Daftar Blog Saya

Minggu, 07 Februari 2010

MENGUPAS KAROMAH AYAT KURSY (1)

Ayat Kursy memiliki banyak keistimewaan. Dan sajian berikut ini mengupas tentang 10 karomahnya. Seperti apa rahasianya…?

Menurut kalangan ulama salaf, ayat Kursy merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam pencapaian derajat. Wilayah, karomah serta mu’jizatnya ansabul ilmi dengan suatu penafsiran, tidak ada ilmu lain yang menyamai akan rahmat serta salamnya. Karena ayatul Kursy tercipta sebagai suatu puncaknya alam, yaitu Arsy (langit ketujuh) dan sebagai ilmu teragung. Yang mana, Allah SWT menurunkannya pada seorang hamba yang agung pula, yaitu utusan akhiru zaman, Rasulullah Muhammad SAW.
Dari zaman ke zaman, ayatul Kursyi selalu dibaca oleh seluruh umat, misalnya dalam suatu tadarus Al-Qur’an, dzikir bersama, serta dalam upaya pendekatan diri kepada sang Khaliq. Dalam sebuah arti ritual, asma ayatul Kursy mempunyai suatu kunci sebagai pembukanya. Demikian menurut para masyaikh, mursyid serta para ahlul ghoib.Sebagai kunci ayatul Kursyi, adalah sanadnya, atau silsilah, tawassul serta hadoroh, karena dari Nabiyullah Muhammad SAW, ayatul Kursyi turun temurun dipegang oleh para khosois pilihannya. Hingga suatu karomah ilmu tersebut, tak pernah pupus sampai akhir zaman.
Runtutan ilmu ayatul Kursyi adalah sebagai berikut :
1. Tawasul,
2. Ayat Kursy,
3. Do’a,
Allohumma inni as’aluka bihakikal adzim,
Wabihakki nuri wajhikal karim,
Wabihakki hadzihil ayatis syarifah,
Wabihaibati hadzihil ayatis syarifah,
Wabi Manzilati hadzihil ayatis syarifah,
Wabifadli hadzihil ayatis syarifah
(antul himani ilman ladunian nafi’an waddunya wal akhiroh),
Inaka ala kulli syai’in qodir, wabil ijabati jadir. Wasolloha wasalam ala khoiri khol kihi muhammadin wa’ala alihi wasoh bihi wasallam walahamdulillahi robil ‘alamin.
Dalam suatu amaliyah, ilmu ayatul Kursyi terbagi menjadi 5, yaitu: 7 hari, 17 hari, 21 hari, 31 hari, dan 41 hari. Semua itu tergantung dari niatan dan keikhlasan dari seorang ritualis itu sendiri di dalam memilih arti tirakat di atas. Dan sebagai suatu kuncinya, maka, siapkanlah terlebih dahulu Buhur Ambar.
Karena buhur tersebut aroma wanginya sangat disukai oleh Naibiyullah Muhammad SAW, tak pelak, secara turun temurun buhur tersebut selalu dipakai para khosois ahli batin sebagai salah satu syarat dan sunnatur rosul.
Adapun Ayatul Kursy sendiri memiliki 10 macam keistimewaan, yakni:
1. Sarana pengasihan diri
Jika menginginkan suatu “raja asihan” ratu pelet jagat buana, baiknya lakukan dengan puasa BILA RUHIN (tanpa makan yang bernyawa) selama 7 hari atau 17 hari lamanya. Dan untuk menjadi “raja asihan” maka lakukanlah tata cara sebagai berikut;
- Sebelum melaksanakan ritual di atas, sebaiknya sholat hajat terlebih dahulu dua rakaat. Dan sesudahnya bakar buhur ambar sebagai suatu syarat sunnatur rosul.
- Baca tawasul terlebih dahulu. Baru kemudian baca ayatul Kursy sebanyak 41x diteruskan dengan doanya sebanyak 21x
- Setelah selesai ritual, bakar buhur ambar kembali, dan asapi kedua telapak tangan diatasnya sekitar 1 menit kemudian sapukan kedua telapak tangan tersebut ke wajah. Tentunya, cara ini sebagai suatu sarana magis pembuka aura ketampanan maupun kecantikan.
- Paling baik ritual dilakukan pada pukul 23.00.

2 . Ilmu pelet jarak jauh
Panah asmara bisa dibuktikan secara langsung hasilnya dengan ketentuan sebagai berikut:
Carilah daun nangka tunggal, tegasnya, daun yang hanya satu helai di dalam satu tangkai. Biasanya, daun jenis ini banyak terdapat pada tangkai buah nangka yang sudah tua atau akan matang serta berwarna agak menguning. Carilah daun itu sebanyak mungkin hingga sebuah ritual maha dahsyat pun siap dilaksanakan;
- Tulis nama lengkap orang yang akan dituju berikut nama orang tuanya di atas daun nangka tersebut.
- Bakarlah buhur ambar, dan asapilah daun nangka tersebut sambil dibolak-balik sekitar 1 menit.
- Bacalah tawassul terlebih dahulu, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 121 x, lalu ditutup dengan doa sebanyak 41x.
Untuk pembuktian terkena atau tidaknya sasaran yang dituju, maka, celupkan daun nangka yang sudah dirituali ke minyak tanah, solar, atau bensin. Kemudian bakar! Jika daun terbakar habis, maka, ilmu pelet itu belum mengenai sasarannya. Tapi, bila hanya terbakar separuh, itu pertanda ilmu pelet telah mengenai sasarannya.

3 . Untuk media penyembuhan
Ambillah satu botol air mineral dengan tata cara sebagai berikut :
- Bakar buhur ambar
- Peganglah botol air mineral dengan kedua tangan.
- Bacalah sanad atau tawassul terlebih dahulu. Lalu mohonkan suatu kesembuhan pada sang Kholiq secara tulus dan ikhlas.
- Bacalah ayatul Kursy berulang-ulang, sambil pikiran terfokus pada air mineral tersebut sampai adanya suatu perubahan. Dengan kata lain, kita akan merasakan suatu hawa dingin pada air mineral yang kita pegang. Seolah air tersebut diberi es di dalamnya. Bila sudah begitu, maka, teruskan dengan membaca do’a sebanyak 3x.

4 . Memperlancar rizqi
Coba ikuti kiat berikut ini:
- Setiap usai sholat fardhu dawamkanlah ayatul Kursy.
- Tawassul (seikhlasnya) ayatul Kursy 11x dan doanya 7x, lakukan cara tersebut setiap hari. Insya Allah, suatu kerezekian maha dahsyat akan mengiringi hidup Anda.

5 . Zimat pagar ghoib
Pagarlah rumah atau tempat usaha Anda dengan sarana magis ayatul Kursy. Dengan cara sebagai berikut :
- Tulislah dalam sehelai kertas, dari tawassul ayatul Kursy hingga sampai kedoanya dengan tinta ja’faron super, dan tempelkan di atas pintu rumah. Niscaya akan aman dari marabahaya bersifat hitam.

6 . Azimat kerezekian
Sebagai penarik rizki 4 penjuru mata angina. Lakukan cara seperti No. 5 di atas. Dan masukkan azimat tersebut pada laci uang di toko/warung Anda. Insya Allah, suatu keberuntungan akan selalu menyertai.

7 . Sarana kecerdasan akal
- Ambil kemenyan Arab putih sebesar kuku anak-anak, masukkan kemenyan tersebut pada air susu panas.
- Bakar buhur ambar, lalu bacalah tawassul sebagai suatu kunci, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy 3x, serta doanya 3x.

8 . Sarana penarik mimpi
Bagi muda-mudi yang sedang dilanda asmara, tentunya amatl ingin bila sang pujaan hati selalu memimpikan kita. Dan semua itu bisa terlaksana dengan suatu kiat sebagai berikut :
- Ambil satu daun sirih (langsung dipetik dari pohonnya), kemudian tulis nama yang akan dituju berikut nama kita sendiri di atas daun sirih tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapi daun sirih magis tersebut.
- Baca tawassul, lalu ayatul Kursy sebanyak 17x ditutup dengan doa sebanyak 7x. Setelah selesai letakkan daun sirih magis itu di bawah bantal untuk ditiduri. Niscaya, dalam hitungan jam, sang pujaan hati pun akan memimpikan kita.

9 . Selamat dari suatu masalah
- Ambil garam kasar yang masih murni, masukkan dalam segelas air putih. Kemudian tulis nama-nama orang yang bermasalah dengan kita, dan masukkan ke dalam air garam tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapilah air garam di atasnya sekitar menit.
- Baca tawassul seikhlasnya, lalu diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 21x, kemudian doa 11x.
- Buang air garam tersebut di depan pintu rumah kita. Niscaya orang yang punya masalah akan enggan atau malas menagihnya.


10. Sebagai sarana pengisian benda bertuah
Untuk spirituallis ilmu ayatul Kursy yang menginginkan suatu pengisian kedigjayaan ataupun lainnya, ada baiknya mengikuti cara sebagai berikut :
- Puasa bila ruhin (tanpa makan yang bernyawa) selama 17 hari.
- Setiap jam 23.00, sholat hajat 2 rakaat, sesudahnya bakar buhur ambar sebagai sarana dan sunnaturrosul.
- Baca tawassul seikhlasnya. Lalu baca ayatul Kursy sebanyak 121x, dan doanya sebanyak 41x, lakukan cara seperti di atas selama 17 malam berturut-turut.
- Sebagai sarana pengisian atau yang ingin diisi, ambil batu akik, kulit kijang, macan, gaman, dan lain sebagainya.
- Bakar buhur ambar dan asapi benda yang akan kita isi di atasnya + 5 menit, lalu masukkan benda tersebut pada segelas air putih.
- Baca ritual seperti diatas dengan hitungan ayatul Kursy sebanyak 21x dan doanya 11x, bila sampai di (….) hilangkan kalimat di dalamnya, diganti dengan tujuan pengisian.
Untuk membuktikan masuk atau tidaknya suatu pengisian, maka, lakukan cara sebagai berikut :
- Ambil benda yang sudah diisi. Lalu carilah kamar kosong dan tutup pintu kamar tersebut.
- Untuk penerangan, cukup nyalakan sebatang lilin dan letakkan di lantai.
- Mulailah duduk bersila + 1 meter dari nyala lilin.
- Fokuskan mata kita ke api lilin + 30 menit. Pada saat ini, mata jangan sekali-kali terpejam. Bila waktu sudah dianggap cukup, ambil benda yang barusan diisi dan tatap seperti halnya waktu menatap api lilin tadi. Bila benda tersebut memendarkan cahaya berkunang-kunang dan mempunyai warna hijau, kuning, putih, hitam maupun merah, semua itu sudah menandakan isian yang tadi dilakukan sudah masuk ke dalamnya. Dan itulah yang disebut dengan isian PAMOR MAGIS.
Demikianlah 10 keutamaan ayat Kursy menurut yang pernah penulis pelajari dari beberapa orang guru. Karena alasan teknis, memang ada beberapa bagian yang terpaksa penulis tidak beberkan dalam sajian ini. Semoga bermanfaat.

TAHAPAN MENEMBUS DIMENSI ALAM JIN

Banyak orang yang ingin menembus alam jin, atau mengundang mereka. Ternyata, untuk mewujudkan impian ini bukanlah pekerjaan mudah. Ada tahapan-tahapan yang harus kita kuasai, sebelum kita memulai ritual memembus alam jin. Seperti apakah itu…?

Budaya hidup yang Hedonis yang menitikberatkan pada kepuasaan materi, pada akhirnya turut menggiring manusia untuk selalu mengedepankan rasionalitas dalam ukuran akal semata. Pemahaman ilmu batin atau keparanormalan menjadi terabaikan, sebab bidang ilmu ini dianggap tidaklah memenuhi ukuran aspek materialistik. Akibatnya, adat leluhur kian terkikis, bahkan cenderung dilupakan. Norma-norma ajaran nenek moyang, misalnya saja ajaran para Wali, sudah mulai pudar dan dianggap usang.
Seiring dengan terjadinya kecenderungan itu para ahli khoarik, pertapa dan ahli batin lainnya mulai sulit dicari. Hal ini memang seiring dengan perkembangan zaman yang lebih terfokus pada hal yang bersifat teknologi, iptek, ata sayen. Sementara aspek-aspek keilmuan di luar itu hanya dianggap takhyul, atau bahkan dongeng isapan jempol.Kendati demikian, sebentuk keyakinan masih tetap saja muncul di hati para pencari ilmu bersifat batiniah. Mereka masih punya rasa percaya diri untuk mencari suatu kemaslahatan tentang ilmu Allah SWT, dalam mengarungi kebesaranNya lewat kehidupan makhluk tak kasat mata.
Hanya saja dalam merilis ilmu supranatural di zaman sekarang memang tak semudah seperti yang kita bayangkan. Walau dalam kenyataannya banyak jasa paranormal yang memberikan layanan khusus seputar ilmu supranatural, namun semuanya lebih terfokus kearah produk jadi atau instan, bukan mengarah ke jalur olah batin yang pada intinyab mengajarkan bagaimana kita bisa dekat dengan mereka, para makhluk yang ada dalam di mensi lain.
Lewat pemahaman ahli Al-Hikmah, sesungguhnya di zaman melinium akhir seperti sekarang ini, amatlah sulit mencapai puncak keberhasilan dalam mengolah batin secara akurat. Mengapa? Sebab di samping kita hidup di era yang penuh akan godaan duniawi yang stiap saat selalu kita lihat dan begitu memikat, di sisi lainnya faktor penghayatan terhadap ilmu juga semakin kurang menunjang. Contoh kasus paling rumit sepeti susahnya mencari guru spiritual. Ditambah lagi sulit mencari tempat-tempat yang sepi dan tenang untuk berkhalwat, sebab kini hampir semua tempat sudah mulai ramai, sehingga ketenangan batin kita mudah terganggu karenanya.
Dalam hal keyakinan, semangat dan penghayatan dalam hal ilmu supranatural di masa kini semakin dangkal, bahkan cenderung dianggap remah. Padahal, inilah salah satu faktor penentu dalam menapaki ilmu bersifat kebatinan, yang pada akhirnya seringkali gagal di tengah jalan.
Sebagai suatu pemahaman, kunci dasar untuk bisa menguasai bermacam sifat supranatural terdiri dari tiga bagian, yaitu: semangat dan keyakinan, guru pembimbing, dan pengontrolan hati.

