanya adalah dengan menaburkan terus kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus menerus. Hanya saja dalam pengenalan menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita temui.
Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual, dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak dari sifat mereka.
Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin disini terbagi menjadi dua golongan, yaitu Abyad dan Aswad (Jin Putih/Muslim dan Jin Hitam/Kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni: tanah, air, bangunan, dan awang-awang (angkasa).
Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji ritual yang disajikan untuk mereka.
Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa Jin Hitam atau Jin Kafir-lah yang akan berperan untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diming-imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa diterima akal.
Intinya, pikiran kita akan terus dicecoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan. Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar, suka melamun dan tidak menerima akan nasehat apapun dari orang lain.
Bukan hanya itu saja, golongan jin hitam atau Jin Kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan, serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama (Islam)
Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, seringkali didatangi makhluk-makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka janganlah digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa mereka berasal golongan bangsa jin hitam atau Jin Kafir.
Kitab Manba’u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya, “Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas.”
Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant dimuka bumi ini, kecuali kita sendiri mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasainya.
Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat,ajian, atau amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin-Pen) yang akan kita temui kelak.
Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dan dari mana sumbernya. Bisa juga lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf, Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Tholthobausin, dari bangsa gaibnya bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar ini sudah jelas masuk dalam katagori huruf Alif.
Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menunjukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma’ Ahmar dan dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim…dan seterusnya.
Budaya hidup yang Hedonis yang menitikberatkan pada kepuasaan materi, pada akhirnya turut menggiring manusia untuk selalu mengedepankan rasionalitas dalam ukuran akal semata. Pemahaman ilmu batin atau keparanormalan menjadi terabaikan, sebab bidang ilmu ini dianggap tidaklah memenuhi ukuran aspek materialistik. Akibatnya, adat leluhur kian terkikis, bahkan cenderung dilupakan. Norma-norma ajaran nenek moyang, misalnya saja ajaran para Wali, sudah mulai pudar dan dianggap usang.
Seiring dengan terjadinya kecenderungan itu para ahli khoarik, pertapa dan ahli batin lainnya mulai sulit dicari. Hal ini memang seiring dengan perkembangan zaman yang lebih terfokus pada hal yang bersifat teknologi, iptek, ata sayen. Sementara aspek-aspek keilmuan di luar itu hanya dianggap takhyul, atau bahkan dongeng isapan jempol.Kendati demikian, sebentuk keyakinan masih tetap saja muncul di hati para pencari ilmu bersifat batiniah. Mereka masih punya rasa percaya diri untuk mencari suatu kemaslahatan tentang ilmu Allah SWT, dalam mengarungi kebesaranNya lewat kehidupan makhluk tak kasat mata.
Hanya saja dalam merilis ilmu supranatural di zaman sekarang memang tak semudah seperti yang kita bayangkan. Walau dalam kenyataannya banyak jasa paranormal yang memberikan layanan khusus seputar ilmu supranatural, namun semuanya lebih terfokus kearah produk jadi atau instan, bukan mengarah ke jalur olah batin yang pada intinyab mengajarkan bagaimana kita bisa dekat dengan mereka, para makhluk yang ada dalam di mensi lain.
Lewat pemahaman ahli Al-Hikmah, sesungguhnya di zaman melinium akhir seperti sekarang ini, amatlah sulit mencapai puncak keberhasilan dalam mengolah batin secara akurat. Mengapa? Sebab di samping kita hidup di era yang penuh akan godaan duniawi yang stiap saat selalu kita lihat dan begitu memikat, di sisi lainnya faktor penghayatan terhadap ilmu juga semakin kurang menunjang. Contoh kasus paling rumit sepeti susahnya mencari guru spiritual. Ditambah lagi sulit mencari tempat-tempat yang sepi dan tenang untuk berkhalwat, sebab kini hampir semua tempat sudah mulai ramai, sehingga ketenangan batin kita mudah terganggu karenanya.
Dalam hal keyakinan, semangat dan penghayatan dalam hal ilmu supranatural di masa kini semakin dangkal, bahkan cenderung dianggap remah. Padahal, inilah salah satu faktor penentu dalam menapaki ilmu bersifat kebatinan, yang pada akhirnya seringkali gagal di tengah jalan.
Sebagai suatu pemahaman, kunci dasar untuk bisa menguasai bermacam sifat supranatural terdiri dari tiga bagian, yaitu: semangat dan keyakinan, guru pembimbing, dan pengontrolan hati.
SEMANGAT DAN KEYAKINAN
Untuk memulai menjadi seorang suprantural, kita dituntut agar terus bersemangat secara alamiah tanpa ada perasaan terbebani maupun keterpaksaan. Makna semangat dan keyakinan ini terbagi menjadi dua hal, yakni yang keluar dari pikiran atau kemudian menjelma menjadi semangat, dan yang keluar dari sifat hati yang kemudian berwujud menjadi keyakinan.
Semangat yang berada dalam pikiran biasanya hanya ada di permukaan atau dzohir saja, dan seterusnya akan menjadi suatu kegagalan, jika hal ini tidak dilandasi dengan adanya keyakinan yang kuat dalam hati sanubari kita. Sebagai contoh, kita disuruh menjalankan puasa dan wiridan selama 7 hari berturut-turut. Jika kita hanya punya semangat tapi tidak punya keyakinan, maka kita akan ragu dan selanjutnya kegagalanlah yang kita hadapi. walnya kita memang bersemangat, namun setelah menjalani dua malam berturut-turut dan kelelahan serta kejenuhan mulai terasa, maka seketika pikiran kita menjadi kacau, rasa capek, malas, takut, lapar dan lain sebagainya akan mudah mempengaruhi organ tubuh kita sehingga niat membatalkan puasa ini akan mudah sekali kita jumpai.
Sedangkan “semangat yang keluar dari sifat hati” atau keyakinan, biasanya akan terus dijaga oleh seorang supranaturalis sejati. Sebab, rasa tanggungjawab untuk sampai mengakhiri masa ritual lebih diutamakan, sehingga hawa pikiran negative bisa ditutup dengan serapat-rapatnya.