SEMANGAT DAN KEYAKINAN
Untuk memulai menjadi seorang suprantural, kita dituntut agar terus bersemangat secara alamiah tanpa ada perasaan terbebani maupun keterpaksaan. Makna semangat dan keyakinan ini terbagi menjadi dua hal, yakni yang keluar dari pikiran atau kemudian menjelma menjadi semangat, dan yang keluar dari sifat hati yang kemudian berwujud menjadi keyakinan.
Semangat yang berada dalam pikiran biasanya hanya ada di permukaan atau dzohir saja, dan seterusnya akan menjadi suatu kegagalan, jika hal ini tidak dilandasi dengan adanya keyakinan yang kuat dalam hati sanubari kita. Sebagai contoh, kita disuruh menjalankan puasa dan wiridan selama 7 hari berturut-turut. Jika kita hanya punya semangat tapi tidak punya keyakinan, maka kita akan ragu dan selanjutnya kegagalanlah yang kita hadapi. walnya kita memang bersemangat, namun setelah menjalani dua malam berturut-turut dan kelelahan serta kejenuhan mulai terasa, maka seketika pikiran kita menjadi kacau, rasa capek, malas, takut, lapar dan lain sebagainya akan mudah mempengaruhi organ tubuh kita sehingga niat membatalkan puasa ini akan mudah sekali kita jumpai.
Sedangkan “semangat yang keluar dari sifat hati” atau keyakinan, biasanya akan terus dijaga oleh seorang supranaturalis sejati. Sebab, rasa tanggungjawab untuk sampai mengakhiri masa ritual lebih diutamakan, sehingga hawa pikiran negative bisa ditutup dengan serapat-rapatnya.

GURU PEMBIMBING
Dalam memahami ilmu supranatural, guru pembimbing sangat berperan dalam menentukan suatu keberhasilan ilmu bagi anak didiknya. Disamping sang guru bisa mengarahkan tentang sebuah arti keyakinan, sang guru juga bisa memberi kesemangatan secara akurat sehingga sang murid akan mudah mengikuti jejak atau ajaran-ajarannya.

PENGONTROLAN HATI
Bila seorang supranatural sudah bisa memahami tentang makna semangat, keyakinan dan penghayatan ilmu yang diberikan lewat bimbangan guru spiritualisnya, maka sang supranaturalis tadi tinggal mengolah keyakinannya sendiri dengan terus mengontrol kepekaan hati sehingga apa yang diinginkannya akan mudah tercapai.
Nah, sebagai penghayatan yang lebih luas tentang seputar ilmu supranatural, berikut ini Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin. Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan. Maksudnya tiada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya…:
Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba’u Usulul Hikmah Bimuallif, karangan Imam Ali Albuny, diterangkan sebagai berikut:
Bahwa setiap manusia yang menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.
Di samping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini yang dimaksud adalah Jin Muslim-Pen) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melaikan kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu yang akan kita terima.
Mengenai arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama sudah menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti pendapat dari Imam Bujeremi, dalam kitabnya “IQNA”. Imam Bujeremi menuliskan beberapa tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, dimulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama’, Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan Arsy.
Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang sudah cukup ilmu dan pengetahuan untuk menembusnya.
Mari kita kembali ke tahapan menembus dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab “Manba”u Usulul Hikmah”, dijabarkan bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah menguasai dua alam sebagai tingkatan alam dibawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul Jumud.
Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi dan lautan. Ahmar juga disebut dengan istilah “Bangsa Lelembut” yang masih keturunan dari bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syiet, yang diturunkan lewat zaman sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar ini adalah: Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.
Abdul Jumud: Sebuah alam yang dihuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi, batu dan pepohonan. Abdul Jumud disini disebut juga dengan istilah “Dedemit”. Mereka juga masih keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: Kuntilanak, Memedi, Perkayang dan lain sejenisnya.
Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya.
Sedangkan untuk melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak mengganggu prosesi ritual yang kita jalankan.
Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu rituanya adalah dengan menaburkan terus kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus menerus. Hanya saja dalam pengenalan menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita temui.
Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual, dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak dari sifat mereka.
Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin disini terbagi menjadi dua golongan, yaitu Abyad dan Aswad (Jin Putih/Muslim dan Jin Hitam/Kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni: tanah, air, bangunan, dan awang-awang (angkasa).
Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji ritual yang disajikan untuk mereka.
Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa Jin Hitam atau Jin Kafir-lah yang akan berperan untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diming-imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa diterima akal.
Intinya, pikiran kita akan terus dicecoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan. Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar, suka melamun dan tidak menerima akan nasehat apapun dari orang lain.
Bukan hanya itu saja, golongan jin hitam atau Jin Kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan, serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama (Islam)
Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, seringkali didatangi makhluk-makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka janganlah digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa mereka berasal golongan bangsa jin hitam atau Jin Kafir.
Kitab Manba’u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya, “Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas.”
Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant dimuka bumi ini, kecuali kita sendiri mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasainya.
Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat,ajian, atau amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin-Pen) yang akan kita temui kelak.
Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dan dari mana sumbernya. Bisa juga lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf, Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Tholthobausin, dari bangsa gaibnya bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar ini sudah jelas masuk dalam katagori huruf Alif.
Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menunjukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma’ Ahmar dan dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim…dan seterusnya.

TAHAPAN MENEMBUS DIMENSI ALAM JIN

Banyak orang yang ingin menembus alam jin, atau mengundang mereka. Ternyata, untuk mewujudkan impian ini bukanlah pekerjaan mudah. Ada tahapan-tahapan yang harus kita kuasai, sebelum kita memulai ritual memembus alam jin. Seperti apakah itu…?

Budaya hidup yang Hedonis yang menitikberatkan pada kepuasaan materi, pada akhirnya turut menggiring manusia untuk selalu mengedepankan rasionalitas dalam ukuran akal semata. Pemahaman ilmu batin atau keparanormalan menjadi terabaikan, sebab bidang ilmu ini dianggap tidaklah memenuhi ukuran aspek materialistik. Akibatnya, adat leluhur kian terkikis, bahkan cenderung dilupakan. Norma-norma ajaran nenek moyang, misalnya saja ajaran para Wali, sudah mulai pudar dan dianggap usang.
Seiring dengan terjadinya kecenderungan itu para ahli khoarik, pertapa dan ahli batin lainnya mulai sulit dicari. Hal ini memang seiring dengan perkembangan zaman yang lebih terfokus pada hal yang bersifat teknologi, iptek, ata sayen. Sementara aspek-aspek keilmuan di luar itu hanya dianggap takhyul, atau bahkan dongeng isapan jempol.Kendati demikian, sebentuk keyakinan masih tetap saja muncul di hati para pencari ilmu bersifat batiniah. Mereka masih punya rasa percaya diri untuk mencari suatu kemaslahatan tentang ilmu Allah SWT, dalam mengarungi kebesaranNya lewat kehidupan makhluk tak kasat mata.
Hanya saja dalam merilis ilmu supranatural di zaman sekarang memang tak semudah seperti yang kita bayangkan. Walau dalam kenyataannya banyak jasa paranormal yang memberikan layanan khusus seputar ilmu supranatural, namun semuanya lebih terfokus kearah produk jadi atau instan, bukan mengarah ke jalur olah batin yang pada intinyab mengajarkan bagaimana kita bisa dekat dengan mereka, para makhluk yang ada dalam di mensi lain.
Lewat pemahaman ahli Al-Hikmah, sesungguhnya di zaman melinium akhir seperti sekarang ini, amatlah sulit mencapai puncak keberhasilan dalam mengolah batin secara akurat. Mengapa? Sebab di samping kita hidup di era yang penuh akan godaan duniawi yang stiap saat selalu kita lihat dan begitu memikat, di sisi lainnya faktor penghayatan terhadap ilmu juga semakin kurang menunjang. Contoh kasus paling rumit sepeti susahnya mencari guru spiritual. Ditambah lagi sulit mencari tempat-tempat yang sepi dan tenang untuk berkhalwat, sebab kini hampir semua tempat sudah mulai ramai, sehingga ketenangan batin kita mudah terganggu karenanya.
Dalam hal keyakinan, semangat dan penghayatan dalam hal ilmu supranatural di masa kini semakin dangkal, bahkan cenderung dianggap remah. Padahal, inilah salah satu faktor penentu dalam menapaki ilmu bersifat kebatinan, yang pada akhirnya seringkali gagal di tengah jalan.
Sebagai suatu pemahaman, kunci dasar untuk bisa menguasai bermacam sifat supranatural terdiri dari tiga bagian, yaitu: semangat dan keyakinan, guru pembimbing, dan pengontrolan hati.

SEMANGAT DAN KEYAKINAN
Untuk memulai menjadi seorang suprantural, kita dituntut agar terus bersemangat secara alamiah tanpa ada perasaan terbebani maupun keterpaksaan. Makna semangat dan keyakinan ini terbagi menjadi dua hal, yakni yang keluar dari pikiran atau kemudian menjelma menjadi semangat, dan yang keluar dari sifat hati yang kemudian berwujud menjadi keyakinan.
Semangat yang berada dalam pikiran biasanya hanya ada di permukaan atau dzohir saja, dan seterusnya akan menjadi suatu kegagalan, jika hal ini tidak dilandasi dengan adanya keyakinan yang kuat dalam hati sanubari kita. Sebagai contoh, kita disuruh menjalankan puasa dan wiridan selama 7 hari berturut-turut. Jika kita hanya punya semangat tapi tidak punya keyakinan, maka kita akan ragu dan selanjutnya kegagalanlah yang kita hadapi. walnya kita memang bersemangat, namun setelah menjalani dua malam berturut-turut dan kelelahan serta kejenuhan mulai terasa, maka seketika pikiran kita menjadi kacau, rasa capek, malas, takut, lapar dan lain sebagainya akan mudah mempengaruhi organ tubuh kita sehingga niat membatalkan puasa ini akan mudah sekali kita jumpai.
Sedangkan “semangat yang keluar dari sifat hati” atau keyakinan, biasanya akan terus dijaga oleh seorang supranaturalis sejati. Sebab, rasa tanggungjawab untuk sampai mengakhiri masa ritual lebih diutamakan, sehingga hawa pikiran negative bisa ditutup dengan serapat-rapatnya.

GURU PEMBIMBING
Dalam memahami ilmu supranatural, guru pembimbing sangat berperan dalam menentukan suatu keberhasilan ilmu bagi anak didiknya. Disamping sang guru bisa mengarahkan tentang sebuah arti keyakinan, sang guru juga bisa memberi kesemangatan secara akurat sehingga sang murid akan mudah mengikuti jejak atau ajaran-ajarannya.