GURU PEMBIMBING
Dalam memahami ilmu supranatural, guru pembimbing sangat berperan dalam menentukan suatu keberhasilan ilmu bagi anak didiknya. Disamping sang guru bisa mengarahkan tentang sebuah arti keyakinan, sang guru juga bisa memberi kesemangatan secara akurat sehingga sang murid akan mudah mengikuti jejak atau ajaran-ajarannya.
PENGONTROLAN HATI
Bila seorang supranatural sudah bisa memahami tentang makna semangat, keyakinan dan penghayatan ilmu yang diberikan lewat bimbangan guru spiritualisnya, maka sang supranaturalis tadi tinggal mengolah keyakinannya sendiri dengan terus mengontrol kepekaan hati sehingga apa yang diinginkannya akan mudah tercapai.
Nah, sebagai penghayatan yang lebih luas tentang seputar ilmu supranatural, berikut ini Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin. Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan. Maksudnya tiada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya…:
Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba’u Usulul Hikmah Bimuallif, karangan Imam Ali Albuny, diterangkan sebagai berikut:
Bahwa setiap manusia yang menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.
Di samping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini yang dimaksud adalah Jin Muslim-Pen) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melaikan kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu yang akan kita terima.
Mengenai arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama sudah menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti pendapat dari Imam Bujeremi, dalam kitabnya “IQNA”. Imam Bujeremi menuliskan beberapa tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, dimulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama’, Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan Arsy.
Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang sudah cukup ilmu dan pengetahuan untuk menembusnya.
Mari kita kembali ke tahapan menembus dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab “Manba”u Usulul Hikmah”, dijabarkan bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah menguasai dua alam sebagai tingkatan alam dibawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul Jumud.
Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi dan lautan. Ahmar juga disebut dengan istilah “Bangsa Lelembut” yang masih keturunan dari bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syiet, yang diturunkan lewat zaman sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar ini adalah: Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.
Abdul Jumud: Sebuah alam yang dihuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi, batu dan pepohonan. Abdul Jumud disini disebut juga dengan istilah “Dedemit”. Mereka juga masih keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: Kuntilanak, Memedi, Perkayang dan lain sejenisnya.
Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya.
Sedangkan untuk melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak mengganggu prosesi ritual yang kita jalankan.
Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu rituanya adalah dengan menaburkan terus kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus menerus. Hanya saja dalam pengenalan menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita temui.
Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual, dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak dari sifat mereka.
Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin disini terbagi menjadi dua golongan, yaitu Abyad dan Aswad (Jin Putih/Muslim dan Jin Hitam/Kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni: tanah, air, bangunan, dan awang-awang (angkasa).
Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji ritual yang disajikan untuk mereka.
Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa Jin Hitam atau Jin Kafir-lah yang akan berperan untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diming-imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa diterima akal.
Intinya, pikiran kita akan terus dicecoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan. Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar, suka melamun dan tidak menerima akan nasehat apapun dari orang lain.
Bukan hanya itu saja, golongan jin hitam atau Jin Kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan, serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama (Islam)
Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, seringkali didatangi makhluk-makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka janganlah digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa mereka berasal golongan bangsa jin hitam atau Jin Kafir.
Kitab Manba’u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya, “Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas.”
Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant dimuka bumi ini, kecuali kita sendiri mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasainya.
Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat,ajian, atau amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin-Pen) yang akan kita temui kelak.
Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dan dari mana sumbernya. Bisa juga lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf, Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Tholthobausin, dari bangsa gaibnya bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar ini sudah jelas masuk dalam katagori huruf Alif.
Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menunjukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma’ Ahmar dan dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim…dan seterusnya.
Antara Islam, Tasawuf, dan Kebatinan di Jawa
Arti tasawuf secara etimologis diperselisihkan oleh para ahli, karena perbedaan mereka dalam memandang asal-usul kata itu. Asal-usul kata tasawuf menurut pendapat para ahli antara lain sebagai berikut: (1) Tasawuf berasal dari kata saff yang artinya barisan dalam salat berjamaah. Alasannya, seorang sufi mempunyai iman yang kuat, jiwa yang bersih dan selalu memilih saf yang terdepan dalam salat berjamaah. Di samping alasan itu mereka juga memandang bahwa seorang sufi akan berada di baris pertama di depan Allah SWT (2) Tasawuf berasal dari kata saufanah yaitu sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab Saudi. Pengambilan kata ini karena melihat orang-orang sufi memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam kegersangan fisik, tapi subur batinnya. (3) Tasawuf berasal dari kata suffah yang artinya pelana yang dipergunakan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW yang miskin untuk bantal tidur di atas bangku batu di samping masjid Nabawi di Madinah. Versi lain dikatakan bahwa suffah artinya suatu kamar di samping Masjid Nabawi yang disediakan untuk para sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Muhajirin yang miskin. Penghuni suffah ini disebut ahlus suffah, mereka mempunyai sifat-sifat teguh dalam pendirian, takwa, warak (taat kepada Allah SWT), zuhud, dan tekun beribadah. Adapun pegambilan kata suffah karena kemiripan tabiat para sufi dengan sifat-sifat ahlus suffah. (4) Tasawuf (sufi) merujuk pada kata safwah yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik. Dikatakan demikian karena seorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau orang terbaik. (5) Tasawuf merujuk pada kata safa atau safw yang artinya bersih atau suci. Maksudnya kehidupan seorag sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri pada Allah SWT Tuhan Yang Maha Suci sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci. (6) Tasawuf berasal dari bahasa Yunani yaitu theosophi (Theo-Tuhan, Sophos-Hikmat) yang berarti hikmat Ketuhanan. Mereka merujuk pada bahasa Yunani karena ajaran tasawuf banyak membicarakan masalah Ketuhanan. (7) Tasawuf berasal dari kata suf yang artinya wol atau kain bulu kasar. Disebut demikian karena orang-orang sufi banyak yang suka memakai pakaian dari bulu binatang sebagai lambang kemiskinan dan kesederhanaan, berlawanan dengan pakaian sutra yang biasa dipakai oleh orang-orang kaya. Abu Nasr As Sarraj At Tusi, tokoh fundamentalis tasawuf, mengatakan bahwa kebiasaan memakai kain wol kasar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang saleh, sekaligus sebagai lambang kesederhanaan dan kemiskinan.
Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia:
“Tasawuf adalah aspek esoteris atau kedalaman ajaran keagamaan. Tasawuf disebut juga sufism atau mistik Islam (Islamic Mysticism). Secara garis besar lingkup tasawuf mencakup usaha manusia utuk membersihkan diri dari perilaku atau akhlak tercela (takhalli) dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji (tahalli) agar tersingkap tirai yang mennghalagi hubungan manusia dengan Tuhan (tajalli). Jaadi laku tasawuf merupakan proses keberagamaan seseorang.”
Tasawuf dalam bahasa Inggris disebut Islamic mysticism (mistik yang tumbuh dalam Islam). Adapun tujuan utama dari seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf menurut Abdul Hakim Hasan dalam bukunya Al Tashawuf Fi-al Syi’ri al Arabi bahwa:
Sasaran atau tujuan tasawuf ialah sampai kepada Dzat Al Haqq atau Mutlak (Tuhan) dan bersatu dengan Dia.
Dari konsep di atas jelas bahwa tujuan utama dari tasawuf adalah untuk sampai kepada Allah -agar dapat makrifat secara langsung kepada Dzat Allah- atau bahkan ada yang ingin bersatu dengan Tuhan.Makrifat di sini bukan melulu hanya pengetahuan semata, namun berupa pengalaman (experience). Yakni ingin bertemu langsung dengan Tuhan melalui tanggapan kejiwaannya bukan melalui panca indra serta akal. Tanggapan kejiwaan ini dapat dianalogikan seperti halnya mimpi atau mabuk (ecstasy) jiwanya sampai ke alam lain. Sebagai jalan untuk sampai kepada Allah disebut tarekat (Thariqah).
Yang kedua adalah mistik. Mistik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia ialah suatu proses yang bertujuan memenuhi keinginan atau hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan bersatunya emosi dengan Tuhan dan kekuatan transenden lainnya. Penganut mistik percaya bahwa di balik realitas yang nyata ada realitas yang lebih tinggi, yang merupakan kebenaran sesungguhnya. Mereka yakin bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu di alam ini, termasuk diri manusia, sehingga orang dapat mencari kebenaran dan pengertian tentang Tuhan melalui diri sendiri.
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut Budia Pradipta adalah mistik. Menurut Simuh kebatinan sebagian besar unsurnya adalah tasawuf.
Dalam membahas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini penulis meminjam beberapa definisi dari beberapa orang pakar seperti Simuh dan Hamka. Prof. Dr. Hamka mengatakan :
” Telah kita ketahui bahwa berbagai kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat kita di Indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di Jawa Tengah, dan ada juga di daerah-daerah lain”. ” Saya pernah diundang dua kali dalam ‘Purnama Sidi’ itu untuk mengadakan ceramah ‘kebatinan’. Dan saya kabulkan permintaan itu, lalu saya terangkan tasawuf Islam, gabungan ajaran Ghazali dan Ibnul Qayyim, dari kitab Ihya Ulumuddin dan Madarijus Salikin, Wongsonegoro SH (salah seorang tokohnya -pen) tertarik sekali dengan keterangan-keterangan itu dan memujinya. Dia mengatakan banyak ajaran-ajaran itu yang mirip dengan ajaran kebatinan. Saya diminta sering-sering mengisi ceramah agar kaum abangan tahu tentang tasawuf Islam dan melihat banyak kesamaan ajarannya”.
Yang kedua Dr. Simuh mengatakan bahwa kebatinan atau sufisme Jawa itu adalah transformasi dari tasawuf Islam ke mistik Jawa dan juga terjadi proses sinkretisasi atau akulturasi antara Islam dengan kebudayaan Jawa (hasil sinkretisme antara Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme).
Dari pendapat Hamka dan Simuh dapatlah dibuat definisi ‘Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa’ adalah kepercayaan yang dianut oleh golongan Islam abangan di Jawa yang bersumber dari sinkretisme Islam dengan animisme-dinamisme serta Hindu-Budha’.
Mengenai istilah kebatinan ada beberapa pendapat yang dikemukakan di sini. Pendapat pertama dari Drs. Warsito Sastroprajitno yang mengatakan:
“Kebatinan adalah kebudayaan spiritual dari kraton Jawa, yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dan mengalami perkembangan yang sangat unik pula”.
Dalam majalah Derap terbitan bulan Februari minggu III tahun 1978 halaman 35 dikatakan bahwa :
“Kebatinan bukan suatu agama dalam arti yang setepat-tepatnya seperti Islam, Budhisme, Hinduisme, atau Kristen. Tiada Gereja karena dianggapnya tidak perlu. Aliran ini tidak terlampau mempersoalkan masalah akhirat, sorga atau neraka atau malaikat dan iblis.
Kebatinan adalah suatu pencaharian metafisik akan suatu keselarasan di dalam batin orang, keselarasan antara batin sendiri dengan sesama manusia dan alam. Kebatinan merupakan paduan dari akultisme, metafisika, mistik, dan doktrin-doktrin lainnya, suatu ramuan khas kebolehan orang Jawa untuk mengadakan sinthesis“.
Selanjutnya Prof.Dr. Koentjaraningrat mendefinisikan bahwa:
“Mereka (kaum abangan) tidak dapat dikatakan orang yang beragama Islam yang tidak banyak menghiraukan agama, sebab sebenarnya agama yang mereka anut adalah suatu varian dari agama Islam Jawa, yaitu agama Jawi”.