PENGONTROLAN HATI
Bila seorang supranatural sudah bisa memahami tentang makna semangat, keyakinan dan penghayatan ilmu yang diberikan lewat bimbangan guru spiritualisnya, maka sang supranaturalis tadi tinggal mengolah keyakinannya sendiri dengan terus mengontrol kepekaan hati sehingga apa yang diinginkannya akan mudah tercapai.
Nah, sebagai penghayatan yang lebih luas tentang seputar ilmu supranatural, berikut ini Penulis akan membeberkan rahasia menembus dimensi alam jin. Hanya saja, dalam pembedaranya nanti, penulis akan memaparkan lewat tahapan demi tahapan. Maksudnya tiada lain agar bagi mereka yang suka akan dunia mistik, bisa dengan mudah memahaminya. Seperti apakah tahapannya? Inilah uraian selengkapnya…:
Lewat pemahaman yang disarikan dari kitab Manba’u Usulul Hikmah Bimuallif, karangan Imam Ali Albuny, diterangkan sebagai berikut:
Bahwa setiap manusia yang menginginkan berjumpa atau masuk ke alam bangsa jin, maka dia harus bisa melewati dua alam terlebih dahulu, yaitu: Alamul Ahmar dan Alamul Abdul Jumud.
Di samping hal tersebut, kita juga harus bisa memahami tentang pintu-pintu gaib yang bakal kita tempuh atau kita lalui. Mengapa? Sebab, sedikit saja kita salah jalan, bukan bangsa jin (dalam hal ini yang dimaksud adalah Jin Muslim-Pen) yang bakal kita temui, melainkan bangsa alam lain yang samar-samar dan tak kasat mata. Walhasil, bukan keinginan kita yang akan tercapai, melaikan kefatalan dan tipu muslihat dari bangsa gaib yang menyesatkan itu yang akan kita terima.
Mengenai arti alam sendiri, jauh-jauh para ulama sudah menuliskannya di beberapa kitab. Salah satunya seperti pendapat dari Imam Bujeremi, dalam kitabnya “IQNA”. Imam Bujeremi menuliskan beberapa tingkatan alam yang terdiri dari makhluk tak kasat mata, dimulai dari alam manusia, Ahmar, Abdul Jumud, Ahyar, Jin, Azrak, Khoarik, Thurobi, Barri, Adli, Sama’, Majazi, Malaikat, Jabarut, Qolam, dan Arsy.
Nah, dari kehidupan makhluk-makhluk yang berada di alamnya masing-masing, manusia bisa saja menemui atau menembus ke salah satu alam yang diinginkan bila manusia itu sendiri memang sudah cukup ilmu dan pengetahuan untuk menembusnya.
Mari kita kembali ke tahapan menembus dimensi alam jin. Lewat pembedaran yang sama dari kitab “Manba”u Usulul Hikmah”, dijabarkan bahwa siapapun orangnya bisa menembus dimensi alam jin apabila manusia itu sendiri sudah menguasai dua alam sebagai tingkatan alam dibawahnya, yakni alam Ahmar dan alam Abdul Jumud.
Alam Ahmar: Sebuah alam yang dihuni jutaan makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi dan lautan. Ahmar juga disebut dengan istilah “Bangsa Lelembut” yang masih keturunan dari bangsa manusia lewat silsilah Anfus, anak dari Nabiyullah Syiet, yang diturunkan lewat zaman sanghiyang. Yang termasuk ke dalam golongan penghuni Alam Ahmar ini adalah: Nyi Roro Kidul, Dewi Lanjar, dan seluruh wadya balanya.
Abdul Jumud: Sebuah alam yang dihuni oleh bangsa makhluk tak kasat mata yang menguasai bumi, batu dan pepohonan. Abdul Jumud disini disebut juga dengan istilah “Dedemit”. Mereka juga masih keturunan bangsa manusia dari zaman Togog. Contohnya seperti: Kuntilanak, Memedi, Perkayang dan lain sejenisnya.
Nah, untuk bisa menguasai kedua alam ini, di setiap akan ritual menembus dimensi alam jin, siapkan sesaji berupa: bunga setaman, melati, mawar dan kelapa hijau. Hal seperti ini ditunjukkan untuk menghormati bangsa Ahmar sebagai wasilah jalannya.
Sedangkan untuk melewati alam bangsa Abdul Jumud disarankan agar membakar madat apel jin di awal mau memulai ritual. Niscaya bangsa Abdul Jumud ini akan paham dan tidak mengganggu prosesi ritual yang kita jalankan.
Untuk membuka pintu alam jin sendiri, salah satu rituanya adalah dengan menaburkan terus kemenyan putih yang sudah dihaluskan secara terus menerus. Hanya saja dalam pengenalan menembus alam jin harus sangat hati-hati. Terutama siapa nama dari jin itu sendiri yang akan kita temui.
Di sisi lain, kita sebagai manusia haruslah tahu, kapan waktunya kita menjalankan ritual, dengan ayat apa kita memanggil, lewat pintu mana kita masuk, dan permohonan apa yang kita inginkan. Sebab bangsa jin tidak seperti bangsa manusia pada umumnya. Mereka selalu memakai aturan dan tatakrama yang penuh akan kedisiplinan. Mereka juga bisa dikatakan sangat temperamental dan mudah tersinggung apabila kita bangsa manusia tidak bisa memahami watak dari sifat mereka.
Sebagai suatu kewaspadaan, bangsa jin disini terbagi menjadi dua golongan, yaitu Abyad dan Aswad (Jin Putih/Muslim dan Jin Hitam/Kafir). Di samping itu bangsa jin terdiri dari empat sifat perilaku, tergantung dari alam yang ditempatinya, yakni: tanah, air, bangunan, dan awang-awang (angkasa).
Dari empat sifat yang menjadi tempat tinggal mereka, semua mempunyai perbedaan dalam menerima kita manusia, baik dari segi pemanggilan, ayat atau amalan yang dibaca, maupun sesaji ritual yang disajikan untuk mereka.
Apabila kita tidak memahami secara mendetil tentang ritual untuk menembus ke alam mereka, golongan bangsa Jin Hitam atau Jin Kafir-lah yang akan berperan untuk menemui kita dengan seribu tipu daya yang menyesatkan. Misalnya saja, kita akan diming-imingi kekayaan, harta karun, bisa menarik pusaka dan lain-lain perkara musykil yang tidak bisa diterima akal.
Intinya, pikiran kita akan terus dicecoki oleh bermacam hayalan yang menggiurkan. Ucapan kita jadi ngelantur, mudah emosi, mudah tersinggung, senang menutup diri dalam kamar, suka melamun dan tidak menerima akan nasehat apapun dari orang lain.
Bukan hanya itu saja, golongan jin hitam atau Jin Kafir juga akan terus menjumpai kita dengan taktik berupa kelembutan, serta berperan dalam kebaikan, seperti halnya figure guru gaib yang benar-benar mau mengajarkan seluruh ilmunya kepada kita. Nah, bila sudah seperti ini jadinya, kita sudah melenceng jauh dari jalan yang sebelumnya kita harapkan. Lebih fatal lagi, kita bisa melenceng dari akidah beragama (Islam)
Sekedar tips, apabila dalam suatu ritual yang kita jalani selama ini, seringkali didatangi makhluk-makhluk dari dimensi lain, maka cobalah perhatikan kedatangan mereka. Apabila makhluk lain alam ini datang menjumpai kita dari arah depan, belakang, samping kanan atau kiri, maka janganlah digubris kedatangannya. Sebab cara kedatangan mereka seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa mereka berasal golongan bangsa jin hitam atau Jin Kafir.
Kitab Manba’u Usulul Hikmah sendiri mengupasnya, “Jangan sesekali Anda percaya akan tipu muslihat dari beragam makhluk gaib yang datang dari arah empat penjuru. Sesungguhnya, hanya satu arah yang mereka lewati sebagai teman kita yang benar, yaitu lewat arah atas.”
Lewat pembedaran salah satu tahapan ini, tentu diharapkan akan bisa menjadi bahan intropeksi kita bersama, bahwa sejatinya tidak ada ilmu yang bersifat instant dimuka bumi ini, kecuali kita sendiri mau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menguasainya.
Nah, untuk tahap terakhir dalam menembus dimensi alam jin, pelajarilah ayat-ayat,ajian, atau amalan pemanggilan secara matang. Sebab, kesemuanya itu akan menentukan suatu pilihan kita untuk bisa memilih, siapa (maksudnya bangsa jin-Pen) yang akan kita temui kelak.
Sebagai bahan dasar, pelajari arti, naktu, huruf, angka, rujukan dan dari mana sumbernya. Bisa juga lewat rahasia huruf Abajadun. Sebab rahasia huruf, Abajadun, memuat 99 keistimewaan, yang mana salah satunya termasuk dari rahasia alam jin itu sendiri. Seperti contoh, huruf Alif yang mempunyai angka 1. Penjaga dari huruf Alif ini adalah malaikat bernama Tholthobausin, dari bangsa gaibnya bernama Ahmar. Ayat dari Alif sendiri adalah Al-Quddus. Dari bangsa gaib yang bernama Ahmar ini sudah jelas masuk dalam katagori huruf Alif.
Jadi pada intinya, apabila kita ingin menembus alam Ahmar atau alam lelembut, maka perbanyaklah dengan membaca ayat Al-Quddus, untuk bilangan angka 1 yang terdapat dalam huruf Alif. Hal itu menunjukkan nama yang dituju, seperti nama Ibu Ratu Kidul jatuh pada naktu: Ya Adzim. Bila ingin memanggil beliau, gabunglah dua asma’ Ahmar dan dan nama Ibu Ratu: Al-Quddus Ya Adzim…dan seterusnya.

Antara Islam, Tasawuf, dan Kebatinan di Jawa

Arti tasawuf secara etimologis diperselisihkan oleh para ahli, karena perbedaan mereka dalam memandang asal-usul kata itu. Asal-usul kata tasawuf menurut pendapat para ahli antara lain sebagai berikut: (1) Tasawuf berasal dari kata saff yang artinya barisan dalam salat berjamaah. Alasannya, seorang sufi mempunyai iman yang kuat, jiwa yang bersih dan selalu memilih saf yang terdepan dalam salat berjamaah. Di samping alasan itu mereka juga memandang bahwa seorang sufi akan berada di baris pertama di depan Allah SWT (2) Tasawuf berasal dari kata saufanah yaitu sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab Saudi. Pengambilan kata ini karena melihat orang-orang sufi memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam kegersangan fisik, tapi subur batinnya. (3) Tasawuf berasal dari kata suffah yang artinya pelana yang dipergunakan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW yang miskin untuk bantal tidur di atas bangku batu di samping masjid Nabawi di Madinah. Versi lain dikatakan bahwa suffah artinya suatu kamar di samping Masjid Nabawi yang disediakan untuk para sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Muhajirin yang miskin. Penghuni suffah ini disebut ahlus suffah, mereka mempunyai sifat-sifat teguh dalam pendirian, takwa, warak (taat kepada Allah SWT), zuhud, dan tekun beribadah. Adapun pegambilan kata suffah karena kemiripan tabiat para sufi dengan sifat-sifat ahlus suffah. (4) Tasawuf (sufi) merujuk pada kata safwah yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik. Dikatakan demikian karena seorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau orang terbaik. (5) Tasawuf merujuk pada kata safa atau safw yang artinya bersih atau suci. Maksudnya kehidupan seorag sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri pada Allah SWT Tuhan Yang Maha Suci sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci. (6) Tasawuf berasal dari bahasa Yunani yaitu theosophi (Theo-Tuhan, Sophos-Hikmat) yang berarti hikmat Ketuhanan. Mereka merujuk pada bahasa Yunani karena ajaran tasawuf banyak membicarakan masalah Ketuhanan. (7) Tasawuf berasal dari kata suf yang artinya wol atau kain bulu kasar. Disebut demikian karena orang-orang sufi banyak yang suka memakai pakaian dari bulu binatang sebagai lambang kemiskinan dan kesederhanaan, berlawanan dengan pakaian sutra yang biasa dipakai oleh orang-orang kaya. Abu Nasr As Sarraj At Tusi, tokoh fundamentalis tasawuf, mengatakan bahwa kebiasaan memakai kain wol kasar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang saleh, sekaligus sebagai lambang kesederhanaan dan kemiskinan.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia:

“Tasawuf adalah aspek esoteris atau kedalaman ajaran keagamaan. Tasawuf disebut juga sufism atau mistik Islam (Islamic Mysticism). Secara garis besar lingkup tasawuf mencakup usaha manusia utuk membersihkan diri dari perilaku atau akhlak tercela (takhalli) dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji (tahalli) agar tersingkap tirai yang mennghalagi hubungan manusia dengan Tuhan (tajalli). Jaadi laku tasawuf merupakan proses keberagamaan seseorang.”

Tasawuf dalam bahasa Inggris disebut Islamic mysticism (mistik yang tumbuh dalam Islam). Adapun tujuan utama dari seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf menurut Abdul Hakim Hasan dalam bukunya Al Tashawuf Fi-al Syi’ri al Arabi bahwa:

Sasaran atau tujuan tasawuf ialah sampai kepada Dzat Al Haqq atau Mutlak (Tuhan) dan bersatu dengan Dia.

Dari konsep di atas jelas bahwa tujuan utama dari tasawuf adalah untuk sampai kepada Allah -agar dapat makrifat secara langsung kepada Dzat Allah- atau bahkan ada yang ingin bersatu dengan Tuhan.Makrifat di sini bukan melulu hanya pengetahuan semata, namun berupa pengalaman (experience). Yakni ingin bertemu langsung dengan Tuhan melalui tanggapan kejiwaannya bukan melalui panca indra serta akal. Tanggapan kejiwaan ini dapat dianalogikan seperti halnya mimpi atau mabuk (ecstasy) jiwanya sampai ke alam lain. Sebagai jalan untuk sampai kepada Allah disebut tarekat (Thariqah).

Yang kedua adalah mistik. Mistik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia ialah suatu proses yang bertujuan memenuhi keinginan atau hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan bersatunya emosi dengan Tuhan dan kekuatan transenden lainnya. Penganut mistik percaya bahwa di balik realitas yang nyata ada realitas yang lebih tinggi, yang merupakan kebenaran sesungguhnya. Mereka yakin bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu di alam ini, termasuk diri manusia, sehingga orang dapat mencari kebenaran dan pengertian tentang Tuhan melalui diri sendiri.

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut Budia Pradipta adalah mistik. Menurut Simuh kebatinan sebagian besar unsurnya adalah tasawuf.

Dalam membahas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini penulis meminjam beberapa definisi dari beberapa orang pakar seperti Simuh dan Hamka. Prof. Dr. Hamka mengatakan :

” Telah kita ketahui bahwa berbagai kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat kita di Indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di Jawa Tengah, dan ada juga di daerah-daerah lain”. ” Saya pernah diundang dua kali dalam ‘Purnama Sidi’ itu untuk mengadakan ceramah ‘kebatinan’. Dan saya kabulkan permintaan itu, lalu saya terangkan tasawuf Islam, gabungan ajaran Ghazali dan Ibnul Qayyim, dari kitab Ihya Ulumuddin dan Madarijus Salikin, Wongsonegoro SH (salah seorang tokohnya -pen) tertarik sekali dengan keterangan-keterangan itu dan memujinya. Dia mengatakan banyak ajaran-ajaran itu yang mirip dengan ajaran kebatinan. Saya diminta sering-sering mengisi ceramah agar kaum abangan tahu tentang tasawuf Islam dan melihat banyak kesamaan ajarannya”.