Kalau menurut Azyumardi Azra, kebatinan Jawa itu digolongkan sebagai “kultus” atau bahasa Inggrisnya “cult”. Ia mengutip definisi Yinger dalam J. Milton Yinger , Society and the Individual: An Introduction to the Sociology of Religion, (New york, 1957), hal. 54-55. Oleh Yinger istilah “cult” digunakan dalam berbagai cara berbeda, yang biasanya mengacu kepada “kelompok keagamaan” berukuran kecil, yang mencari pengalaman mistik, memiliki strukur organisasii yang longgar, tetapi memiliki kepemimpinan kharismatik. Pada segi tertentu “cult” sama dengan “sect” (sekte) dalam pengertian bahwa keduanya merupakan “sempalan” dari suatu sistem agama yang mapan. Tetapi “cult” merupakan sempalan “paling ekstrim” dari tradisi keagamaan dominan dalam masyarakat. Dengan demikian “cult” berarti kelompok sempalan yang menyimpang dari “universal church“, ia merupakan kelompok kecil bersifat lokal, berumur singkat dan sering berkembang di sekitar seorang pemimpin dominan. Ia juga berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam “cult” yang merupakan varian dari agama Islam kadang terjadi proses pengentalan “cult”, kadang terjadi proses pengenceran “cult” atau ortodoksi, kembali ke ajaran Islam yang ortodoks seperti yang terjadi pada “cult” Black Muslims di Amerika Serikat. Demikian pula yang terjadi dalam ajaran kelompok-kelompok kebatinan Jawa kadang mengalami proses ortodoksi (ditarik mendekat ke Islam), kadang mengalami pengentalan “Cult” (diulur menjauh dari Islam) bahkan tanpa takut-takut memproklamirkan diri sebagai agama baru seperti ADARI (Agama Djawa Republik Indonesia) dan IIH (Iman Igama Hak).
Ada satu kitab yang memperlihatkan percampuran antar Islam dengan agama setempat di Jawa. Menurut penulis kitab inilah yang menjadi ajaran pokok dari aliran kepercayaan dan gerakan aliran kepercayaan sekarang Kitab itu adalah Wirid Hidayat Jati, dikarang oleh Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito. Menurut Simuh kitab ini adalah hasil akulturasi antara ajaran Islam-Pesantren (suatu sistem pendidikan di mana Ronggowarsito belajar) dengan budaya kraton Jawa tempat Ronggowarsito dilahirkan dan dibesarkan serta di kemudian harinya mengabdikan diri di sana. Menurutnya kitab ini berisi ajaran Union-Mistik. Sebagai suatu bentuk ajaran Union-Mistik (paham mistik yang mengajarkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan), uraian tentang Tuhan dalam Wirid Hidayat Jati tak dapat dipisahkan dengan uraian tentang manusia. Karena, setiap ajaran mistik yang berpaham union mistik tidak menarik garis perbedaan yang tegas dan esensial antara manusia dan Tuhan. Maka ungkapan tentang Tuhan, dalam paham union mistik selalu tumpang tindih dengan pernyataan tentang manusia. Karena, manusia memang bukan Tuhan, namun demikian ia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan Tuhan, sehingga tidak lain daripada Dia. Itulah logika union mistik. Hubungan Tuhan dengan manusia sering diibaratkan dengan hubungan manisnya madu dengan madu, atau laut dengan ombak. Simuh mengatakan bahwa paham union mistik dalam Wirid Hidayat Jati adalah perpaduan dari paham dalam tasawuf Islam yaitu Wihdatul Wujud-nya Al Hallaj dan Ibn ‘Arabi
Pemahaman H.M. Rasyidi pada Wirid Hidayat Jati adalah sebagai literatur kebatinan bukan literatur Islam. Ia mencatat ada 4 buku yang disebut sebagai literatur kebatinan yaitu Serat Centini, Darmogandul, Gatoloco dan Wirid Hidayat Jati. Mengenai Darmogandul dan Gatoloco dinilai oleh Hamka karya itu bukan semata-mata sinkretisme, mencari-cari persamaan antara Hindu, Budha, dan Islam melainkan membuat tafsir tentang ajaran Islam jauh daripada yang diajarkan Islam yang murni, sehingga orang yang membacanya akan terkesan bahwa isinya mengejek Islam bahkan menjadikan Islam itu obyek penghinaan dan tertawaan. H.M. Rasyidi menilai wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito sebagai karya yang lebih tinggi mutunya dari Darmogandul dan Gatoloco, tetapi ia juga memberikan tafsir yang bukan-bukan.
Konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan dimulai dengan timbulnya kesadaran akan modernisme pemikiran Islam dari kalangan muslim santri (putihan), yaitu gerakan purifikasi pelaksanaan agama dan mensintesiskan pemikiran Barat yang dianggap pembawa kemajuan dengan Al Quran dan Sunnah sebagai doktrin Islam di berbagai aspek kehidupan (seperti politik, ekonomi, sosial, ritual, dan lain-lain).
Tema besar gerakan modern Islam di Jawa ketika itu adalah memurnikan agama dan memerangi bid’ah (mengada-adakan yang tidak ada perintahnya dalam ibadah) dan khurafat (dongeng, tahayul). Gerakan ini cenderung menitikberatkan persoalan pada masalah fiqh (hukum-hukum) dan kebangunan pemikiran teologi dan filsafat dan kurang mengindahkan aspek batin yang menjadi titik tolak tasawuf, alam pikiran sufisme, ataupun kebatinan. Gerakan modernisme Islam menjadi antitesis tasawuf dan kebatinan. Kaum modernis menganggap bahwa tasawuf, apalagi kebatinan, akan menjadi hambatan bagi upaya modernisasi dalam arti mengejar ketertinggalan iptek dari Barat.
Persentuhan budaya dengan perkembangan Islam di Jawa yang melahirkan gerakan modernis ini secara langsung atau tidak langsung mendesak alam pikiran Jawa terutama hal-hal yang bersifat mitologis, magis, dan mistis.
Desakan ini mengena pada bentuk Islam tradisional yang berbasis di pesantren-pesantren dan tarekat-tarekat, juga mengena pada berbagai macam aliran kebatinan di Jawa dan penulis hanya membahas benturan antara Islam (dalam hal ini modernisme Islam) dengan aliran kebatinan/aliran kepercayaan pada masa Orde Baru. Sebagai latar belakang penulis membahas perbenturan antara Islam dengan kebatinan sejak masa pergerakan nasional. Karena secara legal formal gerakan-gerakan modernis Islam lahir pada masa ini yaitu periode 1900-1942. Menurut Simuh secara organisasional kelompok-kelompok kebatinan atau kejawen lahir mulai masa pergerakan nasional. Menurut Soedjatmoko aliran-aliran kebatinan atau kejawen mulai diorganisir rapi sejak masa pergerakan kebangsaan.
Dalam benturan-benturan di lapangan, misalnya perdebatan lisan sulit dideteksi dan diidentifikasi, apakah ini perdebatan antara modernisme Islam dengan aliran kepercayaan ataukah antara modernisme Islam dengan tradisionalisme Islam. Sejak masuknya agama Islam ke Indonesia pertentangan di antara umat Islam –yang menurut Hamka “Islam Sunni” – dengan gerakan kebatinan itu sudah ada. Perbenturan kemudian antara Islam dengan kebatinan terjadi sejak beralihnya pusat kerajaan Jawa Islam dari Demak ke Pajang. Sunan Kudus pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Ki Kebo Kenongo, penyebar gerakan kebatinan, lalu anaknya yaitu Adiwijoyo atau Jaka Tingkir atau Mas Karebet ingin menuntut balas. Adiwijoyo berhasil menjadi raja Pajang dan memindahkan pusat kerajaan Jawa dari Demak ke Pajang. Sejak masa Pajang inilah dicari persesuaiaan dengan warisan budaya Jawa lama dan Islam. Islam diterima, tetapi hendaknya ‘dijawakan’. Sejak masa Pajang inilah populernya sebutan Kejawen.
Perbenturan berikutnya antara Islam dan kebatinan terjadi pada abad ke-18 atau lebih tepatnya pada masa kekuasaan Amangkurat IV (1719-1726) dan putranya Pakubuwana II (1726-1749), yaitu antara Ketib Anom Kudus mewakili kalangan Islam dengan Haji Mutamakim yang divonis hukum bakar di tiang gantungan karena mengajarkan ajaran Kasunyatan dan menganjurkan meninggalkan Syari’ah (hukum Islam).
Perbenturan kemudian terjadi pada Perang Padri pada abad ke-19 di Sumatera Barat kalau kita memakai definisi ‘aliran kepercayaan sama dengan sinkretisme Islam’. Hamka mengatakan bahwa sinkretisme Islam juga ada di Sumatera Barat dan di seluruh daerah di Indonesia, tetapi yang paling kental di Jawa. Sinkretisme Islam di Sumatra Barat merasuk ke dalam sifat keberagaman kaum tradisional Islam dan kaum adat. Tetapi penulis tidak akan membahas hal itu karena sulit sekali untuk mengatakan bahwa sistem adat di seluruh Indonesia itu berlawanan dengan Islam. Hal ini terletak di luar maksud tulisan ini, lagipula oleh berbedanya sistem adat yang satu dengan yang lain, penilaian sedemikian meminta tenaga dan pemikiran khusus pula. Dan juga sulit sekali membedakan antara kaum adat dengan kaum tradisionalis Islam, apalagi mengatakan bahwa kaum adat adalah penganut aliran kepercayaan. Sehingga penulis tidak bisa mengatakan bahwa konflik yang terjadi di sana adalah konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan.
Berbeda halnya dengan keadaan di Jawa. Ada pembagian tertentu dalam kalangan masyarakat yang masih berlaku hingga kini, dan yang menunjukkan adanya perbedaan cara hidup antara golongan yang sama-sama beragama Islam itu. Pembagian ini ialah penggolongan antara abangan dan putihan. Putihan ialah mereka yang taat beragama. Abangan adalah mereka yang namanya saja beragama Islam, yang kurang memperhatikan kewajiban-kewajiban berupa ibadah, dan membatasi pada peristiwa-peristiwa penting belaka dalam hidup, yaitu pada waktu lahir, akil baligh (waktu bersunat), kawin, dan mati. Pada peristiwa-peristiwa ini nampak sekali hasrat mereka akan agama, dan pergilah mereka meminta pertolongan golongan putihan untuk menunaikan kewajiban atau pun upacara-upacara yang bersangkutan dengannya.
Pembedaan antara putihan dan abangan ini di Jawa pada akhir abad ke-19 tidak mengandung sifat perselisihan. Pembedaan antara putihan dan abangan di Jawa pada permulaan abad ke-20 hanyalah merupakan pembedaan yang menunjukkan tebal tipisnya ketaatan seseorang terhadap Islam. Dalam perasaan dan sebutan semuanya menyebutkan diri mereka orang Islam, wong selam.
Memang benar dapat dikatakan bahwa Islam merupakan lapisan yang tipis belaka dalam hidup kebanyakan pengikutnya di Indonesia terutama pada permulaan abad ke-20. Pada masa itu ukuran-ukuran yang dipakai untuk menilai tebal tipisnya ketaatan seseorang dalam beragama tidaklah tinggi, misalnya mengaku Islam dan tidak makan babi dan akan dianggap sangat soleh kalau orang rajin shalat lima waktu walaupun ia banyak juga melanggar larangan agama.
Penulis memberi porsi yang cukup besar pada masa pergerakan nasional sebagai latar belakang karena perbenturan antara Islam dan kebatinan cukup terlihat yang refleksinya menjadi suatu gerakan pada masa Orde Baru. Sementara pada masa demokrasi terpimpin para pengikut aliran kepercayaan banyak yang menjadi anggota PKI dan beberapa partai lain. Debat antara pengikut aliran kepercayaan dengan anggota partai Islam masih berlangsung, tetapi menjadi sulit dibedakan antara debat agama dengan debat politik. Masalah perselisihan antara aliran kepercayaan dengan Islam ini menjadi panas kembali pada masa Orde Baru.
Pada masa Orde Baru Presiden Soeharto sejak awal menjalankan suatu model kepemimpinan yang sangat khas yakni perpaduan dari: (1) Cara berpikirnya yang sangat Jawa; (2) Kapabilitasnya yang tak terbantahkan sebagai seorang perwira militer yang cakap dan kaya pengalaman lapangan; (3) Kecanggihannya sebagai aktor politik dalam melakukan manajemen kekuasaan.
Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia:
“Tasawuf adalah aspek esoteris atau kedalaman ajaran keagamaan. Tasawuf disebut juga sufism atau mistik Islam (Islamic Mysticism). Secara garis besar lingkup tasawuf mencakup usaha manusia utuk membersihkan diri dari perilaku atau akhlak tercela (takhalli) dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji (tahalli) agar tersingkap tirai yang mennghalagi hubungan manusia dengan Tuhan (tajalli). Jaadi laku tasawuf merupakan proses keberagamaan seseorang.”
Tasawuf dalam bahasa Inggris disebut Islamic mysticism (mistik yang tumbuh dalam Islam). Adapun tujuan utama dari seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf menurut Abdul Hakim Hasan dalam bukunya Al Tashawuf Fi-al Syi’ri al Arabi bahwa:
Sasaran atau tujuan tasawuf ialah sampai kepada Dzat Al Haqq atau Mutlak (Tuhan) dan bersatu dengan Dia.
Dari konsep di atas jelas bahwa tujuan utama dari tasawuf adalah untuk sampai kepada Allah -agar dapat makrifat secara langsung kepada Dzat Allah- atau bahkan ada yang ingin bersatu dengan Tuhan.Makrifat di sini bukan melulu hanya pengetahuan semata, namun berupa pengalaman (experience). Yakni ingin bertemu langsung dengan Tuhan melalui tanggapan kejiwaannya bukan melalui panca indra serta akal. Tanggapan kejiwaan ini dapat dianalogikan seperti halnya mimpi atau mabuk (ecstasy) jiwanya sampai ke alam lain. Sebagai jalan untuk sampai kepada Allah disebut tarekat (Thariqah).
Yang kedua adalah mistik. Mistik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia ialah suatu proses yang bertujuan memenuhi keinginan atau hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan bersatunya emosi dengan Tuhan dan kekuatan transenden lainnya. Penganut mistik percaya bahwa di balik realitas yang nyata ada realitas yang lebih tinggi, yang merupakan kebenaran sesungguhnya. Mereka yakin bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu di alam ini, termasuk diri manusia, sehingga orang dapat mencari kebenaran dan pengertian tentang Tuhan melalui diri sendiri.
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut Budia Pradipta adalah mistik. Menurut Simuh kebatinan sebagian besar unsurnya adalah tasawuf.
Dalam membahas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini penulis meminjam beberapa definisi dari beberapa orang pakar seperti Simuh dan Hamka. Prof. Dr. Hamka mengatakan :
” Telah kita ketahui bahwa berbagai kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat kita di Indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di Jawa Tengah, dan ada juga di daerah-daerah lain”. ” Saya pernah diundang dua kali dalam ‘Purnama Sidi’ itu untuk mengadakan ceramah ‘kebatinan’. Dan saya kabulkan permintaan itu, lalu saya terangkan tasawuf Islam, gabungan ajaran Ghazali dan Ibnul Qayyim, dari kitab Ihya Ulumuddin dan Madarijus Salikin, Wongsonegoro SH (salah seorang tokohnya -pen) tertarik sekali dengan keterangan-keterangan itu dan memujinya. Dia mengatakan banyak ajaran-ajaran itu yang mirip dengan ajaran kebatinan. Saya diminta sering-sering mengisi ceramah agar kaum abangan tahu tentang tasawuf Islam dan melihat banyak kesamaan ajarannya”.
Yang kedua Dr. Simuh mengatakan bahwa kebatinan atau sufisme Jawa itu adalah transformasi dari tasawuf Islam ke mistik Jawa dan juga terjadi proses sinkretisasi atau akulturasi antara Islam dengan kebudayaan Jawa (hasil sinkretisme antara Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme).
Dari pendapat Hamka dan Simuh dapatlah dibuat definisi ‘Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa’ adalah kepercayaan yang dianut oleh golongan Islam abangan di Jawa yang bersumber dari sinkretisme Islam dengan animisme-dinamisme serta Hindu-Budha’.
Mengenai istilah kebatinan ada beberapa pendapat yang dikemukakan di sini. Pendapat pertama dari Drs. Warsito Sastroprajitno yang mengatakan:
“Kebatinan adalah kebudayaan spiritual dari kraton Jawa, yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dan mengalami perkembangan yang sangat unik pula”.
Dalam majalah Derap terbitan bulan Februari minggu III tahun 1978 halaman 35 dikatakan bahwa :
“Kebatinan bukan suatu agama dalam arti yang setepat-tepatnya seperti Islam, Budhisme, Hinduisme, atau Kristen. Tiada Gereja karena dianggapnya tidak perlu. Aliran ini tidak terlampau mempersoalkan masalah akhirat, sorga atau neraka atau malaikat dan iblis.
Kebatinan adalah suatu pencaharian metafisik akan suatu keselarasan di dalam batin orang, keselarasan antara batin sendiri dengan sesama manusia dan alam. Kebatinan merupakan paduan dari akultisme, metafisika, mistik, dan doktrin-doktrin lainnya, suatu ramuan khas kebolehan orang Jawa untuk mengadakan sinthesis“.
Selanjutnya Prof.Dr. Koentjaraningrat mendefinisikan bahwa:
“Mereka (kaum abangan) tidak dapat dikatakan orang yang beragama Islam yang tidak banyak menghiraukan agama, sebab sebenarnya agama yang mereka anut adalah suatu varian dari agama Islam Jawa, yaitu agama Jawi”.