Yang kedua Dr. Simuh mengatakan bahwa kebatinan atau sufisme Jawa itu adalah transformasi dari tasawuf Islam ke mistik Jawa dan juga terjadi proses sinkretisasi atau akulturasi antara Islam dengan kebudayaan Jawa (hasil sinkretisme antara Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme).

Dari pendapat Hamka dan Simuh dapatlah dibuat definisi ‘Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa’ adalah kepercayaan yang dianut oleh golongan Islam abangan di Jawa yang bersumber dari sinkretisme Islam dengan animisme-dinamisme serta Hindu-Budha’.

Mengenai istilah kebatinan ada beberapa pendapat yang dikemukakan di sini. Pendapat pertama dari Drs. Warsito Sastroprajitno yang mengatakan:

“Kebatinan adalah kebudayaan spiritual dari kraton Jawa, yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dan mengalami perkembangan yang sangat unik pula”.

Dalam majalah Derap terbitan bulan Februari minggu III tahun 1978 halaman 35 dikatakan bahwa :

“Kebatinan bukan suatu agama dalam arti yang setepat-tepatnya seperti Islam, Budhisme, Hinduisme, atau Kristen. Tiada Gereja karena dianggapnya tidak perlu. Aliran ini tidak terlampau mempersoalkan masalah akhirat, sorga atau neraka atau malaikat dan iblis.

Kebatinan adalah suatu pencaharian metafisik akan suatu keselarasan di dalam batin orang, keselarasan antara batin sendiri dengan sesama manusia dan alam. Kebatinan merupakan paduan dari akultisme, metafisika, mistik, dan doktrin-doktrin lainnya, suatu ramuan khas kebolehan orang Jawa untuk mengadakan sinthesis“.

Selanjutnya Prof.Dr. Koentjaraningrat mendefinisikan bahwa:

“Mereka (kaum abangan) tidak dapat dikatakan orang yang beragama Islam yang tidak banyak menghiraukan agama, sebab sebenarnya agama yang mereka anut adalah suatu varian dari agama Islam Jawa, yaitu agama Jawi”.

Kalau menurut Azyumardi Azra, kebatinan Jawa itu digolongkan sebagai “kultus” atau bahasa Inggrisnya “cult”. Ia mengutip definisi Yinger dalam J. Milton Yinger , Society and the Individual: An Introduction to the Sociology of Religion, (New york, 1957), hal. 54-55. Oleh Yinger istilah “cult” digunakan dalam berbagai cara berbeda, yang biasanya mengacu kepada “kelompok keagamaan” berukuran kecil, yang mencari pengalaman mistik, memiliki strukur organisasii yang longgar, tetapi memiliki kepemimpinan kharismatik. Pada segi tertentu “cult” sama dengan “sect” (sekte) dalam pengertian bahwa keduanya merupakan “sempalan” dari suatu sistem agama yang mapan. Tetapi “cult” merupakan sempalan “paling ekstrim” dari tradisi keagamaan dominan dalam masyarakat. Dengan demikian “cult” berarti kelompok sempalan yang menyimpang dari “universal church“, ia merupakan kelompok kecil bersifat lokal, berumur singkat dan sering berkembang di sekitar seorang pemimpin dominan. Ia juga berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam “cult” yang merupakan varian dari agama Islam kadang terjadi proses pengentalan “cult”, kadang terjadi proses pengenceran “cult” atau ortodoksi, kembali ke ajaran Islam yang ortodoks seperti yang terjadi pada “cult” Black Muslims di Amerika Serikat. Demikian pula yang terjadi dalam ajaran kelompok-kelompok kebatinan Jawa kadang mengalami proses ortodoksi (ditarik mendekat ke Islam), kadang mengalami pengentalan “Cult” (diulur menjauh dari Islam) bahkan tanpa takut-takut memproklamirkan diri sebagai agama baru seperti ADARI (Agama Djawa Republik Indonesia) dan IIH (Iman Igama Hak).

Ada satu kitab yang memperlihatkan percampuran antar Islam dengan agama setempat di Jawa. Menurut penulis kitab inilah yang menjadi ajaran pokok dari aliran kepercayaan dan gerakan aliran kepercayaan sekarang Kitab itu adalah Wirid Hidayat Jati, dikarang oleh Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito. Menurut Simuh kitab ini adalah hasil akulturasi antara ajaran Islam-Pesantren (suatu sistem pendidikan di mana Ronggowarsito belajar) dengan budaya kraton Jawa tempat Ronggowarsito dilahirkan dan dibesarkan serta di kemudian harinya mengabdikan diri di sana. Menurutnya kitab ini berisi ajaran Union-Mistik. Sebagai suatu bentuk ajaran Union-Mistik (paham mistik yang mengajarkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan), uraian tentang Tuhan dalam Wirid Hidayat Jati tak dapat dipisahkan dengan uraian tentang manusia. Karena, setiap ajaran mistik yang berpaham union mistik tidak menarik garis perbedaan yang tegas dan esensial antara manusia dan Tuhan. Maka ungkapan tentang Tuhan, dalam paham union mistik selalu tumpang tindih dengan pernyataan tentang manusia. Karena, manusia memang bukan Tuhan, namun demikian ia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan Tuhan, sehingga tidak lain daripada Dia. Itulah logika union mistik. Hubungan Tuhan dengan manusia sering diibaratkan dengan hubungan manisnya madu dengan madu, atau laut dengan ombak. Simuh mengatakan bahwa paham union mistik dalam Wirid Hidayat Jati adalah perpaduan dari paham dalam tasawuf Islam yaitu Wihdatul Wujud-nya Al Hallaj dan Ibn ‘Arabi

Pemahaman H.M. Rasyidi pada Wirid Hidayat Jati adalah sebagai literatur kebatinan bukan literatur Islam. Ia mencatat ada 4 buku yang disebut sebagai literatur kebatinan yaitu Serat Centini, Darmogandul, Gatoloco dan Wirid Hidayat Jati. Mengenai Darmogandul dan Gatoloco dinilai oleh Hamka karya itu bukan semata-mata sinkretisme, mencari-cari persamaan antara Hindu, Budha, dan Islam melainkan membuat tafsir tentang ajaran Islam jauh daripada yang diajarkan Islam yang murni, sehingga orang yang membacanya akan terkesan bahwa isinya mengejek Islam bahkan menjadikan Islam itu obyek penghinaan dan tertawaan. H.M. Rasyidi menilai wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito sebagai karya yang lebih tinggi mutunya dari Darmogandul dan Gatoloco, tetapi ia juga memberikan tafsir yang bukan-bukan.

Konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan dimulai dengan timbulnya kesadaran akan modernisme pemikiran Islam dari kalangan muslim santri (putihan), yaitu gerakan purifikasi pelaksanaan agama dan mensintesiskan pemikiran Barat yang dianggap pembawa kemajuan dengan Al Quran dan Sunnah sebagai doktrin Islam di berbagai aspek kehidupan (seperti politik, ekonomi, sosial, ritual, dan lain-lain).

Tema besar gerakan modern Islam di Jawa ketika itu adalah memurnikan agama dan memerangi bid’ah (mengada-adakan yang tidak ada perintahnya dalam ibadah) dan khurafat (dongeng, tahayul). Gerakan ini cenderung menitikberatkan persoalan pada masalah fiqh (hukum-hukum) dan kebangunan pemikiran teologi dan filsafat dan kurang mengindahkan aspek batin yang menjadi titik tolak tasawuf, alam pikiran sufisme, ataupun kebatinan. Gerakan modernisme Islam menjadi antitesis tasawuf dan kebatinan. Kaum modernis menganggap bahwa tasawuf, apalagi kebatinan, akan menjadi hambatan bagi upaya modernisasi dalam arti mengejar ketertinggalan iptek dari Barat.

Persentuhan budaya dengan perkembangan Islam di Jawa yang melahirkan gerakan modernis ini secara langsung atau tidak langsung mendesak alam pikiran Jawa terutama hal-hal yang bersifat mitologis, magis, dan mistis.

Desakan ini mengena pada bentuk Islam tradisional yang berbasis di pesantren-pesantren dan tarekat-tarekat, juga mengena pada berbagai macam aliran kebatinan di Jawa dan penulis hanya membahas benturan antara Islam (dalam hal ini modernisme Islam) dengan aliran kebatinan/aliran kepercayaan pada masa Orde Baru. Sebagai latar belakang penulis membahas perbenturan antara Islam dengan kebatinan sejak masa pergerakan nasional. Karena secara legal formal gerakan-gerakan modernis Islam lahir pada masa ini yaitu periode 1900-1942. Menurut Simuh secara organisasional kelompok-kelompok kebatinan atau kejawen lahir mulai masa pergerakan nasional. Menurut Soedjatmoko aliran-aliran kebatinan atau kejawen mulai diorganisir rapi sejak masa pergerakan kebangsaan.

Dalam benturan-benturan di lapangan, misalnya perdebatan lisan sulit dideteksi dan diidentifikasi, apakah ini perdebatan antara modernisme Islam dengan aliran kepercayaan ataukah antara modernisme Islam dengan tradisionalisme Islam. Sejak masuknya agama Islam ke Indonesia pertentangan di antara umat Islam –yang menurut Hamka “Islam Sunni” – dengan gerakan kebatinan itu sudah ada. Perbenturan kemudian antara Islam dengan kebatinan terjadi sejak beralihnya pusat kerajaan Jawa Islam dari Demak ke Pajang. Sunan Kudus pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Ki Kebo Kenongo, penyebar gerakan kebatinan, lalu anaknya yaitu Adiwijoyo atau Jaka Tingkir atau Mas Karebet ingin menuntut balas. Adiwijoyo berhasil menjadi raja Pajang dan memindahkan pusat kerajaan Jawa dari Demak ke Pajang. Sejak masa Pajang inilah dicari persesuaiaan dengan warisan budaya Jawa lama dan Islam. Islam diterima, tetapi hendaknya ‘dijawakan’. Sejak masa Pajang inilah populernya sebutan Kejawen.

Perbenturan berikutnya antara Islam dan kebatinan terjadi pada abad ke-18 atau lebih tepatnya pada masa kekuasaan Amangkurat IV (1719-1726) dan putranya Pakubuwana II (1726-1749), yaitu antara Ketib Anom Kudus mewakili kalangan Islam dengan Haji Mutamakim yang divonis hukum bakar di tiang gantungan karena mengajarkan ajaran Kasunyatan dan menganjurkan meninggalkan Syari’ah (hukum Islam).

Perbenturan kemudian terjadi pada Perang Padri pada abad ke-19 di Sumatera Barat kalau kita memakai definisi ‘aliran kepercayaan sama dengan sinkretisme Islam’. Hamka mengatakan bahwa sinkretisme Islam juga ada di Sumatera Barat dan di seluruh daerah di Indonesia, tetapi yang paling kental di Jawa. Sinkretisme Islam di Sumatra Barat merasuk ke dalam sifat keberagaman kaum tradisional Islam dan kaum adat. Tetapi penulis tidak akan membahas hal itu karena sulit sekali untuk mengatakan bahwa sistem adat di seluruh Indonesia itu berlawanan dengan Islam. Hal ini terletak di luar maksud tulisan ini, lagipula oleh berbedanya sistem adat yang satu dengan yang lain, penilaian sedemikian meminta tenaga dan pemikiran khusus pula. Dan juga sulit sekali membedakan antara kaum adat dengan kaum tradisionalis Islam, apalagi mengatakan bahwa kaum adat adalah penganut aliran kepercayaan. Sehingga penulis tidak bisa mengatakan bahwa konflik yang terjadi di sana adalah konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan.

Berbeda halnya dengan keadaan di Jawa. Ada pembagian tertentu dalam kalangan masyarakat yang masih berlaku hingga kini, dan yang menunjukkan adanya perbedaan cara hidup antara golongan yang sama-sama beragama Islam itu. Pembagian ini ialah penggolongan antara abangan dan putihan. Putihan ialah mereka yang taat beragama. Abangan adalah mereka yang namanya saja beragama Islam, yang kurang memperhatikan kewajiban-kewajiban berupa ibadah, dan membatasi pada peristiwa-peristiwa penting belaka dalam hidup, yaitu pada waktu lahir, akil baligh (waktu bersunat), kawin, dan mati. Pada peristiwa-peristiwa ini nampak sekali hasrat mereka akan agama, dan pergilah mereka meminta pertolongan golongan putihan untuk menunaikan kewajiban atau pun upacara-upacara yang bersangkutan dengannya.

Pembedaan antara putihan dan abangan ini di Jawa pada akhir abad ke-19 tidak mengandung sifat perselisihan. Pembedaan antara putihan dan abangan di Jawa pada permulaan abad ke-20 hanyalah merupakan pembedaan yang menunjukkan tebal tipisnya ketaatan seseorang terhadap Islam. Dalam perasaan dan sebutan semuanya menyebutkan diri mereka orang Islam, wong selam.

Memang benar dapat dikatakan bahwa Islam merupakan lapisan yang tipis belaka dalam hidup kebanyakan pengikutnya di Indonesia terutama pada permulaan abad ke-20. Pada masa itu ukuran-ukuran yang dipakai untuk menilai tebal tipisnya ketaatan seseorang dalam beragama tidaklah tinggi, misalnya mengaku Islam dan tidak makan babi dan akan dianggap sangat soleh kalau orang rajin shalat lima waktu walaupun ia banyak juga melanggar larangan agama.