Kalau menurut Azyumardi Azra, kebatinan Jawa itu digolongkan sebagai “kultus” atau bahasa Inggrisnya “cult”. Ia mengutip definisi Yinger dalam J. Milton Yinger , Society and the Individual: An Introduction to the Sociology of Religion, (New york, 1957), hal. 54-55. Oleh Yinger istilah “cult” digunakan dalam berbagai cara berbeda, yang biasanya mengacu kepada “kelompok keagamaan” berukuran kecil, yang mencari pengalaman mistik, memiliki strukur organisasii yang longgar, tetapi memiliki kepemimpinan kharismatik. Pada segi tertentu “cult” sama dengan “sect” (sekte) dalam pengertian bahwa keduanya merupakan “sempalan” dari suatu sistem agama yang mapan. Tetapi “cult” merupakan sempalan “paling ekstrim” dari tradisi keagamaan dominan dalam masyarakat. Dengan demikian “cult” berarti kelompok sempalan yang menyimpang dari “universal church“, ia merupakan kelompok kecil bersifat lokal, berumur singkat dan sering berkembang di sekitar seorang pemimpin dominan. Ia juga berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam “cult” yang merupakan varian dari agama Islam kadang terjadi proses pengentalan “cult”, kadang terjadi proses pengenceran “cult” atau ortodoksi, kembali ke ajaran Islam yang ortodoks seperti yang terjadi pada “cult” Black Muslims di Amerika Serikat. Demikian pula yang terjadi dalam ajaran kelompok-kelompok kebatinan Jawa kadang mengalami proses ortodoksi (ditarik mendekat ke Islam), kadang mengalami pengentalan “Cult” (diulur menjauh dari Islam) bahkan tanpa takut-takut memproklamirkan diri sebagai agama baru seperti ADARI (Agama Djawa Republik Indonesia) dan IIH (Iman Igama Hak).
Ada satu kitab yang memperlihatkan percampuran antar Islam dengan agama setempat di Jawa. Menurut penulis kitab inilah yang menjadi ajaran pokok dari aliran kepercayaan dan gerakan aliran kepercayaan sekarang Kitab itu adalah Wirid Hidayat Jati, dikarang oleh Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito. Menurut Simuh kitab ini adalah hasil akulturasi antara ajaran Islam-Pesantren (suatu sistem pendidikan di mana Ronggowarsito belajar) dengan budaya kraton Jawa tempat Ronggowarsito dilahirkan dan dibesarkan serta di kemudian harinya mengabdikan diri di sana. Menurutnya kitab ini berisi ajaran Union-Mistik. Sebagai suatu bentuk ajaran Union-Mistik (paham mistik yang mengajarkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan), uraian tentang Tuhan dalam Wirid Hidayat Jati tak dapat dipisahkan dengan uraian tentang manusia. Karena, setiap ajaran mistik yang berpaham union mistik tidak menarik garis perbedaan yang tegas dan esensial antara manusia dan Tuhan. Maka ungkapan tentang Tuhan, dalam paham union mistik selalu tumpang tindih dengan pernyataan tentang manusia. Karena, manusia memang bukan Tuhan, namun demikian ia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan Tuhan, sehingga tidak lain daripada Dia. Itulah logika union mistik. Hubungan Tuhan dengan manusia sering diibaratkan dengan hubungan manisnya madu dengan madu, atau laut dengan ombak. Simuh mengatakan bahwa paham union mistik dalam Wirid Hidayat Jati adalah perpaduan dari paham dalam tasawuf Islam yaitu Wihdatul Wujud-nya Al Hallaj dan Ibn ‘Arabi
Pemahaman H.M. Rasyidi pada Wirid Hidayat Jati adalah sebagai literatur kebatinan bukan literatur Islam. Ia mencatat ada 4 buku yang disebut sebagai literatur kebatinan yaitu Serat Centini, Darmogandul, Gatoloco dan Wirid Hidayat Jati. Mengenai Darmogandul dan Gatoloco dinilai oleh Hamka karya itu bukan semata-mata sinkretisme, mencari-cari persamaan antara Hindu, Budha, dan Islam melainkan membuat tafsir tentang ajaran Islam jauh daripada yang diajarkan Islam yang murni, sehingga orang yang membacanya akan terkesan bahwa isinya mengejek Islam bahkan menjadikan Islam itu obyek penghinaan dan tertawaan. H.M. Rasyidi menilai wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito sebagai karya yang lebih tinggi mutunya dari Darmogandul dan Gatoloco, tetapi ia juga memberikan tafsir yang bukan-bukan.
Konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan dimulai dengan timbulnya kesadaran akan modernisme pemikiran Islam dari kalangan muslim santri (putihan), yaitu gerakan purifikasi pelaksanaan agama dan mensintesiskan pemikiran Barat yang dianggap pembawa kemajuan dengan Al Quran dan Sunnah sebagai doktrin Islam di berbagai aspek kehidupan (seperti politik, ekonomi, sosial, ritual, dan lain-lain).
Tema besar gerakan modern Islam di Jawa ketika itu adalah memurnikan agama dan memerangi bid’ah (mengada-adakan yang tidak ada perintahnya dalam ibadah) dan khurafat (dongeng, tahayul). Gerakan ini cenderung menitikberatkan persoalan pada masalah fiqh (hukum-hukum) dan kebangunan pemikiran teologi dan filsafat dan kurang mengindahkan aspek batin yang menjadi titik tolak tasawuf, alam pikiran sufisme, ataupun kebatinan. Gerakan modernisme Islam menjadi antitesis tasawuf dan kebatinan. Kaum modernis menganggap bahwa tasawuf, apalagi kebatinan, akan menjadi hambatan bagi upaya modernisasi dalam arti mengejar ketertinggalan iptek dari Barat.
Persentuhan budaya dengan perkembangan Islam di Jawa yang melahirkan gerakan modernis ini secara langsung atau tidak langsung mendesak alam pikiran Jawa terutama hal-hal yang bersifat mitologis, magis, dan mistis.
Desakan ini mengena pada bentuk Islam tradisional yang berbasis di pesantren-pesantren dan tarekat-tarekat, juga mengena pada berbagai macam aliran kebatinan di Jawa dan penulis hanya membahas benturan antara Islam (dalam hal ini modernisme Islam) dengan aliran kebatinan/aliran kepercayaan pada masa Orde Baru. Sebagai latar belakang penulis membahas perbenturan antara Islam dengan kebatinan sejak masa pergerakan nasional. Karena secara legal formal gerakan-gerakan modernis Islam lahir pada masa ini yaitu periode 1900-1942. Menurut Simuh secara organisasional kelompok-kelompok kebatinan atau kejawen lahir mulai masa pergerakan nasional. Menurut Soedjatmoko aliran-aliran kebatinan atau kejawen mulai diorganisir rapi sejak masa pergerakan kebangsaan.
Dalam benturan-benturan di lapangan, misalnya perdebatan lisan sulit dideteksi dan diidentifikasi, apakah ini perdebatan antara modernisme Islam dengan aliran kepercayaan ataukah antara modernisme Islam dengan tradisionalisme Islam. Sejak masuknya agama Islam ke Indonesia pertentangan di antara umat Islam –yang menurut Hamka “Islam Sunni” – dengan gerakan kebatinan itu sudah ada. Perbenturan kemudian antara Islam dengan kebatinan terjadi sejak beralihnya pusat kerajaan Jawa Islam dari Demak ke Pajang. Sunan Kudus pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Ki Kebo Kenongo, penyebar gerakan kebatinan, lalu anaknya yaitu Adiwijoyo atau Jaka Tingkir atau Mas Karebet ingin menuntut balas. Adiwijoyo berhasil menjadi raja Pajang dan memindahkan pusat kerajaan Jawa dari Demak ke Pajang. Sejak masa Pajang inilah dicari persesuaiaan dengan warisan budaya Jawa lama dan Islam. Islam diterima, tetapi hendaknya ‘dijawakan’. Sejak masa Pajang inilah populernya sebutan Kejawen.
Perbenturan berikutnya antara Islam dan kebatinan terjadi pada abad ke-18 atau lebih tepatnya pada masa kekuasaan Amangkurat IV (1719-1726) dan putranya Pakubuwana II (1726-1749), yaitu antara Ketib Anom Kudus mewakili kalangan Islam dengan Haji Mutamakim yang divonis hukum bakar di tiang gantungan karena mengajarkan ajaran Kasunyatan dan menganjurkan meninggalkan Syari’ah (hukum Islam).
Perbenturan kemudian terjadi pada Perang Padri pada abad ke-19 di Sumatera Barat kalau kita memakai definisi ‘aliran kepercayaan sama dengan sinkretisme Islam’. Hamka mengatakan bahwa sinkretisme Islam juga ada di Sumatera Barat dan di seluruh daerah di Indonesia, tetapi yang paling kental di Jawa. Sinkretisme Islam di Sumatra Barat merasuk ke dalam sifat keberagaman kaum tradisional Islam dan kaum adat. Tetapi penulis tidak akan membahas hal itu karena sulit sekali untuk mengatakan bahwa sistem adat di seluruh Indonesia itu berlawanan dengan Islam. Hal ini terletak di luar maksud tulisan ini, lagipula oleh berbedanya sistem adat yang satu dengan yang lain, penilaian sedemikian meminta tenaga dan pemikiran khusus pula. Dan juga sulit sekali membedakan antara kaum adat dengan kaum tradisionalis Islam, apalagi mengatakan bahwa kaum adat adalah penganut aliran kepercayaan. Sehingga penulis tidak bisa mengatakan bahwa konflik yang terjadi di sana adalah konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan.
Berbeda halnya dengan keadaan di Jawa. Ada pembagian tertentu dalam kalangan masyarakat yang masih berlaku hingga kini, dan yang menunjukkan adanya perbedaan cara hidup antara golongan yang sama-sama beragama Islam itu. Pembagian ini ialah penggolongan antara abangan dan putihan. Putihan ialah mereka yang taat beragama. Abangan adalah mereka yang namanya saja beragama Islam, yang kurang memperhatikan kewajiban-kewajiban berupa ibadah, dan membatasi pada peristiwa-peristiwa penting belaka dalam hidup, yaitu pada waktu lahir, akil baligh (waktu bersunat), kawin, dan mati. Pada peristiwa-peristiwa ini nampak sekali hasrat mereka akan agama, dan pergilah mereka meminta pertolongan golongan putihan untuk menunaikan kewajiban atau pun upacara-upacara yang bersangkutan dengannya.
Pembedaan antara putihan dan abangan ini di Jawa pada akhir abad ke-19 tidak mengandung sifat perselisihan. Pembedaan antara putihan dan abangan di Jawa pada permulaan abad ke-20 hanyalah merupakan pembedaan yang menunjukkan tebal tipisnya ketaatan seseorang terhadap Islam. Dalam perasaan dan sebutan semuanya menyebutkan diri mereka orang Islam, wong selam.
Memang benar dapat dikatakan bahwa Islam merupakan lapisan yang tipis belaka dalam hidup kebanyakan pengikutnya di Indonesia terutama pada permulaan abad ke-20. Pada masa itu ukuran-ukuran yang dipakai untuk menilai tebal tipisnya ketaatan seseorang dalam beragama tidaklah tinggi, misalnya mengaku Islam dan tidak makan babi dan akan dianggap sangat soleh kalau orang rajin shalat lima waktu walaupun ia banyak juga melanggar larangan agama.
Penulis memberi porsi yang cukup besar pada masa pergerakan nasional sebagai latar belakang karena perbenturan antara Islam dan kebatinan cukup terlihat yang refleksinya menjadi suatu gerakan pada masa Orde Baru. Sementara pada masa demokrasi terpimpin para pengikut aliran kepercayaan banyak yang menjadi anggota PKI dan beberapa partai lain. Debat antara pengikut aliran kepercayaan dengan anggota partai Islam masih berlangsung, tetapi menjadi sulit dibedakan antara debat agama dengan debat politik. Masalah perselisihan antara aliran kepercayaan dengan Islam ini menjadi panas kembali pada masa Orde Baru.
Pada masa Orde Baru Presiden Soeharto sejak awal menjalankan suatu model kepemimpinan yang sangat khas yakni perpaduan dari: (1) Cara berpikirnya yang sangat Jawa; (2) Kapabilitasnya yang tak terbantahkan sebagai seorang perwira militer yang cakap dan kaya pengalaman lapangan; (3) Kecanggihannya sebagai aktor politik dalam melakukan manajemen kekuasaan.
Langganan:
Postingan (Atom)