Penulis memberi porsi yang cukup besar pada masa pergerakan nasional sebagai latar belakang karena perbenturan antara Islam dan kebatinan cukup terlihat yang refleksinya menjadi suatu gerakan pada masa Orde Baru. Sementara pada masa demokrasi terpimpin para pengikut aliran kepercayaan banyak yang menjadi anggota PKI dan beberapa partai lain. Debat antara pengikut aliran kepercayaan dengan anggota partai Islam masih berlangsung, tetapi menjadi sulit dibedakan antara debat agama dengan debat politik. Masalah perselisihan antara aliran kepercayaan dengan Islam ini menjadi panas kembali pada masa Orde Baru.

Pada masa Orde Baru Presiden Soeharto sejak awal menjalankan suatu model kepemimpinan yang sangat khas yakni perpaduan dari: (1) Cara berpikirnya yang sangat Jawa; (2) Kapabilitasnya yang tak terbantahkan sebagai seorang perwira militer yang cakap dan kaya pengalaman lapangan; (3) Kecanggihannya sebagai aktor politik dalam melakukan manajemen kekuasaan.

Antara Islam, Tasawuf, dan Kebatinan di Jawa

Arti tasawuf secara etimologis diperselisihkan oleh para ahli, karena perbedaan mereka dalam memandang asal-usul kata itu. Asal-usul kata tasawuf menurut pendapat para ahli antara lain sebagai berikut: (1) Tasawuf berasal dari kata saff yang artinya barisan dalam salat berjamaah. Alasannya, seorang sufi mempunyai iman yang kuat, jiwa yang bersih dan selalu memilih saf yang terdepan dalam salat berjamaah. Di samping alasan itu mereka juga memandang bahwa seorang sufi akan berada di baris pertama di depan Allah SWT (2) Tasawuf berasal dari kata saufanah yaitu sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab Saudi. Pengambilan kata ini karena melihat orang-orang sufi memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam kegersangan fisik, tapi subur batinnya. (3) Tasawuf berasal dari kata suffah yang artinya pelana yang dipergunakan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW yang miskin untuk bantal tidur di atas bangku batu di samping masjid Nabawi di Madinah. Versi lain dikatakan bahwa suffah artinya suatu kamar di samping Masjid Nabawi yang disediakan untuk para sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Muhajirin yang miskin. Penghuni suffah ini disebut ahlus suffah, mereka mempunyai sifat-sifat teguh dalam pendirian, takwa, warak (taat kepada Allah SWT), zuhud, dan tekun beribadah. Adapun pegambilan kata suffah karena kemiripan tabiat para sufi dengan sifat-sifat ahlus suffah. (4) Tasawuf (sufi) merujuk pada kata safwah yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik. Dikatakan demikian karena seorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau orang terbaik. (5) Tasawuf merujuk pada kata safa atau safw yang artinya bersih atau suci. Maksudnya kehidupan seorag sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri pada Allah SWT Tuhan Yang Maha Suci sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci. (6) Tasawuf berasal dari bahasa Yunani yaitu theosophi (Theo-Tuhan, Sophos-Hikmat) yang berarti hikmat Ketuhanan. Mereka merujuk pada bahasa Yunani karena ajaran tasawuf banyak membicarakan masalah Ketuhanan. (7) Tasawuf berasal dari kata suf yang artinya wol atau kain bulu kasar. Disebut demikian karena orang-orang sufi banyak yang suka memakai pakaian dari bulu binatang sebagai lambang kemiskinan dan kesederhanaan, berlawanan dengan pakaian sutra yang biasa dipakai oleh orang-orang kaya. Abu Nasr As Sarraj At Tusi, tokoh fundamentalis tasawuf, mengatakan bahwa kebiasaan memakai kain wol kasar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang saleh, sekaligus sebagai lambang kesederhanaan dan kemiskinan.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia:

“Tasawuf adalah aspek esoteris atau kedalaman ajaran keagamaan. Tasawuf disebut juga sufism atau mistik Islam (Islamic Mysticism). Secara garis besar lingkup tasawuf mencakup usaha manusia utuk membersihkan diri dari perilaku atau akhlak tercela (takhalli) dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji (tahalli) agar tersingkap tirai yang mennghalagi hubungan manusia dengan Tuhan (tajalli). Jaadi laku tasawuf merupakan proses keberagamaan seseorang.”

Tasawuf dalam bahasa Inggris disebut Islamic mysticism (mistik yang tumbuh dalam Islam). Adapun tujuan utama dari seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf menurut Abdul Hakim Hasan dalam bukunya Al Tashawuf Fi-al Syi’ri al Arabi bahwa:

Sasaran atau tujuan tasawuf ialah sampai kepada Dzat Al Haqq atau Mutlak (Tuhan) dan bersatu dengan Dia.

Dari konsep di atas jelas bahwa tujuan utama dari tasawuf adalah untuk sampai kepada Allah -agar dapat makrifat secara langsung kepada Dzat Allah- atau bahkan ada yang ingin bersatu dengan Tuhan.Makrifat di sini bukan melulu hanya pengetahuan semata, namun berupa pengalaman (experience). Yakni ingin bertemu langsung dengan Tuhan melalui tanggapan kejiwaannya bukan melalui panca indra serta akal. Tanggapan kejiwaan ini dapat dianalogikan seperti halnya mimpi atau mabuk (ecstasy) jiwanya sampai ke alam lain. Sebagai jalan untuk sampai kepada Allah disebut tarekat (Thariqah).

Yang kedua adalah mistik. Mistik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia ialah suatu proses yang bertujuan memenuhi keinginan atau hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan bersatunya emosi dengan Tuhan dan kekuatan transenden lainnya. Penganut mistik percaya bahwa di balik realitas yang nyata ada realitas yang lebih tinggi, yang merupakan kebenaran sesungguhnya. Mereka yakin bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu di alam ini, termasuk diri manusia, sehingga orang dapat mencari kebenaran dan pengertian tentang Tuhan melalui diri sendiri.

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut Budia Pradipta adalah mistik. Menurut Simuh kebatinan sebagian besar unsurnya adalah tasawuf.

Dalam membahas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini penulis meminjam beberapa definisi dari beberapa orang pakar seperti Simuh dan Hamka. Prof. Dr. Hamka mengatakan :

” Telah kita ketahui bahwa berbagai kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat kita di Indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di Jawa Tengah, dan ada juga di daerah-daerah lain”. ” Saya pernah diundang dua kali dalam ‘Purnama Sidi’ itu untuk mengadakan ceramah ‘kebatinan’. Dan saya kabulkan permintaan itu, lalu saya terangkan tasawuf Islam, gabungan ajaran Ghazali dan Ibnul Qayyim, dari kitab Ihya Ulumuddin dan Madarijus Salikin, Wongsonegoro SH (salah seorang tokohnya -pen) tertarik sekali dengan keterangan-keterangan itu dan memujinya. Dia mengatakan banyak ajaran-ajaran itu yang mirip dengan ajaran kebatinan. Saya diminta sering-sering mengisi ceramah agar kaum abangan tahu tentang tasawuf Islam dan melihat banyak kesamaan ajarannya”.


Yang kedua Dr. Simuh mengatakan bahwa kebatinan atau sufisme Jawa itu adalah transformasi dari tasawuf Islam ke mistik Jawa dan juga terjadi proses sinkretisasi atau akulturasi antara Islam dengan kebudayaan Jawa (hasil sinkretisme antara Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme).

Dari pendapat Hamka dan Simuh dapatlah dibuat definisi ‘Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa’ adalah kepercayaan yang dianut oleh golongan Islam abangan di Jawa yang bersumber dari sinkretisme Islam dengan animisme-dinamisme serta Hindu-Budha’.

Mengenai istilah kebatinan ada beberapa pendapat yang dikemukakan di sini. Pendapat pertama dari Drs. Warsito Sastroprajitno yang mengatakan:

“Kebatinan adalah kebudayaan spiritual dari kraton Jawa, yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dan mengalami perkembangan yang sangat unik pula”.

Dalam majalah Derap terbitan bulan Februari minggu III tahun 1978 halaman 35 dikatakan bahwa :

“Kebatinan bukan suatu agama dalam arti yang setepat-tepatnya seperti Islam, Budhisme, Hinduisme, atau Kristen. Tiada Gereja karena dianggapnya tidak perlu. Aliran ini tidak terlampau mempersoalkan masalah akhirat, sorga atau neraka atau malaikat dan iblis.

Kebatinan adalah suatu pencaharian metafisik akan suatu keselarasan di dalam batin orang, keselarasan antara batin sendiri dengan sesama manusia dan alam. Kebatinan merupakan paduan dari akultisme, metafisika, mistik, dan doktrin-doktrin lainnya, suatu ramuan khas kebolehan orang Jawa untuk mengadakan sinthesis“.

Selanjutnya Prof.Dr. Koentjaraningrat mendefinisikan bahwa:

“Mereka (kaum abangan) tidak dapat dikatakan orang yang beragama Islam yang tidak banyak menghiraukan agama, sebab sebenarnya agama yang mereka anut adalah suatu varian dari agama Islam Jawa, yaitu agama Jawi”.

Kalau menurut Azyumardi Azra, kebatinan Jawa itu digolongkan sebagai “kultus” atau bahasa Inggrisnya “cult”. Ia mengutip definisi Yinger dalam J. Milton Yinger , Society and the Individual: An Introduction to the Sociology of Religion, (New york, 1957), hal. 54-55. Oleh Yinger istilah “cult” digunakan dalam berbagai cara berbeda, yang biasanya mengacu kepada “kelompok keagamaan” berukuran kecil, yang mencari pengalaman mistik, memiliki strukur organisasii yang longgar, tetapi memiliki kepemimpinan kharismatik. Pada segi tertentu “cult” sama dengan “sect” (sekte) dalam pengertian bahwa keduanya merupakan “sempalan” dari suatu sistem agama yang mapan. Tetapi “cult” merupakan sempalan “paling ekstrim” dari tradisi keagamaan dominan dalam masyarakat. Dengan demikian “cult” berarti kelompok sempalan yang menyimpang dari “universal church“, ia merupakan kelompok kecil bersifat lokal, berumur singkat dan sering berkembang di sekitar seorang pemimpin dominan. Ia juga berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam “cult” yang merupakan varian dari agama Islam kadang terjadi proses pengentalan “cult”, kadang terjadi proses pengenceran “cult” atau ortodoksi, kembali ke ajaran Islam yang ortodoks seperti yang terjadi pada “cult” Black Muslims di Amerika Serikat. Demikian pula yang terjadi dalam ajaran kelompok-kelompok kebatinan Jawa kadang mengalami proses ortodoksi (ditarik mendekat ke Islam), kadang mengalami pengentalan “Cult” (diulur menjauh dari Islam) bahkan tanpa takut-takut memproklamirkan diri sebagai agama baru seperti ADARI (Agama Djawa Republik Indonesia) dan IIH (Iman Igama Hak).

Ada satu kitab yang memperlihatkan percampuran antar Islam dengan agama setempat di Jawa. Menurut penulis kitab inilah yang menjadi ajaran pokok dari aliran kepercayaan dan gerakan aliran kepercayaan sekarang Kitab itu adalah Wirid Hidayat Jati, dikarang oleh Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito. Menurut Simuh kitab ini adalah hasil akulturasi antara ajaran Islam-Pesantren (suatu sistem pendidikan di mana Ronggowarsito belajar) dengan budaya kraton Jawa tempat Ronggowarsito dilahirkan dan dibesarkan serta di kemudian harinya mengabdikan diri di sana. Menurutnya kitab ini berisi ajaran Union-Mistik. Sebagai suatu bentuk ajaran Union-Mistik (paham mistik yang mengajarkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan), uraian tentang Tuhan dalam Wirid Hidayat Jati tak dapat dipisahkan dengan uraian tentang manusia. Karena, setiap ajaran mistik yang berpaham union mistik tidak menarik garis perbedaan yang tegas dan esensial antara manusia dan Tuhan. Maka ungkapan tentang Tuhan, dalam paham union mistik selalu tumpang tindih dengan pernyataan tentang manusia. Karena, manusia memang bukan Tuhan, namun demikian ia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan Tuhan, sehingga tidak lain daripada Dia. Itulah logika union mistik. Hubungan Tuhan dengan manusia sering diibaratkan dengan hubungan manisnya madu dengan madu, atau laut dengan ombak. Simuh mengatakan bahwa paham union mistik dalam Wirid Hidayat Jati adalah perpaduan dari paham dalam tasawuf Islam yaitu Wihdatul Wujud-nya Al Hallaj dan Ibn ‘Arabi

Pemahaman H.M. Rasyidi pada Wirid Hidayat Jati adalah sebagai literatur kebatinan bukan literatur Islam. Ia mencatat ada 4 buku yang disebut sebagai literatur kebatinan yaitu Serat Centini, Darmogandul, Gatoloco dan Wirid Hidayat Jati. Mengenai Darmogandul dan Gatoloco dinilai oleh Hamka karya itu bukan semata-mata sinkretisme, mencari-cari persamaan antara Hindu, Budha, dan Islam melainkan membuat tafsir tentang ajaran Islam jauh daripada yang diajarkan Islam yang murni, sehingga orang yang membacanya akan terkesan bahwa isinya mengejek Islam bahkan menjadikan Islam itu obyek penghinaan dan tertawaan. H.M. Rasyidi menilai wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito sebagai karya yang lebih tinggi mutunya dari Darmogandul dan Gatoloco, tetapi ia juga memberikan tafsir yang bukan-bukan.

Konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan dimulai dengan timbulnya kesadaran akan modernisme pemikiran Islam dari kalangan muslim santri (putihan), yaitu gerakan purifikasi pelaksanaan agama dan mensintesiskan pemikiran Barat yang dianggap pembawa kemajuan dengan Al Quran dan Sunnah sebagai doktrin Islam di berbagai aspek kehidupan (seperti politik, ekonomi, sosial, ritual, dan lain-lain).

Tema besar gerakan modern Islam di Jawa ketika itu adalah memurnikan agama dan memerangi bid’ah (mengada-adakan yang tidak ada perintahnya dalam ibadah) dan khurafat (dongeng, tahayul). Gerakan ini cenderung menitikberatkan persoalan pada masalah fiqh (hukum-hukum) dan kebangunan pemikiran teologi dan filsafat dan kurang mengindahkan aspek batin yang menjadi titik tolak tasawuf, alam pikiran sufisme, ataupun kebatinan. Gerakan modernisme Islam menjadi antitesis tasawuf dan kebatinan. Kaum modernis menganggap bahwa tasawuf, apalagi kebatinan, akan menjadi hambatan bagi upaya modernisasi dalam arti mengejar ketertinggalan iptek dari Barat.

Persentuhan budaya dengan perkembangan Islam di Jawa yang melahirkan gerakan modernis ini secara langsung atau tidak langsung mendesak alam pikiran Jawa terutama hal-hal yang bersifat mitologis, magis, dan mistis.

Desakan ini mengena pada bentuk Islam tradisional yang berbasis di pesantren-pesantren dan tarekat-tarekat, juga mengena pada berbagai macam aliran kebatinan di Jawa dan penulis hanya membahas benturan antara Islam (dalam hal ini modernisme Islam) dengan aliran kebatinan/aliran kepercayaan pada masa Orde Baru. Sebagai latar belakang penulis membahas perbenturan antara Islam dengan kebatinan sejak masa pergerakan nasional. Karena secara legal formal gerakan-gerakan modernis Islam lahir pada masa ini yaitu periode 1900-1942. Menurut Simuh secara organisasional kelompok-kelompok kebatinan atau kejawen lahir mulai masa pergerakan nasional. Menurut Soedjatmoko aliran-aliran kebatinan atau kejawen mulai diorganisir rapi sejak masa pergerakan kebangsaan.

Dalam benturan-benturan di lapangan, misalnya perdebatan lisan sulit dideteksi dan diidentifikasi, apakah ini perdebatan antara modernisme Islam dengan aliran kepercayaan ataukah antara modernisme Islam dengan tradisionalisme Islam. Sejak masuknya agama Islam ke Indonesia pertentangan di antara umat Islam –yang menurut Hamka “Islam Sunni” – dengan gerakan kebatinan itu sudah ada. Perbenturan kemudian antara Islam dengan kebatinan terjadi sejak beralihnya pusat kerajaan Jawa Islam dari Demak ke Pajang. Sunan Kudus pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Ki Kebo Kenongo, penyebar gerakan kebatinan, lalu anaknya yaitu Adiwijoyo atau Jaka Tingkir atau Mas Karebet ingin menuntut balas. Adiwijoyo berhasil menjadi raja Pajang dan memindahkan pusat kerajaan Jawa dari Demak ke Pajang. Sejak masa Pajang inilah dicari persesuaiaan dengan warisan budaya Jawa lama dan Islam. Islam diterima, tetapi hendaknya ‘dijawakan’. Sejak masa Pajang inilah populernya sebutan Kejawen.

Perbenturan berikutnya antara Islam dan kebatinan terjadi pada abad ke-18 atau lebih tepatnya pada masa kekuasaan Amangkurat IV (1719-1726) dan putranya Pakubuwana II (1726-1749), yaitu antara Ketib Anom Kudus mewakili kalangan Islam dengan Haji Mutamakim yang divonis hukum bakar di tiang gantungan karena mengajarkan ajaran Kasunyatan dan menganjurkan meninggalkan Syari’ah (hukum Islam).

Perbenturan kemudian terjadi pada Perang Padri pada abad ke-19 di Sumatera Barat kalau kita memakai definisi ‘aliran kepercayaan sama dengan sinkretisme Islam’. Hamka mengatakan bahwa sinkretisme Islam juga ada di Sumatera Barat dan di seluruh daerah di Indonesia, tetapi yang paling kental di Jawa. Sinkretisme Islam di Sumatra Barat merasuk ke dalam sifat keberagaman kaum tradisional Islam dan kaum adat. Tetapi penulis tidak akan membahas hal itu karena sulit sekali untuk mengatakan bahwa sistem adat di seluruh Indonesia itu berlawanan dengan Islam. Hal ini terletak di luar maksud tulisan ini, lagipula oleh berbedanya sistem adat yang satu dengan yang lain, penilaian sedemikian meminta tenaga dan pemikiran khusus pula. Dan juga sulit sekali membedakan antara kaum adat dengan kaum tradisionalis Islam, apalagi mengatakan bahwa kaum adat adalah penganut aliran kepercayaan. Sehingga penulis tidak bisa mengatakan bahwa konflik yang terjadi di sana adalah konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan.

Berbeda halnya dengan keadaan di Jawa. Ada pembagian tertentu dalam kalangan masyarakat yang masih berlaku hingga kini, dan yang menunjukkan adanya perbedaan cara hidup antara golongan yang sama-sama beragama Islam itu. Pembagian ini ialah penggolongan antara abangan dan putihan. Putihan ialah mereka yang taat beragama. Abangan adalah mereka yang namanya saja beragama Islam, yang kurang memperhatikan kewajiban-kewajiban berupa ibadah, dan membatasi pada peristiwa-peristiwa penting belaka dalam hidup, yaitu pada waktu lahir, akil baligh (waktu bersunat), kawin, dan mati. Pada peristiwa-peristiwa ini nampak sekali hasrat mereka akan agama, dan pergilah mereka meminta pertolongan golongan putihan untuk menunaikan kewajiban atau pun upacara-upacara yang bersangkutan dengannya.

Pembedaan antara putihan dan abangan ini di Jawa pada akhir abad ke-19 tidak mengandung sifat perselisihan. Pembedaan antara putihan dan abangan di Jawa pada permulaan abad ke-20 hanyalah merupakan pembedaan yang menunjukkan tebal tipisnya ketaatan seseorang terhadap Islam. Dalam perasaan dan sebutan semuanya menyebutkan diri mereka orang Islam, wong selam.

Memang benar dapat dikatakan bahwa Islam merupakan lapisan yang tipis belaka dalam hidup kebanyakan pengikutnya di Indonesia terutama pada permulaan abad ke-20. Pada masa itu ukuran-ukuran yang dipakai untuk menilai tebal tipisnya ketaatan seseorang dalam beragama tidaklah tinggi, misalnya mengaku Islam dan tidak makan babi dan akan dianggap sangat soleh kalau orang rajin shalat lima waktu walaupun ia banyak juga melanggar larangan agama.

Penulis memberi porsi yang cukup besar pada masa pergerakan nasional sebagai latar belakang karena perbenturan antara Islam dan kebatinan cukup terlihat yang refleksinya menjadi suatu gerakan pada masa Orde Baru. Sementara pada masa demokrasi terpimpin para pengikut aliran kepercayaan banyak yang menjadi anggota PKI dan beberapa partai lain. Debat antara pengikut aliran kepercayaan dengan anggota partai Islam masih berlangsung, tetapi menjadi sulit dibedakan antara debat agama dengan debat politik. Masalah perselisihan antara aliran kepercayaan dengan Islam ini menjadi panas kembali pada masa Orde Baru.

Pada masa Orde Baru Presiden Soeharto sejak awal menjalankan suatu model kepemimpinan yang sangat khas yakni perpaduan dari: (1) Cara berpikirnya yang sangat Jawa; (2) Kapabilitasnya yang tak terbantahkan sebagai seorang perwira militer yang cakap dan kaya pengalaman lapangan; (3) Kecanggihannya sebagai aktor politik dalam melakukan manajemen kekuasaan.

Antara Islam, Tasawuf, dan Kebatinan di Jawa

Arti tasawuf secara etimologis diperselisihkan oleh para ahli, karena perbedaan mereka dalam memandang asal-usul kata itu. Asal-usul kata tasawuf menurut pendapat para ahli antara lain sebagai berikut: (1) Tasawuf berasal dari kata saff yang artinya barisan dalam salat berjamaah. Alasannya, seorang sufi mempunyai iman yang kuat, jiwa yang bersih dan selalu memilih saf yang terdepan dalam salat berjamaah. Di samping alasan itu mereka juga memandang bahwa seorang sufi akan berada di baris pertama di depan Allah SWT (2) Tasawuf berasal dari kata saufanah yaitu sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab Saudi. Pengambilan kata ini karena melihat orang-orang sufi memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam kegersangan fisik, tapi subur batinnya. (3) Tasawuf berasal dari kata suffah yang artinya pelana yang dipergunakan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW yang miskin untuk bantal tidur di atas bangku batu di samping masjid Nabawi di Madinah. Versi lain dikatakan bahwa suffah artinya suatu kamar di samping Masjid Nabawi yang disediakan untuk para sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Muhajirin yang miskin. Penghuni suffah ini disebut ahlus suffah, mereka mempunyai sifat-sifat teguh dalam pendirian, takwa, warak (taat kepada Allah SWT), zuhud, dan tekun beribadah. Adapun pegambilan kata suffah karena kemiripan tabiat para sufi dengan sifat-sifat ahlus suffah. (4) Tasawuf (sufi) merujuk pada kata safwah yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik. Dikatakan demikian karena seorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau orang terbaik. (5) Tasawuf merujuk pada kata safa atau safw yang artinya bersih atau suci. Maksudnya kehidupan seorag sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri pada Allah SWT Tuhan Yang Maha Suci sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci. (6) Tasawuf berasal dari bahasa Yunani yaitu theosophi (Theo-Tuhan, Sophos-Hikmat) yang berarti hikmat Ketuhanan. Mereka merujuk pada bahasa Yunani karena ajaran tasawuf banyak membicarakan masalah Ketuhanan. (7) Tasawuf berasal dari kata suf yang artinya wol atau kain bulu kasar. Disebut demikian karena orang-orang sufi banyak yang suka memakai pakaian dari bulu binatang sebagai lambang kemiskinan dan kesederhanaan, berlawanan dengan pakaian sutra yang biasa dipakai oleh orang-orang kaya. Abu Nasr As Sarraj At Tusi, tokoh fundamentalis tasawuf, mengatakan bahwa kebiasaan memakai kain wol kasar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang saleh, sekaligus sebagai lambang kesederhanaan dan kemiskinan.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia:

“Tasawuf adalah aspek esoteris atau kedalaman ajaran keagamaan. Tasawuf disebut juga sufism atau mistik Islam (Islamic Mysticism). Secara garis besar lingkup tasawuf mencakup usaha manusia utuk membersihkan diri dari perilaku atau akhlak tercela (takhalli) dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji (tahalli) agar tersingkap tirai yang mennghalagi hubungan manusia dengan Tuhan (tajalli). Jaadi laku tasawuf merupakan proses keberagamaan seseorang.”

Tasawuf dalam bahasa Inggris disebut Islamic mysticism (mistik yang tumbuh dalam Islam). Adapun tujuan utama dari seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf menurut Abdul Hakim Hasan dalam bukunya Al Tashawuf Fi-al Syi’ri al Arabi bahwa:

Sasaran atau tujuan tasawuf ialah sampai kepada Dzat Al Haqq atau Mutlak (Tuhan) dan bersatu dengan Dia.

Dari konsep di atas jelas bahwa tujuan utama dari tasawuf adalah untuk sampai kepada Allah -agar dapat makrifat secara langsung kepada Dzat Allah- atau bahkan ada yang ingin bersatu dengan Tuhan.Makrifat di sini bukan melulu hanya pengetahuan semata, namun berupa pengalaman (experience). Yakni ingin bertemu langsung dengan Tuhan melalui tanggapan kejiwaannya bukan melalui panca indra serta akal. Tanggapan kejiwaan ini dapat dianalogikan seperti halnya mimpi atau mabuk (ecstasy) jiwanya sampai ke alam lain. Sebagai jalan untuk sampai kepada Allah disebut tarekat (Thariqah).

Yang kedua adalah mistik. Mistik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia ialah suatu proses yang bertujuan memenuhi keinginan atau hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan bersatunya emosi dengan Tuhan dan kekuatan transenden lainnya. Penganut mistik percaya bahwa di balik realitas yang nyata ada realitas yang lebih tinggi, yang merupakan kebenaran sesungguhnya. Mereka yakin bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu di alam ini, termasuk diri manusia, sehingga orang dapat mencari kebenaran dan pengertian tentang Tuhan melalui diri sendiri.

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menurut Budia Pradipta adalah mistik. Menurut Simuh kebatinan sebagian besar unsurnya adalah tasawuf.

Dalam membahas kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini penulis meminjam beberapa definisi dari beberapa orang pakar seperti Simuh dan Hamka. Prof. Dr. Hamka mengatakan :

” Telah kita ketahui bahwa berbagai kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat kita di Indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di Jawa Tengah, dan ada juga di daerah-daerah lain”. ” Saya pernah diundang dua kali dalam ‘Purnama Sidi’ itu untuk mengadakan ceramah ‘kebatinan’. Dan saya kabulkan permintaan itu, lalu saya terangkan tasawuf Islam, gabungan ajaran Ghazali dan Ibnul Qayyim, dari kitab Ihya Ulumuddin dan Madarijus Salikin, Wongsonegoro SH (salah seorang tokohnya -pen) tertarik sekali dengan keterangan-keterangan itu dan memujinya. Dia mengatakan banyak ajaran-ajaran itu yang mirip dengan ajaran kebatinan. Saya diminta sering-sering mengisi ceramah agar kaum abangan tahu tentang tasawuf Islam dan melihat banyak kesamaan ajarannya”.


Yang kedua Dr. Simuh mengatakan bahwa kebatinan atau sufisme Jawa itu adalah transformasi dari tasawuf Islam ke mistik Jawa dan juga terjadi proses sinkretisasi atau akulturasi antara Islam dengan kebudayaan Jawa (hasil sinkretisme antara Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme).

Dari pendapat Hamka dan Simuh dapatlah dibuat definisi ‘Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa’ adalah kepercayaan yang dianut oleh golongan Islam abangan di Jawa yang bersumber dari sinkretisme Islam dengan animisme-dinamisme serta Hindu-Budha’.

Mengenai istilah kebatinan ada beberapa pendapat yang dikemukakan di sini. Pendapat pertama dari Drs. Warsito Sastroprajitno yang mengatakan:

“Kebatinan adalah kebudayaan spiritual dari kraton Jawa, yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dan mengalami perkembangan yang sangat unik pula”.

Dalam majalah Derap terbitan bulan Februari minggu III tahun 1978 halaman 35 dikatakan bahwa :

“Kebatinan bukan suatu agama dalam arti yang setepat-tepatnya seperti Islam, Budhisme, Hinduisme, atau Kristen. Tiada Gereja karena dianggapnya tidak perlu. Aliran ini tidak terlampau mempersoalkan masalah akhirat, sorga atau neraka atau malaikat dan iblis.

Kebatinan adalah suatu pencaharian metafisik akan suatu keselarasan di dalam batin orang, keselarasan antara batin sendiri dengan sesama manusia dan alam. Kebatinan merupakan paduan dari akultisme, metafisika, mistik, dan doktrin-doktrin lainnya, suatu ramuan khas kebolehan orang Jawa untuk mengadakan sinthesis“.

Selanjutnya Prof.Dr. Koentjaraningrat mendefinisikan bahwa:

“Mereka (kaum abangan) tidak dapat dikatakan orang yang beragama Islam yang tidak banyak menghiraukan agama, sebab sebenarnya agama yang mereka anut adalah suatu varian dari agama Islam Jawa, yaitu agama Jawi”.

Kalau menurut Azyumardi Azra, kebatinan Jawa itu digolongkan sebagai “kultus” atau bahasa Inggrisnya “cult”. Ia mengutip definisi Yinger dalam J. Milton Yinger , Society and the Individual: An Introduction to the Sociology of Religion, (New york, 1957), hal. 54-55. Oleh Yinger istilah “cult” digunakan dalam berbagai cara berbeda, yang biasanya mengacu kepada “kelompok keagamaan” berukuran kecil, yang mencari pengalaman mistik, memiliki strukur organisasii yang longgar, tetapi memiliki kepemimpinan kharismatik. Pada segi tertentu “cult” sama dengan “sect” (sekte) dalam pengertian bahwa keduanya merupakan “sempalan” dari suatu sistem agama yang mapan. Tetapi “cult” merupakan sempalan “paling ekstrim” dari tradisi keagamaan dominan dalam masyarakat. Dengan demikian “cult” berarti kelompok sempalan yang menyimpang dari “universal church“, ia merupakan kelompok kecil bersifat lokal, berumur singkat dan sering berkembang di sekitar seorang pemimpin dominan. Ia juga berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam “cult” yang merupakan varian dari agama Islam kadang terjadi proses pengentalan “cult”, kadang terjadi proses pengenceran “cult” atau ortodoksi, kembali ke ajaran Islam yang ortodoks seperti yang terjadi pada “cult” Black Muslims di Amerika Serikat. Demikian pula yang terjadi dalam ajaran kelompok-kelompok kebatinan Jawa kadang mengalami proses ortodoksi (ditarik mendekat ke Islam), kadang mengalami pengentalan “Cult” (diulur menjauh dari Islam) bahkan tanpa takut-takut memproklamirkan diri sebagai agama baru seperti ADARI (Agama Djawa Republik Indonesia) dan IIH (Iman Igama Hak).

Ada satu kitab yang memperlihatkan percampuran antar Islam dengan agama setempat di Jawa. Menurut penulis kitab inilah yang menjadi ajaran pokok dari aliran kepercayaan dan gerakan aliran kepercayaan sekarang Kitab itu adalah Wirid Hidayat Jati, dikarang oleh Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito. Menurut Simuh kitab ini adalah hasil akulturasi antara ajaran Islam-Pesantren (suatu sistem pendidikan di mana Ronggowarsito belajar) dengan budaya kraton Jawa tempat Ronggowarsito dilahirkan dan dibesarkan serta di kemudian harinya mengabdikan diri di sana. Menurutnya kitab ini berisi ajaran Union-Mistik. Sebagai suatu bentuk ajaran Union-Mistik (paham mistik yang mengajarkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan), uraian tentang Tuhan dalam Wirid Hidayat Jati tak dapat dipisahkan dengan uraian tentang manusia. Karena, setiap ajaran mistik yang berpaham union mistik tidak menarik garis perbedaan yang tegas dan esensial antara manusia dan Tuhan. Maka ungkapan tentang Tuhan, dalam paham union mistik selalu tumpang tindih dengan pernyataan tentang manusia. Karena, manusia memang bukan Tuhan, namun demikian ia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan Tuhan, sehingga tidak lain daripada Dia. Itulah logika union mistik. Hubungan Tuhan dengan manusia sering diibaratkan dengan hubungan manisnya madu dengan madu, atau laut dengan ombak. Simuh mengatakan bahwa paham union mistik dalam Wirid Hidayat Jati adalah perpaduan dari paham dalam tasawuf Islam yaitu Wihdatul Wujud-nya Al Hallaj dan Ibn ‘Arabi

Pemahaman H.M. Rasyidi pada Wirid Hidayat Jati adalah sebagai literatur kebatinan bukan literatur Islam. Ia mencatat ada 4 buku yang disebut sebagai literatur kebatinan yaitu Serat Centini, Darmogandul, Gatoloco dan Wirid Hidayat Jati. Mengenai Darmogandul dan Gatoloco dinilai oleh Hamka karya itu bukan semata-mata sinkretisme, mencari-cari persamaan antara Hindu, Budha, dan Islam melainkan membuat tafsir tentang ajaran Islam jauh daripada yang diajarkan Islam yang murni, sehingga orang yang membacanya akan terkesan bahwa isinya mengejek Islam bahkan menjadikan Islam itu obyek penghinaan dan tertawaan. H.M. Rasyidi menilai wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito sebagai karya yang lebih tinggi mutunya dari Darmogandul dan Gatoloco, tetapi ia juga memberikan tafsir yang bukan-bukan.

Konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan dimulai dengan timbulnya kesadaran akan modernisme pemikiran Islam dari kalangan muslim santri (putihan), yaitu gerakan purifikasi pelaksanaan agama dan mensintesiskan pemikiran Barat yang dianggap pembawa kemajuan dengan Al Quran dan Sunnah sebagai doktrin Islam di berbagai aspek kehidupan (seperti politik, ekonomi, sosial, ritual, dan lain-lain).

Tema besar gerakan modern Islam di Jawa ketika itu adalah memurnikan agama dan memerangi bid’ah (mengada-adakan yang tidak ada perintahnya dalam ibadah) dan khurafat (dongeng, tahayul). Gerakan ini cenderung menitikberatkan persoalan pada masalah fiqh (hukum-hukum) dan kebangunan pemikiran teologi dan filsafat dan kurang mengindahkan aspek batin yang menjadi titik tolak tasawuf, alam pikiran sufisme, ataupun kebatinan. Gerakan modernisme Islam menjadi antitesis tasawuf dan kebatinan. Kaum modernis menganggap bahwa tasawuf, apalagi kebatinan, akan menjadi hambatan bagi upaya modernisasi dalam arti mengejar ketertinggalan iptek dari Barat.

Persentuhan budaya dengan perkembangan Islam di Jawa yang melahirkan gerakan modernis ini secara langsung atau tidak langsung mendesak alam pikiran Jawa terutama hal-hal yang bersifat mitologis, magis, dan mistis.

Desakan ini mengena pada bentuk Islam tradisional yang berbasis di pesantren-pesantren dan tarekat-tarekat, juga mengena pada berbagai macam aliran kebatinan di Jawa dan penulis hanya membahas benturan antara Islam (dalam hal ini modernisme Islam) dengan aliran kebatinan/aliran kepercayaan pada masa Orde Baru. Sebagai latar belakang penulis membahas perbenturan antara Islam dengan kebatinan sejak masa pergerakan nasional. Karena secara legal formal gerakan-gerakan modernis Islam lahir pada masa ini yaitu periode 1900-1942. Menurut Simuh secara organisasional kelompok-kelompok kebatinan atau kejawen lahir mulai masa pergerakan nasional. Menurut Soedjatmoko aliran-aliran kebatinan atau kejawen mulai diorganisir rapi sejak masa pergerakan kebangsaan.

Dalam benturan-benturan di lapangan, misalnya perdebatan lisan sulit dideteksi dan diidentifikasi, apakah ini perdebatan antara modernisme Islam dengan aliran kepercayaan ataukah antara modernisme Islam dengan tradisionalisme Islam. Sejak masuknya agama Islam ke Indonesia pertentangan di antara umat Islam –yang menurut Hamka “Islam Sunni” – dengan gerakan kebatinan itu sudah ada. Perbenturan kemudian antara Islam dengan kebatinan terjadi sejak beralihnya pusat kerajaan Jawa Islam dari Demak ke Pajang. Sunan Kudus pernah menjatuhkan hukuman mati kepada Ki Kebo Kenongo, penyebar gerakan kebatinan, lalu anaknya yaitu Adiwijoyo atau Jaka Tingkir atau Mas Karebet ingin menuntut balas. Adiwijoyo berhasil menjadi raja Pajang dan memindahkan pusat kerajaan Jawa dari Demak ke Pajang. Sejak masa Pajang inilah dicari persesuaiaan dengan warisan budaya Jawa lama dan Islam. Islam diterima, tetapi hendaknya ‘dijawakan’. Sejak masa Pajang inilah populernya sebutan Kejawen.

Perbenturan berikutnya antara Islam dan kebatinan terjadi pada abad ke-18 atau lebih tepatnya pada masa kekuasaan Amangkurat IV (1719-1726) dan putranya Pakubuwana II (1726-1749), yaitu antara Ketib Anom Kudus mewakili kalangan Islam dengan Haji Mutamakim yang divonis hukum bakar di tiang gantungan karena mengajarkan ajaran Kasunyatan dan menganjurkan meninggalkan Syari’ah (hukum Islam).

Perbenturan kemudian terjadi pada Perang Padri pada abad ke-19 di Sumatera Barat kalau kita memakai definisi ‘aliran kepercayaan sama dengan sinkretisme Islam’. Hamka mengatakan bahwa sinkretisme Islam juga ada di Sumatera Barat dan di seluruh daerah di Indonesia, tetapi yang paling kental di Jawa. Sinkretisme Islam di Sumatra Barat merasuk ke dalam sifat keberagaman kaum tradisional Islam dan kaum adat. Tetapi penulis tidak akan membahas hal itu karena sulit sekali untuk mengatakan bahwa sistem adat di seluruh Indonesia itu berlawanan dengan Islam. Hal ini terletak di luar maksud tulisan ini, lagipula oleh berbedanya sistem adat yang satu dengan yang lain, penilaian sedemikian meminta tenaga dan pemikiran khusus pula. Dan juga sulit sekali membedakan antara kaum adat dengan kaum tradisionalis Islam, apalagi mengatakan bahwa kaum adat adalah penganut aliran kepercayaan. Sehingga penulis tidak bisa mengatakan bahwa konflik yang terjadi di sana adalah konflik antara Islam dengan aliran kepercayaan.

Berbeda halnya dengan keadaan di Jawa. Ada pembagian tertentu dalam kalangan masyarakat yang masih berlaku hingga kini, dan yang menunjukkan adanya perbedaan cara hidup antara golongan yang sama-sama beragama Islam itu. Pembagian ini ialah penggolongan antara abangan dan putihan. Putihan ialah mereka yang taat beragama. Abangan adalah mereka yang namanya saja beragama Islam, yang kurang memperhatikan kewajiban-kewajiban berupa ibadah, dan membatasi pada peristiwa-peristiwa penting belaka dalam hidup, yaitu pada waktu lahir, akil baligh (waktu bersunat), kawin, dan mati. Pada peristiwa-peristiwa ini nampak sekali hasrat mereka akan agama, dan pergilah mereka meminta pertolongan golongan putihan untuk menunaikan kewajiban atau pun upacara-upacara yang bersangkutan dengannya.

Pembedaan antara putihan dan abangan ini di Jawa pada akhir abad ke-19 tidak mengandung sifat perselisihan. Pembedaan antara putihan dan abangan di Jawa pada permulaan abad ke-20 hanyalah merupakan pembedaan yang menunjukkan tebal tipisnya ketaatan seseorang terhadap Islam. Dalam perasaan dan sebutan semuanya menyebutkan diri mereka orang Islam, wong selam.

Memang benar dapat dikatakan bahwa Islam merupakan lapisan yang tipis belaka dalam hidup kebanyakan pengikutnya di Indonesia terutama pada permulaan abad ke-20. Pada masa itu ukuran-ukuran yang dipakai untuk menilai tebal tipisnya ketaatan seseorang dalam beragama tidaklah tinggi, misalnya mengaku Islam dan tidak makan babi dan akan dianggap sangat soleh kalau orang rajin shalat lima waktu walaupun ia banyak juga melanggar larangan agama.

Penulis memberi porsi yang cukup besar pada masa pergerakan nasional sebagai latar belakang karena perbenturan antara Islam dan kebatinan cukup terlihat yang refleksinya menjadi suatu gerakan pada masa Orde Baru. Sementara pada masa demokrasi terpimpin para pengikut aliran kepercayaan banyak yang menjadi anggota PKI dan beberapa partai lain. Debat antara pengikut aliran kepercayaan dengan anggota partai Islam masih berlangsung, tetapi menjadi sulit dibedakan antara debat agama dengan debat politik. Masalah perselisihan antara aliran kepercayaan dengan Islam ini menjadi panas kembali pada masa Orde Baru.

Pada masa Orde Baru Presiden Soeharto sejak awal menjalankan suatu model kepemimpinan yang sangat khas yakni perpaduan dari: (1) Cara berpikirnya yang sangat Jawa; (2) Kapabilitasnya yang tak terbantahkan sebagai seorang perwira militer yang cakap dan kaya pengalaman lapangan; (3) Kecanggihannya sebagai aktor politik dalam melakukan manajemen kekuasaan.

Keunikan interaksi islam dan budaya jawa

Dari uraian selintas di bagian depan, terbayang bahwa tidak ada benturan yang berarti antara Islam dan budaya Jawa. Bahkan antara kedua belah pihak nampak saling mendukung dan saling membutuhkan. Para penyebar Islam yang umumnya dipimpin para sufi tidak punya ilmu untuk memerintah dan tidak ingin merebut pemerintahan dari tangan raja-raja Jawa.

Mereka hanya membutuhkan perlindungan ataupun bantuan dari pemerintah. Demikian pula para raja-raja Jawa sangat membutuhkan dukungan umat Islam yang sejak akhir kerajaan Majapahit telah merupakan kekuatan yang nyata. Bagi masyarakat pesantren, agama adalah nilai nomor satu dan segalanya; sebaliknya para penguasa dan pendukung sastra budaya Jawa, kedudukan dan kekuasaan politik yang nomor satu dan segalanya.



Bagi pendukung sastra budaya Kejawen yang berpusat dilingkungan kerajaan-kerajaan Jawa di Daerah pedalaman, agama adalah nomor dua. Agama apa saja tidak masalah asal bisa dimanfaatkan untuk memperkokoh kedudukan dan kekuasaan politik mereka. Maka sesudah Sultan Agung berhasil mematahkan kesultanan pesisiran yang mendapat dukungan masyarakat pesantren, segera menyadari perlunya menetapkan strategi budaya untuk menghubungkan dua lingkungan budaya. Yakni lingkungan budaya pesantren dengan sastra budaya agama yang berbahasa Arab; dan lingkungan budaya Kejawen dengan sastra budaya Jawa yang berpusat dalam lingkungan istana kerajaan-kerajaan Jawa. Strategi untuk dan membaurkan unsur-unsur Islam dalam budaya Jawa yang berpusat dalam budaya Jawa dimulai dengan mengganti perhitungan tahun Saka yang berdasar perjalanan matahari, menjadi perhitungan tahun Jawa yang berdasar perjalanan bulan, dan disesuaikan dengan perhitungan tahun Hijriyah. Mingguan Hijriyah yang terdiri dari tujuh hari, diintegrasikan dengan Mingguan Jawa yang terdiri dari lima harian, menjadi Senen Wage, Selasa Kliwon, dan seterusnya. Demikian nama bulan-bulan Jawa disesuaikan dengan nama bulan Hijriyah, menjadi Sura, Mulud, dan seterusnya.

Strategi yang dicanangkan Sultan Agung diatas ternyata menggairahkan para sastrawan Kejawen untuk menekuni pokok-pokok ajaran Islam untuk menyusun karya-karya baru dengan menyadap dan mengolah unsur-unsur ajaran Islam untuk memperkaya pengembangan sastra Jawa. Dari ketekunan ini para sastrawan Jawa segera mengenal bahwa ajaran Islam telah berkembang cukup komplek. Dari aspek syariat formal yang sering mereka nilai kaku dan formalis legalis, ternyata juga memiliki aspek ajaran filsafat sufisme yang amat halus dan kaya-raya. Dan kemudian aspek filsafat mistik sufisme yang sangat menarik perhatian mereka, mereka sadap dan mereka olah untuk memperhalus dan memperkaya sastra budaya Jawa. Maka muncullah berbagai macam sastra suluk Jawa yang dituangkan dalam sekar macapatan, semisal "Suluk Quthub", "Suluk Sukma Lelana", "Suluk Seh Amongraga", dan lain-lainnya. Cerita-cerita serat babad, seperti "Babad Demak", "Babad


Tanah Jawa", "Babad Tapel Adam", dan lain-lainnya, baik berbentuk prosa (gancar) ataupun puisi (sekar macapat), "Serat Centhini", dan lain-lainnya, yang umumnya diungkap dalam sekar macapat.

Kemudian dalam masa kebangkitan dan pembaharuan bahasa dan sastra Jawa halus pada zaman krida Kapujanggan Surakarta, pertumbuhan bahasa dan Sastra Jawa Baru mencapai puncak kesuburan dan keagungannya. Zaman itulah kelahiran bahasa dan sastra jawa baru atau Klasik. Yakni pada zaman sesudah pemerintah kolonial Belanda dengan tipu dayanya berhasil memecah kerajaan Mataram jadi tiga negara gurem, Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran. Dalam perpecahan itu melalui palihan negara inilah Belanda berpura-pura jadi penengah untuk menelanjangi seluruh kekuasaan sosial-politik dan pemerintahan raja-raja Jawa. Maka sejak masa perpecahan itu, walaupun para raja masih dibolehkan memakai sebutan Sunan atau Sultan, namun pada hakekatnya tinggal sebagai pensiunan pegawai pemerintah kolonial Belanda semata. Dan karena uang pensiun para raja waktu itu cukup lumayan, maka sebagai kompensasi diangkatlah para pujangga istana untuk mempertahankan wibawa dan kebesaran para raja dan keluarganya melalui karya sastra.

Maka timbullah kebangkitan dan pembauran sastra-sastra Jawa kuna digubah kembali dalam sastra Jawa baru dan diperhalus dengan unsur-unsur dari ajaran sufisme dalam Islam. Dari krida para pujangga dan sastrawan itulah mencuatnya sastra Jawa Baru sebagai puncak kebesaran sastra Jawa. Dikatakan puncak kebesaran sastra Jawa karena pada akhir zaman kapujanggaan bermulalah zaman baru (zaman ilmiah) dan dominasi bahasa Indonesia. Yakni zaman munculnya era Pujangga Baru yang meneriakan sastra budaya yang rasional, bukan zaman mistik lagi.

Jadi dalam konpensasi untuk mempertahankan wibawa raja-raja Jawa melalui karya sastra masa itu, para pujangga menggubah sastra-sastra Jawa kuna dan dibumbui dengan sadapan dan olahan unsur-unsur Islam Sufi dalam karyanya, agar karyanya bisa diterima baik masyarakat pesantren ataupun Kejawen. Kerja para sastrawan Kejawen sangat berjasa dalam pengislaman sastra dan bahasa Jawa. Maka bahasa dan sastra Jawa baru semacam "Serat Centhini", "Serat Wedhatama", "Serat Wulangreh", "Serat Sanasunu", "Babad Tanah Jawi", "Babad Demak", "Serat Ambiya", "Serat Menak Jayengrana", "Serat Paramayoga", "Wirid Hidayat Jati", berbagai macam sastra suluk, dan lain-lainnya, sangat berjasa dalam membuka dan mendekatkan hati masyarakat dengan pesantren yang sangat tertarik dan sangat bangga dengan dongeng Walisanga, karya dalam cerita Babad Tanah Jawa, Babad Demak, yang sebenarnya hanya cerita-cerita rekaan para sastrawan Kejawen. Bahkan hingga dewasa ini para kiai belum bisa membedakan antara sejarah dengan cerita-cerita dongeng Walisanga bikinan para sastrawan zaman Mataram di atas, apalagi masyarakat akar rumputnya. Pengaruh sufisme memang sangat menghambat pertumbuhan cara berfikir ilmiah.

Zaman penyebaran Islam ke Indonesia memang zaman dominasi Islam Sufi, yang ditandai dengan kebangkrutan dan kemunduran cara berfikir ilmiah di mana muncul pemeo bahwa pintu ijtihad telah ditutup, yang berarti tidak ada mujtahid lagi. Jadi para Kiai penyebar agama


Islam di Jawa di samping sangat sibuk mengkaji kitab-kitab kuning, juga kurang mengerti tentang masalah strategi kebudayaan. Bagi para Kiai pengikut tarekat yang penting adalah menyiarkan agama dan mengajar mengaji. Sebaliknya para sastrawan dan pujangga Kejawen, mereka ini harus berkarya, dan untuk mengembangkan sastra kejawen masa itu (zaman Islam) di samping dengan mengubah cerita-cerita Jawa Kuna, perlu pula diperkaya dan diperhalus dengan menyadap dan mengolah unsur-unsur Islam di samping pelaksanaannya strategi kebudayaan, juga merupakan sumber bahan-bahan baru bagi karya-karya mereka. Strategi ini bisa dipandang sebagai peng-Islam-an warisan sastra Jawa agar dapat dipasarkan di lingkungan masyarakat pesantren.

Usaha ini berhasil mencuatkan perkembangan sastra Jawa Baru, di mana bahasa dan sastra Jawa menjadi semakin bergaya feodal dengan menciptakan bahasa Jawa ngoko (untuk klas rendahan), kromo untuk (menghormati orang-orang tua), dan kromo inggil (untuk menghormati klas priyayi). Penciptaan cerita mitos tentang Walisanga di atas, oleh para pujangga Kejawen berhasil pula menyodorkan mitologi Walisanga, sekaligus menyodorkan proses peralihan zaman, dari zaman Kabudan (zaman Majapahit, Hindu) ke zaman Kewalen (zaman Islam). Maka pada zaman Kewalen (zaman Islam), apabila ada priyayi atau orang bertapa yang memberi wangsit (wahyu) bukan dewa lagi, tetapi Sunan Kalijaga (Wali).

Wayang yang ceritanya bersumber dari serat Mahabarata dan Ramayana yang jelas-jelas Hinduisme saja dicoba untuk di-Islamkan. Misalnya dikatakan bahwa wayang itu bikinan para Wali, dan bahwa raja Ngamarta punya azimat yang sangat keramat, yaitu serat Kalimasada (Kalimat Syahadat). Lebih aneh lagi cerita dalam Serat Paramayoga karya Ranggawarsita. Di dalam serat ini diceritakan bahwa Iblis punya anak perempuan bernama Dajlah. Pada suatu ketika Dajlah disulap oleh Iblis, punya rupa seperti isteri nabi Sis, putra Nabi Adam. Kemudian isteri Nabi Sis disembunyikan Iblis, dan Dajlah bisa tidur bersama dengan Nabi Sis hingga mengandung, dan punya anak laki-laki dinamakan Sayid Anwar (berupa cahaya).

Karena Sayid Anwar punya darah Iblis, maka tidak patuh pada ayahnya, pergi mengembara ke Timur atau India, dan menurunkan para Dewa dalam Hinduisme (dalam cerita wayang).

Dengan cerita itu diterangkan bahwa para raja Jawa punya silsilah alur kekanan keturunan Nabi-nabi dalam Islam, sedang alur kekiri keturunan Dewa-dewa Hindu. Cerita ini adalah contoh kompensasi untuk mempertahankan wibawa raja-raja Jawa melalui karya sastra sesudah kekuasaannya ditelanjangi pemerintah kolonial Belanda.


Contoh lain misalnya dalam Wedhatama mangkunegara IV mengatakan:

Nulada laku utama / tumraping wong Tanah Jawi / wong Agung ing Ngeksi ganda / Panembahan Senapati / Kapati amarsudi / sudaning hawa lan nafsu / pinesu tapa brata / tanapi ing siang ratri / amamangun karyenak tyasing sasama // Wikan Mengkoning samodra / kederan wus den ideri / kinemat kamot ing driya / rinegem sagegem dadi / dumadya angratoni / nenggih Kangjeng Ratu Kidul / ndedel nggayuh nggegana / umarak marek maripih / sor parabawa lan Wong Agung Ngeksiganda // Prajanjine abipraya / saturan-turune wuri / mangkono trahing ngawirya / yen amasah mesu


budi / dumadya Glis dumugi / iya ing sakarsanipun / wong Agung Ngeksiganda / nugrahane prapteng mangkin / trah-tumareh darabe padha wibawa //


Artinya :

Bagi orang Jawa, contohlah laku yang luhur dari raja Mataram, Panembahan Senapati. Beliau ahli tapa brata, suka bertarak mengendalikan hawa-nafsu, yang dilakukan siang dan malam. Beliau suka menyenangkan hati sesama.

Panembahan Senapati telah menguasai rahasia apa yang ada di darat dan lautan telah tercakup dalam kalbu beliau. Maka Nyai Rara Kidul yang merajai segala makhluk halus di laut selatan tunduk di bawah kebesaran Panembahan Senapati, dan berjanji akan menjaga dan melindungi raja-raja keturunan Sang Panembahan.

Itulah Sang Panembahan yang memang keturunan priyayi luhur, bila menjalankan laku prihatin tentu segera terkabul segala keinginannya. Dan barakahnya mensawabi keturunan-keturunannya.